Bab 1. Lost in Rome
"Jangan mendekat!" Seorang wanita yang biasa dipanggil Via tampak memegang erat handuk yang melilit tubuhnya saat William–pria yang sudah memberi tempat tinggal sementara padanya mulai mendekat.
"Kau harus membayar kebaikanku, tapi aku tidak mau dengan uang!"
"Terus aku harus bayar dengan apa?" Via mundur beberapa langkah. Coba menjauh dari William. Pria itu terus menatap tubuh Via yang sialnya hanya terlilit handuk. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa William ada di kamar itu juga, padahal tadi William memintanya untuk menempati kamar tersebut. Hal yang tak diduga, ternyata maksud pria itu mereka harus tidur satu kamar di ranjang yang sama.
"Bayar dengan tubuhmu!" William semakin mendekat, memaksa tubuh Via kian tersudut hingga ke lemari pakaian. Tidak ada lagi ruang bagi Via untuk mundur.
"Bagaimana ini, apa aku akan kehilangan keperawananku?" Via bermonolog sendiri. Rasa takut benar-benar membuat jantungnya berdebar kencang, terlebih saat William semakin mendesaknya.
***
Beberapa jam sebelum Via berakhir di kamar William, wanita itu tampak sedang bersama temannya di Trevi Fountain–sebuah air mancur yang memiliki sebuah mitos. Ya, jika seseorang melempar satu koin, maka akan kembali lagi ke Roma, melempar dua koin berarti akan mendapatkan kekasih, dan melempar tiga koin akan segera menikah.
"Via, lemparlah!" ujar Viona, sahabatnya sejak SMA, sambil menyerahkan tiga koin ke tangan Via.
Mertua Viona yang mengajak mereka berlibur ke Eropa, tepatnya ke Italia, Swiss, dan Austria. Mereka akan mengelilingi tempat-tempat wisata di kota Roma sebelum menuju Venesia.
"Aku tidak percaya hal semacam itu, Vio," cemberut Via.
"Tidak ada salahnya, kan? Kalau berhasil, anggap saja itu keberuntungan," lanjut Viona lagi.
Sementara itu, Elisa, mertua Viona, dan putra Viona menunggu mereka di sebuah restoran dekat Trevi Fountain. Tempat itu selalu ramai pengunjung, apalagi saat malam hari karena pemandangannya jauh lebih indah.
"Lagian aku belum berniat menikah secepat ini," elak Via.
"Kalau kau tidak percaya mitos itu, berarti tidak ada salahnya,' kan? Toh, tidak akan terjadi juga," bujuk Viona lagi. "Sayang sekali, kita sudah di sini tapi tudak melakukan seperti yang orang lain lakukan."
"Baiklah," ucap Via dengan terpaksa, kemudian melemparkan koin tersebut sambil membalikkan tubuhnya. Tanpa Via sadari, salah satu koinnya mengenai seorang pria.
"Aw!" kaget pria tersebut, sambil melihat sekitarnya, mencari orang yang melemparkan koin hingga mengenainya.
"Anda baik-baik saja, Signore?" tanya asisten pria itu.
"Apa kau melihat siapa yang melempar koin padaku?" Wajah pria itu mengeras, tidak pernah dalam hidupnya, ia terkena sial dilempari koin.
"Ya, Signore. Dia gadis yang memakai dress kuning itu," ujar Asistennya.
William, pria yang kena lemparan koin Via, mengikuti arah tunjuk Asistennya. Dia melihat dua orang gadis, dan menyadari mereka adalah gadis Indonesia karena sempat mendengar mereka berbicara. Gadis dengan gaun kuning itu tampaknya tidak percaya tentang mitos Trevi Fountain.
"Apa aku harus membawa gadis itu dan menyuruhnya meminta maaf kepada Anda, Signore? Atau Apa perlu aku mengutus orang untuk menculiknya?" usul Asisten William.
"Tidak perlu! Ada hal penting yang harus kita lakukan." jawaban William membuat Asistenya terkejut, tidak biasanya William mengabaikan orang yang menyakitinya. Meski secara tidak sengaja. Biasanya ia akan memerintahkan anak buahnya untuk memberikan hukuman pada orang tersebut. William terkenal sebagai mafia kejam tanpa ampun.
"Kenapa kau hanya diam? Apa kau ingin aku tembak?!" Ucapan William sontak membuat Asistennya terkejut dan segera mengikuti bosnya itu.
Sementara itu, Viona yang menyadari bahwa lemparan Via mengenai seseorang, langsung menyusulnya.
"Via, kau tidak hati-hati melemparnya dan itu mengenai seseorang. Ayo minta maaf!" ajak Viona, menarik tangan Via agar mengikutinya. Namun, ternyata pria tersebut telah menghilang.
"Aku, 'kan, tidak sengaja, Vio. Lagi pula, mengapa orang itu berada di dekat kolam?" Via tidak suka Viona memarahinya.
Viona memelototinya. "Baiklah, ayo minta maaf! Yang mana orang yang tadi kena koinku?" Via melihat sekeliling.
"Sepertinya dia sudah pergi. Tadi dia ada di situ." Viona menunjuk tempat di mana William tadi berdiri dan sempat celingukan mencari orang yang melemparinya koin.
"Ya sudah, ayo kita ke tempat Tante Elisa. Aku sudah lapar." ajak Via cuek, padahal dia baru saja mencederai kepala seseorang dengan koinnya.
***
Perjalanan selanjutnya adalah menuju Venesia. Via mengenakan kaos dan rok celana di atas lutut dengan sepatu kets yang membuatnya nyaman, sehingga kakinya tidak sakit saat melakukan perjalanan panjang. Elisa bersama pengawal sekaligus pemandu wisata mereka membeli tiket kereta api cepat menuju Venesia. Via, Viona, dan Darrel menunggu di belakang Elisa dan pengawal.
Tiba-tiba seorang pencopet menarik tas Via dan membawanya kabur. Via refleks mengejar pria tersebut.
"Via, jangan dikejar!" larang Elisa. Namun, Via tidak mendengarnya karena sudah terlanjur berlari mengejar pencuri tas.
"Via, kembali!" teriak Viona.
William, yang kebetulan melihat kejadian tersebut, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kagum dengan keberanian gadis itu. William memperhatikan karena dia mengerti bahasa yang diucapkan oleh Viona. Posisi William membelakangi Elisa. Kemudian dia dan asistennya pergi dari sana.
Via baru menyadari bahwa dia telah jauh meninggalkan rombongannya dan tidak tahu di mana dia berada sekarang. Dia tidak berhasil mengejar pencuri tersebut. Via mencoba kembali. Namun, dia semakin tersesat. Mau bertanya pun, ia tidak bisa berbahasa Italia maupun berbahasa Inggris.
Paspor, dompet, dan ponselnya berada di dalam tas yang dicuri. Via menenangkan dirinya agar tidak panik. Dia juga mencoba mencari kantor polisi, tetapi belum menemukannya.
Gadis itu mencari apartemen mertua Viona, tetapi hasilnya nihil. Hari semakin sore dan Via merasa lelah seharian berkeliling, ia juga kelaparan. Dia melewati sebuah mobil yang baru parkir di restoran tempat Via berada sekarang. Seseorang membukakan pintu untuk orang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Silakan, Signore!" ucap pria yang membukakan pintu dalam bahasa Indonesia. Via merasa mendapat pertolongan.
"Terima kasih, Tuhan," ucapnya penuh syukur.
"Pak, tolong saya!" mohon Via kepada William, yang ternyata adalah pria yang dibukakan pintu. Namun, William cuek saja dan tetap menuju restoran. Dia punya janji makan bersama rekan bisnisnya di restoran itu. Via, yang merasa diabaikan, mencegat William dengan merentangkan kedua tangannya.
Dia jelas-jelas mendengar orang yang membukakan pintu berbicara bahasa Indonesia, jadi seharusnya pria itu mengerti dengan ucapannya.
"Pak, tolong saya!" ulang Via, mencegat William agar membantunya. Pria itu berwajah Italia tetapi memiliki asisten yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Via tidak tahu apakah pria ini orang Indonesia atau orang Italia. Yang penting, orang itu mengerti bahasa Indonesia.
"Saya tahu Anda pasti mengerti dengan yang saya ucapkan, Pak." William memang mengerti, tetapi dia tidak suka disebut "Pak" oleh Via. Entah mengapa, dia sering sekali bertemu dengan gadis ini. Apa gadis ini tidak menyadari kalau dia pernah melemparinya dengan koin?
"Maaf, saya tidak mengerti dengan ucapan Anda, Signorita," balas William dalam bahasa Italia. Asistennya hanya tertawa. Dia tahu Signore-nya hanya mempermainkan gadis itu.
-TBC-