09 : Pamit

1251 Kata
Malam itu Flo kedatangan tamu, yah memang tamu Flo karena yang datang adalah Abangnya dan kakak iparnya. Awalnya dia kira suara ketukan pintu itu adalah teman Rendy, tapi cowok itu sepertinya nggak ada niatan membuka pintu depan. Akhirnya Flo dari kamar keluar dan mengintip terlebih dahulu di jendela. Mau bagaimanapun dia takut kalau ternyata bukan orang baik bagaimana? Tapi Alhamdulillahnya yang datang kakaknya sendiri. "Rendy mana?" Tanya Fardan begitu masuk dalam rumah. Flo menggedikkan bahunya "Tadi sore naik ke atas, sampai sekarang nggak tau di mana." Kata Flo jujur, dia berkata jujur karena tidak tau apakah Rendy sudah turun lagi atau masih di atas di dalam kamarnya. Flo lalu mendekati ke arah Indah yang langsung merangkulnya dengan sayang. Lalu ia lihat abangnya yang dengan percaya diri naik ke atas. "Bang Fardan, mau ngapain?!" Tanya Flo agak ngegas, dia sangsi kalau abangnya mau naik ke kamar Rendy. Siapa tau kalau cowok itu sedang tidur kan jadinya nggak sopan. "Ke kamar Rendy. Kamu duduk sana lho sama Teteh mu." Fardan seperti mengabaikan peringatan adiknya dan terus naik sampai hampir menuju tangga terakhir. Flo yang masih mengamati abangnya menjadi sedikit tidak enak, ah perasaan tidak enak di hatinya sulit sekali dihilangkan. Lalu ia merasakan goyangan pelan di bahunya. Indah menggiring pelan bahunya sambil tersenyum, lalu mengangkat tangan kirinya yang membawa plastik dan juga tote bag. "Nggak apa-apa Flo, abangmu sama Rendy itu sudah kenal lama banget. Teteh sampai pernah cemburu sama Rendy." Indah setengah menarik tangan Flo untuk duduk di sofa. "Iya teh?" Flo melirik sedikit tak percaya, tetehnya yang paling sabar ini ternyata pernah cemburu. Ke laki-laki pula. "Heem." Keduanya duduk bersebelahan, lalu Indah membuka keresek berisi martabak yang tadi sempat ia beli di pinggir jalan. "Iya, dulu teteh sempet nggak percaya kalau abangmu itu nginep nya di tempat Rendy." Indah memberikan satu potong martabak asin itu kepada Flo. Flo menerimanya dengan dua tangan. "Waktu di Bandung teh?" Tanya Flo. "Iya, dulu Rendy kan juga ngekos di Bandung kan. Abang mu itu sering banget tidur di kosan Rendy." "Gitu, ya jelas kalau cemburu. Berarti mereka segitu dekatnya ya teh?" Tanya Flo sambil menggigit martabak di tangannya. "Kalau menurut teteh si gitu. Foto temen abangmu yang dipasang di rumah cuma Rendy itu." Ucap Indah. "Eh, di sini juga ada teh!" Flo tanpa sadar sedikit meninggikan suaranya. "Iya, teteh tau." Kata Indah sambil tersenyum. "Iya?" Flo mengangkat alisnya saking tidak percaya. Bagaimana ceritanya kakak iparnya itu tau kalau ada foto abangnya di rumah ini. "Waktu Rendy pindahan ke sini teteh ikut beberes." "Ternyata, aku baru tau." Sibuk bercerita, Flo hampir tidak menyadari kalau ternyata Abangnya dan Rendy sudah berada di lantai bawah, berjalan berdua beriringan menuju sofa ruang tamu. Flo cepat-cepat menelan sisa martabak yang berada di mulutnya. Sebenarnya tidak cepat ditelan juga tidak apa-apa, tapi tidak enak rasanya kalau dia tiba-tiba sudah makan lebih dulu. Ah, kalau ada Rendy rasa tidak enaknya cepat sekali muncul. "Maaf ya Ren, malam-malam datang." Indah membuka percakapan lebih dahulu saat melihat suami dan teman suaminya itu datang. Rendy menggeleng sambil tersenyum samar. "Enggak kok, santai saja. Mau minum apa?" Tanya Rendy. Flo dengan tanggap lalu berdiri. "Biar aku yang buatin." Ia lalu berlari menuju dapur. Sedangkan tiga orang di ruang tamu itu hanya saling pandang dan tertawa kecil. Flo secepat mungkin menyajikan minuman. Sepertinya teh hangat sudah cukup. Ia lalu mengambil empat cangkir dari dalam laci dan mulai meracik teh untuk disajikan. *** "Flo ada nyusahin kamu nggak?" Fardan bertanya kepada Rendy yang ikut memakan makanan yang ia bawa. Masih menyunyah makanan di mulutnya Rendy menggeleng, kemudian setelah menang ia baru menjawab. "Enggak kok, santai aja kenapa. Lagian adikmu udah seperi adikku sendiri." Kata Rendy. "Kamu kan anak bontot, sejak kapan punya adik?" Fardan sengaja mengejek, karena faktanya memang benar kalau Rendy adalah anak terlahir. "Yah, anggap saja aku mengadopsinya." Kata Rendu sambil terkekeh. Tanpa mereka sadar Flo sedang mencuri dengar apa yang mereka obrolkan. Takut-takut mengobrolkan dirinya, yah memang dia yang menjadi topik perbincangan sih tapi bukan sesuatu yang jelek. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Setelah membenarkan rambutnya yang dengan lancang sampai di depan wajahnya Flo lalu mengangkat nampan yang sudah ia bawa dari tadi sedikit tinggi, lalu melangkah menuju ruang tamu tempat tiap orang itu berkumpul. "Silahkan." Uacao Flo sambil mendekatkan satu per satu cangkir teh itu di depan tamunya masing-masing. Ternyata kedatangan dua kakaknya kemari adalah pamit untuk pulang ke Bandung. Sebanrnya Flo sedih pakai banget mendengarnya, tapi dia juga nggak mungkin melarang. Bandung memang tempat tinggal kakaknya. *** Pukul setengah sembilan tadi tamu Flo sudah pergi, tapi tentu saja Rendy ikut keluar rumah sekedar berada di depan pintu untuk mengantar tamunya pulang. Fardan dan istrinya sudah lama sekali ia kenal jadi itu juga masuk hitungan tamu Rendy. Setelah mobil hitam milik Fardan keluar dari pekarangan rumah Rendy yang kecil, dua orang itu saling pandang sebelum akhirnya Rendy kembali membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Flo menyusul di belakangnya, lalu berjalan kecil mendahului Rendy untuk menuju ruang tamu. Membereskan cangkir bekas minum teh tadi dan beberapa makanan yang masih tersisa. "Biar saya." Kata Rendy di belakang. "Jangan! Nggak usah aku aja nggak apa-apa mas." Flo mengangkat dua tangannya mencegah Rendy untuk menyentuh satu barang pun di atas meja. "Berdua biar adil." Kata Rendy, lalu sedikit memaksa dia menyingkirkan tangan Flo. Flo menyingkir sedikit terpaksa, ia lalu mengerucutkan bibirnya tanpa sadar saat melihat Rendy mulai membawa cangkir gelas tadi. "Bawa sisanya." Kata Rendy. Flo menurut, membawa sisa makanan yang tadi dibawa kakaknya. "Taruh kulkas saja." Kata Rendy memberitahu Flo. "Iya." Flo lalu membuka kulkas dan mulai menata makanan itu di dalam kulkas. Selain makanan yang tadi dibuka, masih ada beberapa makanan yang lain di dalam tote bag. Flo jadi penasaran apa saja yang di bawa kakaknya. Dan setelah mengeluarkan beberapa roti kering, Flo memekik senang saat melihat kotak paling bawah di totebag itu. Rendy langsung mengalihkan pandangannya ke arah Flo. Kaget saat mendengar cewek itu tiba-tiba saja menjerit setengah tertahan. "Kenapa?!" Tanya Rendy, ia mendekat ke arah Flo setelah mengelap tangannya. "Eh, sorry Mas. Nggak apa-apa kok." Flo cengengesan, jadi merasa bersalah karena sudah berteriak, walaupun cuma teriakan kecil tapi di tempat yanh sepi begini pasti kedengaranya jadi besar. "Nggak ada apa-apa kok teriak." Kata Rendy. "Ini, tadi kaget nemuin ini di dalam tasnya." Flo mengangkat kotak makan berisi Red velvet sambil tersenyum. "Red velvet?" Tanya Rendy. Saat melihat ekspresi kegirangan dari Flo Rendy secara tidak sadar mengangkat sudut bibirnya hampir membuat sebuah lengkuangan yang sangat kecil. "Ini udah selesai kok." Ucap Flo. Rendy hanya mengangguk kecil, lalu berniat kembali ke dalam kamarnya. Tapi sepertinya cewek itu tidak ingin berniat kembali ke kamar. Lihat saja, sekarang Flo malah mengambil sendok bersih dan mulai membuka red velvet tadi. "Kamu mau makan itu?" Tanya Rendy Flo mendongak, lalu mengangguk canggung. Ah, dia terlalu kesenangan sampai lupa ini rumah siapa. Mana sopan malam-malam begini makan, nanti kalau berisik bagaimana, Flo? "Kayaknya besok aja nggak apa-apa deh mas." Flo lalu menutup kembali Redvelvet itu. Rendy menyadari perbedaan ekspresi yang di berikan Flo. Padahal niatnya bertanya bukan karena apa-apa. Tapi heran saja, di waktu malam cewke itu masih berani makan-makanan manis seperti itu. "Saya nggak larang kamu. Tapi cuma heran, biasanya kalau malam cewek kan tidak makan yang berat seperti itu." Ucap Rendy menjelaskan supaya tidak ada kesalahpahaman. "Jadi boleh?" Tanya Flo dengan hati-hati. "Terserah kamu." Ucap Rendy, lalu ia kembali meneruskan langkah menuju kamarnya. "Mas Rendy nggak mau coba?" Ucap Flo sedikit berteriak. "Nggak." Jawaban singkat dan padat itu langsung bisa dimengerti oleh Flo. Artinya benar-benar tidak mau bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN