07 : Diberi tumpangan

1762 Kata
Pagi itu Flo tiba-tiba saja mendapat pesan dari Gabriella bahwa jam kuliah salah satu dosennya di majukan. Ah, Flo jadi menyesal tidak membuka grup chat kelasnya tadi malam. Untungnya masih ada waktu sekitar tiga puluh menit untuk Flo bersiap-siap. Masih lumayan lama dari waktu keberangkatan. Tapi ya Flo kesal saja karena tidak mempersiapkan dirinya dari tadi malam. Setelah menata tasnya dan memasukkan tugasnya ke dalam map Flo keluar kamar untuk ke dapur, mencari makanan yang bisa dia makan untuk mengganjal perutnya. Dan seperti biasa di dapur sudah ada pemilik rumah yang memakai kaus panjang, masih sama dengan pakaian tadi malam. Kaus panjang biru dan celana training hitam, menandakan kalau Rendy belum mengguyur badannya dengan air alias belum mandi. "Sarapan Mas?" Tanya Flo. Setelah perkataan Rendy tadi malam, Flo mencoba akan bersikap lebih luwes. Dari point perkataan Rendy yang dapat Flo tangkap adalah Rendy dekat sekali dengan kakaknya dan artinya Rendy nggak keberatan tentang keberadaannya di rumah ini. "Iya." Jawab Rendy, seperti biasa singkat saja. "Kamu ada kelas?" Tanya Rendy pada Flo. "Iya, hari ini kelasnya maju jadi pagi." Ucap Flo. "Jam?" Tanya Rendy, lalu menyerahkan setangkup roti tawar yang sudah di beri selai kacang itu kepada Flo. Flo lalu menerimanya sambil mengucapkan terima kasih tentunya. "Jam berapa?" Tanya Rendy lagi. "Oh, nanti jam setengah delapan." Kata Flo. "Saya antar." Kata Rendy. "Eh, jangan mas nggak usah. Nanti bisa naik angkot kok, kalau nggak gitu naik ojek online." Flo buru-buru menolak. "Saya kasih tebengan. Sekalian ke tempat kerja." Kata Rendy. Flo lalu hanya mengangguk, mengucapkan terimakasih lagi atas roti yang diberikan dan pamit mau bersiap-siap. Rendy menatap kepergian adik temannya itu. Sebenarnya dia sedikit tidak nyaman dengan kehadiran orang baru di hidupnya. Tapi sejauh ini Flo tidak mengganggunya terlalu banyak, hanya saja kebiasaan bersih-bersih cewek itu yang menjadi hal baru baginya. Tapi itu membuat suatu positif dalam hidupnya. Rendy juga tau kalau Flo tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Intinya mereka berdua tidak nyaman satu sama lain. Tapi dia mencoba santai, mencoba untuk bersikap sewajarnya. Tapi sikap dinginnya saat bertemu orang baru tidak akan pernah bisa hilang kecuali dia benar-benar nyaman dengan orang tersebut. Untuk Flo Rendy sedikit melunak, Flo itu adik Fardan. Sahabat dekat yang selalu membantunya di keadaan apa saja, belum lagi fakta kalau Flo harus ditinggal kedua orang tuanya dalam kecelakaan dan tanggungan hutang membuat Rendy memang harus bersikap lunak. *** Setengah delapan sebenarnya masih kurang sepuluh menit lagi, tapi Rendy sudah mengeluarkan motornya dari bagasi dan memanaskannya. Dari dalam rumah Flo bisa mendengar suara deru mesin motor Rendy, ia pun bergegas mengambil tas dan mapnya lalu keluar dari rumah. "Kunci pintunya." Kata Rendy saat melihat Flo keluar dari pintu depan. Flo mengangguk lalu mengunci pintu dengan kunci cadangan yang diberikan Rendy kemarin. Setelahnya ia lalu menerima uluran helm dari Rendy dan duduk diam di jok belakang. Jarak rumah Rendy dengan kampus Flo memang dekat, tapi namanya Jakarta macetnya luar biasa. Untung Flo tidak berangkat mepet jam setengah delapan jadi dia rasa masih aman. "Mas Rendy nggak telat kan?" Tanya Flo di persimpangan lampu merah. Ia memastikan, takutnya cowok yang sedang memboncengnya ini telat kerja. Tapi dari tadi dia masih berpikir apa pekerjaan cowok itu. Berangkat kerja jam setengah delapan, setelan kerjanya juga nggak normal. Mana ada orang berangkat kerja pakai kaus? Ya walaupun bawahannya masih pakai celana kain. Kalau bekerja di kafe pun kenapa nggak pakai kaus atau kemeja dari tempat kerja? Atau memang tempat kerjanya tidak memberlakukan aturan seketat itu? "Nggak." Jawab Rendy Setelah melewati sekitar dua