Mengkhianati Diri Sendiri
Mitra Keluarga adalah salah satu rumah sakit operasi obstetri dan ginekologi terbaik yang terletak di kota Jakarta.
Mia Carina saat ini tengah merasakan sakit di bagian perutnya. Bayi yang sudah ia kandung selama sembilan bulan akan segera lahir ke dunia, rasa sakit itu berasal dari kontraksi yang tengah ia rasakan. Tangannya mencengkram erat pagar pembatas yang berada di samping tempat tidur bersalin. Buku-buku jarinya nampak kebiruan, sekujur tubuhnya berkeringat dingin.
Melihat kondisi Mia, ibu Bidan yang saat ini berdiri di sebelahnya, coba menghibur Mia dengan sangat lembut agar si calon ibu itu tidak tegang. "Jangan takut, anak ini akan lahir dengan selamat. Kamu tahan sebentar ya, karena rasa sakit ini akan segera berlalu."
Mia Carina mengangguk, matanya berkaca-kaca, hatinya saat ini tengah diselimuti rasa gelisah, karena setelah lahir, anak itu harus dibawa pergi.
Selama sembilan bulan ia mengandung seorang bayi berjenis kelamin laki-laki. Ia membiarkan bayi itu tumbuh di dalam perutnya, meskipun setelah melahirkan ia tidak bisa bersama dengan bayi itu. Jelas hal tersebut membuat hatinya merasa sakit.
"Maaf, maaf," batin Mia.
Mia menangis. Bukan ia tidak menginginkan bayi itu, ada hal lain yang membuat ia tidak bisa bersama. Setelah ia menerima sejumlah uang, Mia tidak diperbolehkan bertemu lagi dengan bayinya.
Saat ini hatinya begitu terluka. Sakit yang tengah ia rasakan berkali-kali lipat, juga penyesalan yang sangat mendalam membuat Mia berada di dalam kesulitan. Mia tidak menginginkan uang itu lagi, yang dia inginkan hanya dapat hidup bersama bayi yang akan segera ia lahirkan.
Tidak ada yang dapat mendengar jeritan hatinya. Hingga akhirnya Dokter menyuntikkan anastesi, kesadaran Mia pun berangsur hilang, pandangannya mulai gelap, hingga akhirnya Mia benar-benar kehilangan kesadarannya.
Satu jam setelah operasi selesai, Mia terbangun dan mendapati dirinya sudah berada di dalam bangsal. Matanya berkeliling, ruangan dalam keadaan sepi, tidak ada siapa pun di sana. Mia hanya mendapati selembar cek di atas tempat tidurnya yang mana di dalam cek tersebut bertuliskan angka dua miliar rupiah.
Melihat cek tersebut, hati Mia terasa tercabik. Tangannya terus mengusap perutnya yang sudah rata. Air mata mengalir deras, rasa sakit yang ia rasakan semakin dalam saat kenyataan mengatakan tidak ada lagi bayi laki-laki yang bergerak dengan aktif di dalam perutnya, bahkan ia tidak diberi kesempatan satu kali saja untuk melihat wajah bayinya.
Saat ia berpikir tidak akan mungkin lagi bisa bertemu dengan anak laki-lakinya, Mia tidak berhenti menangis, lalu ia tersentak saat pintu bangsal dibuka secara kasar oleh seseorang.
Mia terkejut, ia melihat ke arah sumber suara, lalu melihat seorang wanita bernam Lucia Anggraini mengenakan hak tinggi, berjalan masuk dengan angkuh menghampiri dirinya, membuat Mia merasa panik, tanpa sadar itu pun berusaha untuk bangun. Namun, rasa sakit yang bersumber dari bekas operasi, membut Mia harus kembali berbaring dengan wajah pucat.
Lucie berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan keadaan Mia dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan sinis seraya berkata, "Mia Carina, apakah benar ini kamu?"
"Untuk apa kamu di sini?" hardik Mia penuh amarah, ia menatap wajah Lucie penuh kebencian.
Lucie tidak perduli dengan amarah Mia. Ia malah tersenyum sinis penuh kemenangan. "Dimas dengan saya sedang mempersiapkan acara pertunangan, bahkan dalam waktu dekat kami akan segera menikah. Untuk itu lah saya datang menemuimu."
Lucia terus memperhatikan keadaan Mia, lalu ia pun kembali bicara, "Sangat menyedihkan, semua yang kamu lakukan sangat menjijikan. Demi uang kamu rela menjual tubuhmu, hingga akhirnya kamu melahirkan seorang bayi laki-laki."
