Calista menghempaskan tubuhnya di atas tempat sofa ruang tamu Edwin. Tak lama kemudian, Edwin menyusul di sofa seberang. Calista menatap kekasihnya yang tengah memejamkan mata itu. Sepertinya, laki-laki itu kecapekan. Calista pun tak heran, mengingat akhir-akhir ini Edwin memang tampak sangat sibuk. "Mau aku buatkan teh hangat?" tawar Calista. "Aku masih punya beberapa asisten rumah tangga," tolak Edwin halus. "Tapi akan berbeda kalau orang yang kamu sayangi yang membuatkannya," goda Calista. Tampak Edwin terkekeh kecil sebelum menanggapi candaan Calista. "Tidak perlu. Kamu juga beristirahatlah kalau kamu capek!" Edwin masih pada pendiriannya. Menolak tawaran teh dari Calista. Membuat Calista hanya bisa menghela napas pasrah. Keduanya segera beriringan menaiki tangga untuk ke kamar