persimpangan lampu merah Rendy berhasil mengantar Flo di depan gedung kampusnya. Flo turun, menyerahkan helm dan nggak lupa mengucapkan kata terimakasih. "Makasih ya Mas, maaf ngrepotin." Kata Flo menunduk. "Iya." Rendy lalu mengaitkan helm yang tadi dikenakan Flo di tangannya dan melajukan motornya ke tempat kerja. Dia tidak berbohong kepada Flo, memang tujuannya adalah ke tempat kerjanya bukan hanya semata untuk mengantar Flo. *** Flo mempercepat langkahnya menuju ruang kelasnya. Gabriella seperti biasa sudah ada di dalam ruangan dengan satu tempat kosong di sebelahnya sebagai wadah tas. "Belum datang kan?" Tanya Flo lalu memindahkan tas Gabriella dan menduduki tempat kosong tersebut. "Aman, tugas lo nggak lupa kan?" Tanya Gabriella "Aman juga, ini di map." Flo mengangkat map berisi tugas miliknya yang dari tadi dia pegang. Sekitar satu menit kemudian dosen pengajar salah satu mata kuliah Flo sudah masuk ruang kelas. Dosen berumur banyak yang murah senyum itu masuk kelas sambil mengucap salam. Kelas di lanjut dengan absen serta pengumpulan tugas dan berakhir dengan tugas juga, walaupun hanya tugas diskusi kecil, tapi tetap saja tugas kan? "Pulang lo?" Tanya Gabriella pada Flo. "Gue mau mampir bentar ke Studio." Jawab Flo. "Radios?" Tanya Gabriella lagi, menyebut salah satu nama UKM. "Iya nih di suruh sama Dina nggak tau mau apa." "Mungkin ada kumpul sama anak baru? Ya udah deh buruan kalau gitu ke sana." Ella mendorong pelan tubuh Flo sambil tersenyum. "Iya duluan ya. Lo pulang hati-hati." Kata Flo lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Gabriella yang masih duduk di tempatnya. "Lo yang hati-hati. " teriak Gabriella pada sahabatnya itu. *** Flo membuka pelan pintu studio rekaman itu. Iya studio rekaman. Radios, nama UKM untuk siaran radio di kampus Flo. Flo sudah mengikuti UKM ini dari semester satu, walaupun awalnya dia nggak terlalu minat. Karena keikutsertaanya adalah karena paksaan dari dua temannya. Gabriella dan Dina yang notabenenya Dina juga menjadi salah satu anggota di UKM tersebut. "Assalamualaikum." Ucap Flo saat membuka pintu ruang siaran. Di sana dilihatnya sudah ada Dina dan dua orang seniornya serta dua orang lagi yang sepertinya angkatan di bawahnya. "Waalaikumsalam." Salam itu dijawab hampir oleh seluruh orang di dalam ruang itu. "Masuk Flo." Kata salah satu senior Flo. "Iya Kak." Flo lalu masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi alat elektronik itu, secara otomatis ia melangkah mendekat ke arah Dina. "Gue kira cuma lo aja." Bisik Flo saat sudah di samping Dina Dina hanya menengok kepada Flo tanpa mengatakan apapun, cewek yang beda jurusan sekaligus beda fakultas dengan Flo itu hanya memberikan selembar kertas kepada Flo. "Ini kakak-kakaknya udah datang. Kalau mau dijelasin sekarang nggak apa-apa kok." Dan ternyata di undangnya Flo di forum kecil itu adalah untuk membahas masalah kegiatan baru yang akan di lakukan juniornya. Yah, sebenarnya polanya sama saja sih mengundang orang dari fakultas lain untuk di ajak ngobrol bareng mengenai sebuah topik. Tapi bedanya angkatan dulu lebih mengutamakan mengundang orang berorientasi dan berpengaruh saja. Yah, sebut saja orang yang namanya sering sliweran di mading kampus. Flo terima-terima saja, malahan menerima dengan senang hati. Dengan begini keterbukaan informasi lebih luas, isi audio juga nggak akan seputar itu-itu aja yang biasa membahas masalah kampus dan seisinya. Akhirnya keputusan final dari forum itu adalah menyetujui gagasan baru para junior yang cemerlang itu. Flo pamit undur diri terlebih dahulu dengan alasan ada urusan. Padahal mah dia malas saja kalau nanti di ajak ngobrol panjang lebar sama Seniornya dan juga Dina. Flo lapar pakai banget. Berangkat jam setengah delapan tadi dia cuma makan setangkup roti tawar buatan Rendy. Sedangkan sekarang sudah menunjukkan pukul setengah dua. Setelah berhasil keluar dari