06 : Belanja bareng

1960 Kata
Keduanya telah sampai di salah satu supermarket, niat awalnya yang utama adalah membeli bahan makanan supaya Flo bisa masak di rumah. "Kamu beneran bisa masak kan?" Tanya Rendy sambil mengambil satu troly dari tempatnya. Flo menyipit melihat Rendy, kenapa pertanyaan cowok ini terdengar sangat meremehkannya? Ah, sabar Flo. "Bisa kok." Jawab Flo. Flo lalu mengambil alih troly yang dipegang Rendy. Kan nggak sopan. Masak yang mau belanja dia yang pegang troly Rendy lagi pula dia juga sudah di antar apa iya mau di kawal juga? "Mas Rendy tunggu di mobil aja nggak apa-apa kok." "Saya juga mau beli sesuatu, sekalian. Cepet!" Kata Rendy lalu berjalan mendahului Flo. Flo cengo dalam beberapa detik, lalu mengubah wajahnya dengan senyum lebar. Berjalan di tempat perbumbuan Flo mengambil beberapa saus yang diperlukan saus tiram, sampai kecap ikan. Nggak apa-apa dilengkapi sekalian pikir Flo. Rendy memendekkan langkah kakinya, matanya meneliti benda-benda di dalam troly. Baru dunia pertepungan serta beberapa saus yang dimasukkan bocah itu ke dalam trolynya. Pikir Rendy. "Beli sayur sekalian kan?" Tanya Rendy. "Sebenarnya kalau beli sayur sama bahan pokok lain, bukannya mendingan di pasar aja nggak sih Mas?" Tanya Flo. "Iya, tapi udah di sini, sekalian beli sana." Rendy mendorong pelan troly, membuat Flo ikut maju. Akhirnya Flo memutuskan membeli beberapa sayur dengan porsi sedikit. Nanti kalau habis biar bisa pergi ke pasar saja. Rendy mengamati cewek mungil yang merupakan adik sahabatnya itu. Flo yang terlihat mungil di mata Rendy itu masih memilih sayur mana yang akan dia masukkan ke dalam troly. Rendy lalu menghampirinya, sambil membawa satu set daging ayam bagian paha dan d**a di tangannya. Ia memasukkan ke dalam troly, lalu mengambil salah satu dari dua sayur sawi yang ada di tangan Flo. "Lho?!" Flo melirik kurang setuju. "Sama saja, nanti juga langsung kamu masak kan?" Tanya Rendy. "Iya sih." Flo akhirnya pasrah. "Ini apa?" Tanya Flo menunjuk ayam mentah yang ada di dalam troly, seingatnya dia nggak memasukkan daging dan semacamnya. Dia ingat harus hemat. "Daging ayam." Jawab Rendy, tangannya lalu menarik troly agar berjalan lagi. Sambil melewati rak sayur tangannya mengambil beberapa sayuran yang diperlukan. "Aku tadi nggak masukkin." Ucap Flo. "Memang saya yang taruh situ." Flo lalu hanya mengangguk mengerti. "Kamu butuh apalagi?" Tanya Rendy, badanya memutar melihat Flo. Flo menggeleng sambil mengatakan enggak. "Ini?" Rendy menunjuk sesuatu. Flo mengikuti jari telunjuk cowok itu yang bergerak naik turun, aduh bikin salah tingkah saja. Gimana nggak salah tingkah, Rendy menunjuk rak bagian pembalut serta produk lain yang berhubungan dengan kewanitaan. Flo secara tidak sadar memelototokan matanya lalu menggeleng. "Yakin? Mumpung disini sekalian." Rendy memastikan. "Kamu beli itu saya juga nggak masalah." Ia lalu berlalu mendahului Flo. Flo mengamati perginya cowok itu lalu menyusulnya, sepertinya juga dia tidak perlu, tunggu bukannya tidak perlu. Tapi lebih ke belum butuh untuk membeli pembalut. Dia sudah membawa stok dari rumahnya sebelum pindah ke tempat Rendy. Lagi pula Flo hanya butuh pembalut sekali pakai sedikit, hanya ia gunakan jika sedang dalam keadaan urgent. Selebihnya dia menggunakan menspad yang bisa digunakan berulang kali. Sehat, hemat juga pikir Flo. Flo menyusul Rendi menuju kasir, berdiri di belakang Rendi sambil menunggu antrean satu orang di depannya. Sekitar lima belas detik Flo dan Rendy sudah bisa melakukan pembayaran ke kasir. "Ada tambahan lain Kak?" Tanya kasir melihat ke arah Rendy. Rendy lalu menolehkan kepalanya ke Flo. "Kamu nggak jadi beli pembalut?" Tanya Rendy Flo melotot lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Udah Mbak itu aja." Kata Flo kepada kasir. Di luar Flo mencoba bersikap tenang, padahal hatinya sudah nggak karuan karena malu. "Totalnya Empat ratus delapan puluh lima ribu rupiah Kak." Kasir tersebut menyebutkan total belanja di layar dan menyobek struk yang keluar dari print. "Ini mbak." Flo menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan. "Pakai ini aja mbak." Rendy mengangsurkan kartu kreditnya kepada kasir, lalu mengambil uang Flo dan ia masukkan ke saku celananya. Kasir wanita tersebut tersenyum, tentunya merupakan senyuman akward, lalu mengambil kartu kredit dari tangan Rendy dan menggeseknya. Di belakang Rendy Flo bertanya-tanya, apa maksud cowok di depannya ini. "Ini Kak, Terimakasih." Rendy mengangkat satu plastik besar menyisakan plastik kecil yang otomatis dengan tanggap Flo mengambilnya. Keduanya masih berjalan dalam bungkam sampai menuju parkiran dan menaiki mobil. Sampai pada akhirnya di tengah-tengah perjalanan pulang yang diam itu Rendy menyodorkan uang kepada Flo. Lima lembar uang seratus ribuan, jumlah yang sama untuk Flo gunakan membayar cash di kasir tadi. Karena tidak kunjung di sambut akhirnya Rendy meletakkan di paha cewek itu. "Sorry nggak sopan." Kata Rendy. "Tangan saya pegel." Lanjutnya. "Ini uang yang tadi mau aku buat bayar ya Mas?"Flo menoleh kepada Rendy meminta jawaban. Rendy mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Flo. "Kan sudah benar seharusnya tadi Mas Rendy pegang, kenapa harus di kasih aku lagi?" "Belanja kali ini biar saya yang bayar. " kata Rendy Flo memalingkan pandangan, duh, jadi nggak enak lagi. Sudah berkali-kali Flo selalu merasa nggak enak kepada Rendy. Tapi memang harusnya juga begitu karena mereka juga bukan siapa-siapa. Wajar kalau Flo punya rasa sungkan. "Nggak bisa gitu Mas, itu semua tadi kebutuhan aku." Kata Flo, ia lalu meletakkan uang tersebut di dasbor mobil. "Ambil lagi." Kata Rendy. "Aku nggak mau ngrepotin terus." Ucap Flo. "Anggap aja saya kasih kamu uang karena sudah bersihin rumah saya. Berkat kamu jadi kelihatan seperti rumah." Flo terdiam, tapi memang di waktu kedatangannya Flo membersihkan rumah Rendy yang sudah seperti rumah kosong itu. Lumayan banyak debu dan juga perabotan yang sedikit berantakan. Flo hanya membereskannya sedikit. "Aku kan juga tinggal di situ juga." "Saya juga tinggal di situ makannya belanja bahan makanan karena saya juga perlu makan. Ambil, besok-besok saya nggak bayarin kamu lagi." Kata Rendy, ia menggeser uang itu lebih dekat ke arah Flo. Flo menipiskan bibirnya, lalu tangannya perlahan mengambil uang itu kembali "Makasih." Kata Flo. "Iya." Setelah itu perjalanan pulang mereka kembali di selimut sunyi seperti sebelumnya. Flo yang sibuk memikirkan rasa sungkannya kepada Rendy. Sedangkan dilihatnya cowok itu hanya bersikap seperti biasa, terlihat cuek dan dingin. *** Rendy merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Dua matanya berkedip-kedip melihat langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Tubuhnya pegal sekali setelah kemarin mengurus pekerjaan. Pulang mengantarkan Flo belanja tadi dia langsung menuju lantai atas, membiarkan Flo membereskan belanjaan dan menatanya seorang diri. Rendy menggelenhkan kepalanya pelan, sedikit mengantuk, matanya bergerak mencari jam dinding untuk melihat jam. Jam setengah empat. Sudah lewat waktu ashar. Dan dia belum menunaikan kewajibannya. Rendy lalu bangkit dari tidurnya untuk melaksanakan kewajiban. Memang rencana dan keinginannya untuk tidur siang di rumah akan selalu tertunda. Menuruni anak tangga Rendy masih melihat Flo yang menata bahan makanan ke dalam kulkas. Lama sekali batin Rendy bersuara. Alih-alih bertanya apakah Flo sudah menyelesaikan pekerjaannya atau belum, Rendy hanya mengintip sekejap mata. Dilihatnya cewek itu masih sibuk menaruh sayuran di kulkas. Rendy hanya berlalu, melanjutkan langkahnya menuju kan air di belakang rumah. Sebenarnya di kamarnya ada kamar mandi, tapi Rendy hanya pernah menggunakannya sekali, seterusnya kamar mandi itu hanya berfungsi di bagian wastafel saja. Dan sepertinya karena faktor tidak pernah di pakai itu membuat salah satu komponen kerannya rusak atau bagaiman Rendy juga nggak tau. Yang dia tau saat tadi akan mengulirkan kran air, alirannya tidak lancar, Tersendat-sendat. Jadilah dia memutuskan untuk turun. Flo sendiri sadar kalau Rendy turun dari lantai atas menuju lantai bawah. Tapi ya dia kura-kura dalam perahu saja, alias pura-pura nggak tau. Lagi pun cowok tadi nggak menyapanya jadi Flo juga agak nggak berani mau sok nyapa duluan. Flo berjalan mundur dengan pelan, melihat apa yang dilakukan cowok itu di belakang rumah. Tapi nggak kelihatan. Sampai akhirnya suara pintu terbuka membuat Flo kaget dan buru-buru kembali ke depan kulkas yang pintunya masih terbuka, dia sok sibuk saja memberesi plastik bekas sayuran di bawah. "Flo?" Rendy memanggil. "Iya, ada apa?" Duh menggantung sekali. Jujur Flo sedikit sungkan memakai kata 'Mas' untuk memanggil Rendy. Tapi ya bagaimana. "Kalau nggak lagi libur jangan lupa shalat." Kata Rendy lalu berlalu begitu saja, tidak berniat menunggu jawaban dari Flo. Flo diam, tapi sedikit kaget karena kenyataanya di memang belum menunaikan kewajibannya. Dengan segera dia membereskan plastik secara acak tanpa menatanya dan meletakkannya di sudut dapur untuk sementara waktu. Flo berjalan menuju kamar mandi berniat mengerjakan apa yang di ingatkan Remdy tadi. *** Malam itu Flo setelah isya' Flo berniat membuat sesuatu, dia lapar setelah mengerjakan tugas kuliahnya. Di lihatnya di ruang santai ada sebuah buku terbuka di meja tanpa ada yang membaca. Sudah di pastikan itu milik Rendy, tapi Flo melewatinya tidak berniat menutup, barangkali kalau buku itu akan dibaca lagi dan hanya ditinggal sebentar. Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur. "Eh!" Tanpa sadar keterkejutan Flo membuatnya mengeluarkan suara. Terkejut melihat Rendy yang sepertinya akan memasak. Rendy sendiri nggak berniat bertanya dan hanya menengok sebentar ke arah Flo, lalu melanjutkan kegiatannya memotong sawi. "Mau masak Mas?" Tanya Flo berjalan mendekat dan berakhir menempel di dekat kulkas. "Iya." "Oh." Ya, hanya 'oh' yang bisa dikatakan Flo. Sepertinya acara masuknya harus menunggu Rendy kelar terlebih dahulu, sedikit melongokkan kepalanya Flo melihat dua bungkus mie instan yang sudah terbuka dan nggak tau mienya ada di mana. Kemungkinan besar sudah masuk ke dalam panci di atas kompor. Sepertinya kalau cuma masak mie instan nggak makan waktu begitu lama. Akhirnya Flo keluar dari area dapur sebelum akhirnya namanya dipanggil Rendy dan membuatnya berhenti. "Flo." Panggil Rendy pelan, tapi Flo masih bisa mendengarnya. "Kamu nggak ada niatan makan?" Tanya Rendy, sebenarnya sarkas karena tentu saja Flo pasti punya niat makan entah nanti atau kapan itu. "Ada, makannya tadi ke dapur tapi nunggu-" "Ambil mangkuk sendiri, makan ini aja sekalian." Kata Rendy sambil meniriskan mie dari panci. Flo mengedipkan matanya bingung, tapi tetap berjalan mendekat ke rak piring mengambil mangkuk dan sendok garpu. Rendy membawa mie instan berkuah yang sudah matang itu di meja makan kecil dengan tiga kursi berwarna coklat. Flo mengikuti dari belakang, persis seperti anak kecil yang mengikuti ibunya untuk di bagikan makanan. Setelah meletakkan mie kuah dengan asap mengepul itu Rendy kembali lagi mengambil mangkuk dan sendok garpu untuk dirinya sendiri. "Makan." Kata Rendy kepada Flo, dia mengambil lebih dahulu di mangkuknya lalu menggesernya ke Flo. "Makasih." Kata Flo, aduh canggung sekali. Baru kali ini Flo makan mie instan masakan orang lain, maksudnya orang yang nggak ada hubungan keluarga dengan dia. Kecuali mie instan di warmindo. Keduanya makan dalam diam sampai Rendy akhirnya terbatuk. Flo berdiri, berinisiatif mengambil air dan gelas di dapur. Lagi pula dia juga butuh minum. Satu botol air mineral dari kulkas sudah berpindah tempat di meja makan itu, Rendy dengan masih sedikit terbatuk menuangkan air untuk dirinya sendiri. "Makasih." Ucap Rendy pada Flo. "Iya." Kata Flo. Suasana kembali hening, hanya ada suara sruputan mie instan. Itu pun hanya Rendy. Flo dari tadi menjaga sedemikian rupa agar makannya tidak bersuara. Dia sudah sungkan pakai banget. Mulai dari tinggal di rumah Rendy, Dibayarin belanja, kali ini pakai acara dimasakin segala. Padahal Rendy nggak ada hubungan apa-apa dengan Flo kecuali satu fakta kalau Rendy itu teman dekat abangnya. Satu fakta lain yang membuat Flo makin sungkan dan segan kepada Rendy adalah cara bicaranya. Singkat, padat, dan seperti tidak berintonasi. Oh iya, jangan lupakan kalimat formal yanh selalu dipakai cowok itu, apalagi kata ganti 'saya' makin membuktikan kalau Rendy mau membuat jarak. Atau memang seperti itu cara berbicara Rendy Flo juga tidak tau menau. Yang membuat Flo tidak nyaman lagi adalah pikiran tentang Rendy kepadanya. Bagaimana kalau ternyata Flo itu beban, dan membuat kehidupan Rendy di rumah menjadi tidak bebas dan tidak nyaman? Flo takut dan merasa tidak nyaman. "Flo." Panggil Rendy di tengah kunyahannya. "Iya?" Flo mendongak. "Nggak apa-apa, cuma mau kasih tau, saya sama Fardan dekat banget. Fardan juga banyak bantuin saya waktu zaman masih sekolah dulu." Rendy mengangkat alisnya lalu menaruh mangkuk yang dari tadi ia pegang. "Habisin, saya nitip satu ya?" Pinta Rendy, ia lalu meninggalkan Flo sendirian bersama mie instan itu di meja makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN