"Hey, ini minum dulu." Flo menyerahkan satu kotak s**u kepada bocah itu, lalu dilanjutkan menyerahkan minuman rasa jeruk itu kepada cowok tadi.
"Kakak kasih ini ya?" Flo memperlihatkan alkohol dan hansaplast pada bocah itu, lalu dibalas dengan anggukan.
Flo lalu mengambil tisu dari dalam tasnya, seharusnya pakai kapas, tapi sayang kalau beli lagi sisanya mau buat apa.
Desahan kecil karena rasa perih mulai terdengar samar dari mulut bocah itu.
"Maaf ya bentar lagi selesai." Flo lalu buru-buru menyudahi membersihkan luka itu dengan alkohol setelah di rasa bersih, ia lalu lanjut menempelkan hansaplast pada lutut bocah itu.
"Selesai, itu minum aja." Kata Flo pada dua orang yang masih belum membuka minumannya.
"Makasih kak."
"Thanks, mbak."
Dua orang laki-laki itu berbicara bersama membuat Flo tertawa kecil dan mengangguk. Ia lalu mengeluarkan s**u kotaknya dan ikut meminumnya.
"Nama aku Aldo, kalau nama kakak siapa?" Tanya bocah yang memperkenalkan diri sebagai Aldo itu kepada Flo.
"Florista." Jawab Flo.
"Kalau kakak?" Aldo kembali bertanya kepada cowok di sebelahnya.
"Kevin."
"Oh, gitu. Semoga kita nanti ketemu lagi ya kak. Makasih udah nolongin aku. Kak Florista makasih juga udah dibeliin ini." Bocah itu mengangkat s**u kotak pemberian Florista.
"Iya, sama-sama." Ucap Flo.
"Makasih ya Kak kevin juga. Aku mau lanjut habis itu pulang dadah."
Aldo melambaikan tangan kepadanya dua orang yang lebih dewasa dari dia.
"Makasih ya, mbak." Kata cowok itu. Kevin namanya.
"Iya, nggak usah panggil mbak. Kayaknya kita seumuran."
"Oh, ya? Btw mahasiswi sini?" Tanya Kevin.
"Iya."
"Gue juga. Anak mana?" Tanya Kevin lagi.
"Manajemen bisnis. Lo juga kuliah di sini?" Tanya Flo.
"Iya kebetulan."
"Kebetulan?"
"Iya kebetulan kuliah di sini, satu fakultas juga sama lo."
Flo memandang ke arah cowok yang ia ketahui bernama Kevin itu. Dia baru tau ada orang bernama Kevin di fakultasnya. jelas juga baru tahu yang menggunakan fakultas itu bukan hanya satu dua orang bukan?
***
Flo berhasil pulang ke rumah saat jam dinding di rumah menunjuk tepat pada pukul dua. Dia tadi di trotoar sudah sempat memakan roti yang ia beli di minimarket tadi, lumayanlah mengganjal lapar. Sekarang tinggal memasak makanan untuk di makan nanti malam.
Niat awalnya sih dia mau menanak nasi terlebih dahulu. Tapi ternyata setelah melihat magic jar di dalamnya sudah ada nasi yang matang, stop kontaknya masih tertancap ke aliran listrik. Flo memcabutnya, saat dibuka asap mengepul dari dalam, pikirnya sejak kapan nasi ini di masak?
Flo lalu memilih untuk mengambil bahan untuk di masak dari dalam kulkas. Kemarin yang dia beli hanya sayuran, ada sih udang dan ikan tapi punya Rendy apa iya boleh di masak? Flo tau diri, akhirnya ia memutuskan untuk memasak sawi hijau dari kulkas.
Pukul tiga tepat Flo menyelesaikan acara memasaknya. Ya, karena acaranya nggak pure memasak. Dia memutuskan merapikan dapur yang terlihat sedikit mengenaskan itu, ia pel lantai dan juga mengelap sudut-sudut rak tempat perabotan. Matanya sedikit membaik melihat dapur itu.
Saat itu juga ia mendengar suara motor dari luar, menghentikan pekerjaannya Flo lalu berlari kecil melihat dari dalam jendela siapa orang bermotor itu. Dari motor matic warna abu-abu itu Flo sedikit menebak, apalah Rendy? Karena motornya sama dengan milik cowok itu. Dan memang benar, saat pengendara motor itu melepas helm memang benar itu Rendy. Flo segera menjauh dari jendela, menuju dapur lagi bersikap seolah tidak tau apa-apa mengenai kedatangan cowok itu.
Menyibukkan diri dengan cucian bekas memasak Flo mendengar suara salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Flo menjawab, pelan sekali. Sengaja biar tidak terdengar.
"Flo udah pulang?" Tanya Rendy saat menyadari keberadaan Flo di dapur.
"Eh, udah nih, Mas. Tadi cuma satu matkul." Jawab Flo, lalu ia tersenyum kecil di bareng dengan Rendy yang hanya mengangguk-angguk lalu naik ke lantai atas.
Flo jadi berpikir lagi, kerjaan apa yang jam segini sudah boleh pulang? Fleksibel sekali jam kerjanya.
***
Sore itu Rendy memang sengaja pulang. Sebenarnya dia memang akan sering pulang ke rumah karena jujur saja rumah yang sering ia jadikan tempat tidur sedang dalam masa renovasi.
Ya, tempat kerjanya sedang dalam masa renovasi. Tapi juga nggak ada masalah dan gangguan dengan pekerjaannya, masalah pekerjaan masih berjalan dengan aman. Kalau ditanya apa kerjanya seorang Rendy? Bolehkah dia menjawab CEO? Atau dijawab pebisnis saja?
EspresO, salah satu kafe di Jakarta yang Alhamdulillah adalah kafe milik Rendy. Dan kebetulan juga sudah ada satu cabang lain di Bandung. Jadi simpelnya Rendy cuma pebisnis atau paling simpelnya orang yang punya kafe ya begitulah.
Kerjaanya cuma mencoba menu baru dan mengecek data bulanan yang diberikan Manajernya. Sekarang sudah lebih nyaman dan fleksibel, mau dia berangkat kerja mau tidak nggak akan ada masalah dengan kafenya.
Nah, kafe dengan dua tingkat itulah yang menjadi tempat tidur Rendy selama ini. Lantai satu yang lumayan luas digunakan full untuk area kafe, kadang ada live musik khusus hanya untuk malam minggu. Untuk lantai atas hanya ada tiga ruangan, satu gudang penyimpanan alat dan juga bahan pembuatan kopi, satu ruangan lagi masih kosong dan satu ruangan kecil lainnya adalah kamar Rendy. Kamar kecil berisi satu single bed dan tv led, ya, Rendy menghabiskan banyak malamnya di situ. Sebenarnya sebelum dia membeli rumah dia sudah tidur di tempat itu, setelah memutuskan membeli rumah pun dia juga masih tidur di situ. Ada sedikit rasa tidak nyaman untuk tinggal di rumah yang menurutnya sedikit besar itu. Rumah yang Rendy beli sejauh ini menurutnya hanya untuk tempat mobil dan juga motor miliknya serta beberapa barang pribadi.
Dan yah, sudah sekitar setengah bulan ruangan atas mulai di renovasi. Beberapa plavon atas sudah banyak yang jatuh, termasuk salah satunya di kamar Rendy, alhasil langit-langit kamarnya menjadi berlubang dibagian tersebut. Cat dindingnya juga sudah mulai terkelupas.
Tapi hal yang membuat Rendy ingin merenovasinya bukan karena itu, tapi karena dia ingin membuang penyekat ruangan dan hanya ia jadikan lantai atas menjadi dua ruangan saja, sehingga tempat gudang penyimpanan bisa jadi lebih besar.
Kembali ke sore hari di mana Rendy terpaksa harus kembali pulang ke rumah.
"Pak Bos kenapa harus ke sini sih?" Tanya salah satu pegawai kepada Rendy.
"Saya salah datang ke kafe sendiri?" Tanya Rendy sarkas.
"Ya enggak maksudnya kan kamarnya bos di atas lagi di renov, jadinya nggak ada tempat buat istirahat, gitu." Jelas pegawai ber name tag 'Ruri' itu.
"Ini juga mau pulang, lagian itu saya lihat udah kelihatan jadi bangunan kayaknya tinggal rapihin aja kan?" Tanya Rendy.
"Kalau itu Tanya Mas Willy aja aku kurang tau nggak pernah lihat juga ke atas." Ucapnya.
Rendy hanya tersenyum, senyuman seadanya karena menanggapi pegawainya yang sudah lama sekali bekerja dengannya. Ruri sudah bekerja sejak satu tahun setelah kafe dibangun, jadi bisa dibilang kurang lebih sudah empat tahunan dia bekerja di sini.
"Ri, saya mau bawa pulang satu yang manis." Kata Rendy meminta barista di kafenya itu untuk membuatkannya atu minuman untuk di bawa pulang.
"Manis bos?" Tanyanya memastikan.
"Iya terserah apa saja." Kata Rendy.
"Ada matcha ada strawberry latte itu yang agak creamy, kalau mau yang agak seger ya smoothie. Jadi yang mana?" Tanya Ruri lagi.
Rendy bingung, matcha dan strawberry memang minuman yang identik dengan cewek, lagi pula yang membuat usulan menu itu juga dia. Tapi diantara itu mana yang Flo suka, iya Rendy berniat membawakan satu untuk Flo.
"Kamu aja yang pilih. Saya ke atas, balik ke sini udah jadi." Kata Rendy tidak mau bersusah payah, lalu memilih berlalu ke atas.
Sedangkan Ruri sudah terbiasa dengan tabiat bosnya yang seperti itu, dengan sedikit bingung ia lalu mengambil cup plastik berlogo kafe tempatnya bekerja itu dan mengisinya dengan banyak es batu.
***
"Ini." Rendy menyerahkan satu cup strawberry latte yang dibuatkan Ruri tadi kepada Flo.
"Ini... apa?" Tanya Flo sedikit bingung, pasalnya Rendy hanya meletakkan minuman cup itu di meja dapur sambil berkata 'ini'
"Strawberry latte." Jawab Rendy seadanya.
Flo hampir saja menepuk jidatnya. "Maksudnya buat aku?" Flo akhirnya menanyakan to the point.
"Iya." Sekali lagi hanya jawaban singkat yang didapati Flo.
Membulatkam matanya karena senang Flo tersenyum. "Makasih." Ucapnya dengan girang, dapat minum gratis, ditambah lagi ini strawberry latte bro. Mana bisa Flo tolak, lagi pula nggak baik menolak rejeki.
"Sama-sama." Setelah mengucapkan kata 'sama-sama' Rendy memilih naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Setelah melihat Rendy naik Flo baru berani menyentuh pemberian cowok itu dan membukanya.
Meminum beberapa teguk dari sedotan Flo lalu berpikir, apakah cowok itu sengaja membeli minuman ini untuk Flo atau dia diberi jatah gratis dari tempatnya bekerja.
Flo lalu mengangkat gelas plastik minuman itu san menemukan tulisan besar 'EspresO' yang Flo pikir mungkin itu nama kafe tempat Rendy bekerja. Pikirnya baik sekali Rendy.
***