"Diam kamu!" hardik Mia. Ia mengumpulkan sisa tenaga yang dimiliki demi meraih benda apa pun yang ada di sana untuk ia lempar ke arah wanita yang sangat ia benci. Mia sampai melupakan kondisi sekehatannya, menyebabkan luka di perutnya kembali terasa sakit dan tubuhnya kembali terbaring lemas di atas tempat tidur tepat saat ia ingin melemparkan suatu benda ke arah wanita itu tetapi ia berhasil mengelak dari serangannya.
Dia tersenyum penuh kemenangan saat serangan yang dilakukan Mia gagal mengenainya. Ia kembali melangkah mendekat seraya berkata, "Apakah kamu marah? Lalu, bagaimana jadinya kalau aku mengatakan kepada kamu perihal kejadian satu tahun yang lalu? kejadian saat aku melepaskan masker oksigen milik ibumu. Termasuk uang untuk membayar tagihan rumah sakit dari ayahmu yang aku curi di tengah perjalanan. Bukan hanya itu, bahkan juga yang diam-diam memberitahukan perihal kehamilan kamu kepada Merie. Bagaimana? Apakah kamu semakin marah?"
Mendengar semua ucapan Lucie, Mia hanya bisa diam, meratapi nasib buruk yang menimpa kepada dirinya, membuat hidupnya semakin menyedihkan. Pertama, dia harus kehilangan bayi yang baru saja ia lahirkan, lalu sekarang kenyataan pahit yang ia dengan dari Lucie, membuat Mia kehilangan kesabaran sehingga emosinya tidak dapat lagi dijaga.
"Lucia Anggraini. Kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Kesalahan apa yang aku perbuat sampai kamu tega melakukan ini kepadaku? aku bahkan tidak pernah sedikitpun mengusik hidupmu! Dasar wanita jahat, kamu harus mati di tanganku!"
Melihat amarah Mia yang begitu berapi-api, membuat Lucie tertawa sangat puas, lalu ia berkata, "Kamu ingin tau kenapa aku melakukan itu?" Tentu saja aku ingin menghancurkan hidupmu! Kamu benar-benar tidak sadar apa yang dulu kamu lakukan kepadaku? mungkin kamu tidak akan merasa, tapi yang jelas, kehadiran kamu itu sangat mengganggu hidupku."
Wajahnya berubah merah menahan emosi, ia pun kembali bicara, "Aku juga berasal dari keluarga kalian, kenapa kamu harus hadir sebagai pengganggu? semua yang kamu lakukan selau benar! Sedangkan aku, apa pun yang aku lakukan selalu salah. Semua kejadian yang menimpa dirimu, selalu aku yang disalahkan! ingin sekali rasanya aku mengabsen satu demi satu semua kejadian dan kamu tau, sekarang akulah yang menjadi pemenangnya. Bukan hanya ayah, kekayaan keluarga besar, bahkan saudaramu Merie, sudah menjadi milikku dan kamu, tidak lebih dari seorang anak terlantar, yang dibuang jauh-jauh dari kelurga besar. Ha ha ha!" Lucie tertawa puas.
Ruangan diisi oleh suara tawa Lucia penuh kemenaganyang, memekik telinga Mia. Setiap kata demi kata yang ia ucapkan, seperti pisau tajam menancap di tubuhnya, membuat luka bekas operasi Mia kembali terbuka dan berdarah.
Mia ingat sekali dengan kejadian tahun lalu. Saat sang ibu tiba-tiba terbring kritis di rumah sakit, Mia pergi menemui ayahnya untuk meminta uang pengobatan ibunya. Namun sayang, ia tidak mendapatkan sepeser pun.
Saat itu, Mia bertemu dengan Dimas Anggara mantan kekasih di masa lalu, yang kini sudah menjadi kekasih Lucia. Jelas Mia merasa kecewa, lalu ia pun pergi melakukan segala hal demi menyelamatkan nyawa ibunya.
Tanpa diduga, semua kejadian telah dirancang oleh Lucia. Dia juga yang menyebabkan Mia diusir dari rumah oleh ayahnya. Mia ingat betul saat sang ayah berkata, "Setelah kamu keluar dari rumah ini, jangan katakan kalau kamu berasal dari kelurga kami! Ayah tidak ingin nama besar keluarga ini harus tercoreng atas perbuatan yang kamu lakukan."
Bukan hanya diusir oleh sang ayah. Ia bahkan dihina oleh kekasihnya Dimas dengan mengatakan, "Mia Carina, bagaiman bisa kamu begitu menjijikan?"
Mengingat masa lalu Mia yang begitu menyedihkan, membuat Mia kembali bersemangat untuk tetap menjalani hidup di tengah-tengah kondisinya yang lemah.
Bibirnya menjadi pucat, rasa sakit dan kebencian terjalin, tubuhnya tampak tenggelam oleh air mata kesedihan. Hingga akhirnya Mia pun tenggelam dalam kegelapan tanpa batas.