studio itu Flo berjalan keluar area kampus. Berniat mencari makanan ringan di warung atau nggak pedagang kaki lima yang mangkal di sekitar gedung kampus. Paling nggak sedikit terganjal, jadi waktu masak nanti dia nggak terlalu kelaparan banget. Cewek itu berjalan di trotoar, mencari penjaja makanan yang kira-kira bisa menarik minatnya kali ini. Tapi bukannya memilih makanan kaki lima Flo malah terus lurus menuju untuk menuju minimarket. Entah kenapa dari banyak pedagang makanan di sana nggak ada yang menarik minat Flo. Ia akhirnya memilih berjalan lebih jauh lagi menuju minimarket, niatnya sih membeli sekotak s**u dan roti. 'TIIIIN!' Bunyi klakson yang nyaring di sertai suara decitan rem membuat Flo langsung mengalihkan pandangannya. Di depannya seorang anak kecil penjual tisu terjatuh karena hampir bersenggolan dengan motor yang memberi klakson tadi. Flo berlari, secepat mungkin menuju anak kecil yang ditinggalakn pengendara motor itu. Sedangkan banyak orang di sana hanya berteriak entah karena kaget atau meneriaki salah satu diantara mereka yang salah. "Dek nggak apa-apa?" Pertanyaan itu nggak cuma keluar dari mulut Flo. Tapi juga seorang cowok yang sekarang juga tengah berlutut di dekat anak laki-laki itu. Flo bersipandang dengan si cowok, hanya beberapa detik, detik berikutnya ia dan si cowok sibuk memunguti tisu yang jatuh begitu juga dengan anak laki-laki itu. "Ayo minggir ke sana." Kata cowok tadi menuntun anak laki-laki itu. Flo lalu ikut membantu anak kecil itu berdiri dan memegang dua tisu yag masih belum terambil. Lalu ketiganya menepi di trotoar jalan teduh. "Ada yang luka dek?" Tanya Flo. Anak itu hanya mengangguk, memberi tau kalau tidak ada yang terluka. "Ini apa?" Tangan cowok tadi menunjuk lutut bocah yang mengaku nggak terluka itu. Flo melongokkan kepala mengikuti arah tangan cowok itu, dan benqr saja luka baret menghiasi lutut bocah tersebut. "Lain kali kalau nyebrang hati-hati ya, liat kanan kiri dulu." Flo mengangguk, membenarkan ucapan si cowok untuk anak laki-laki itu. "Iya, kamu tunggu di sini dulu, kakak beliin hansaplast ya?" Kata Flo. "Eh, biar saya aja. Mbaknya tunggu sini." Cowok tersebut menghalangi Flo. "Saya aja mas nggak apa-apa kok sekalian mau beli sesuatu. Masnya tunggu di sini aja nggak apa-apa." Flo memang sekalian mau membeli s**u kotak dan roti, perutnya sudah sedikit rewel. Tapj ekspresi cowok tersebut seperti tidak yakin dan sedikit sungkan. "Nggak apa-apa kok santai aja." Kata Flo menenangkan lalu dia segera melangkahkan kakinya menuju minimarket yang hampir di depan mata itu. Flo mengambil dua kotak s**u uht dan satu minuman botol berperisa jeruk serta satu kotak roti, menuju kasir ia menanyakan hansaplast serta antiseptik untuk dibeli. Di pinggir trotoar itu bocah laki-laki penjual tisu tadi masih sibuk merapikan tisunya di kotak kardus yang ia jadikan tas. Cowok di sebelahnya membantu sambil sesekali menanyakan hal kecil. "Masih sekolah dek?" Tanya cowok itu "Iya masih." Jawab bocah itu dengan lantang. "Kok hari ini nggak masuk. Ini bukan hari minggu nggak mungkin kalau sekolahnya libur kan?" Tanya cowok itu. "Iya, aku sekolahnya di rumah sama kakak. Nah, nanti kalau kakak pulang dari sekolah aku sekolah di rumah sama kakak." Penjelasan polos dari bocah itu cukup menyayat hati. "Oh, kakak kamu sekolah apa? SD, SMP, SMA?" Tanya cowok itu lagi. "SMA kak, kakak aku pinter banget. Bisa ngajarin perkalian, pembagian, ngajarin aku nulis juga. Terus nanti kalau dia dapat duit dari jualan aku dibeliin buku. Hebat kan kakak aku." "Iya, hebat. Kamu nanti juga harus kayak kakak kamu." Kata cowok itu, tangannya juga bergerak mengacak pelan rambut hitam legam milik bocah laki-laki yang duduk di sampingnya. Sedangkan dari tadi Flo sudah ada di belakang dua orang itu sejak mereka mengobrol perkara sekolah. Ah, menyentuh sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN