bc

ROBERT BARATHEON REBELLION ( a fanmade story )

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
adventure
dark
BE
royalty/noble
heir/heiress
drama
bxg
campus
enimies to lovers
war
musclebear
ancient
brutal
like
intro-logo
Uraian

Cerita tentang pemberontakan Robert Baratheon dan aliansinya terhadap Klan Targaryen masih menyisakan banyak lubang misteri. Pada cerita fanmade ini aku mencoba menerka dan membuat ceritaku sendiri tentang apa yang terjadi.Diclaimer, ini hanya fanmade, segala kecocokan karakter dan tempat hanya untuk mendukung ide cerita dan fantasiku tanpa mengurangi rasa hormat kepada penulis dan pemilik hak cipta.

chap-preview
Pratinjau gratis
EPILOG. API DAN MAWAR
Prolog – Api & Mawar Harrenhal, tahun 281 AL. Dinding hitam yang retak menjulang laksana gigi naga patah. Hari itu, reruntuhan kelam berubah menjadi panggung megah. Panji-panji berkibar, deru terompet menggema. Turnamen terbesar dalam generasi itu dimulai. Ksatria beradu tombak, sorak sorai membahana. Dari tribun para lady, tatapan banyak pria jatuh pada satu sosok muda yang duduk dengan anggun: Lyanna Stark. Rambut hitamnya dikibaskan angin musim semi, dan di sela helaian itu terselip bunga biru winter rose, mawar dari Utara. Namun di sekelilingnya duduk saudara-saudaranya: Benjen, Brandon, dan Ned. Pandangan dingin Ned, tatapan penuh percaya diri Brandon, dan kegesitan Benjen cukup membuat siapa pun yang hendak mendekat memilih menunduk. Bagi banyak bangsawan muda, Lyanna bagaikan mawar indah yang dikelilingi kawanan serigala—mempesona, namun berbahaya untuk disentuh. Dari bangku bangsawan, seorang pria tinggi dengan janggut hitam berderai tak bisa mengalihkan pandangannya. Robert Baratheon tertawa keras menyaksikan setiap tombak pecah di arena, tapi di balik tawa itu ada sorot mata yang lembut setiap kali melirik ke arah Lyanna. Ia menyembunyikan perasaan itu dengan topeng riang dan gelas anggur. Namun di hatinya, Robert sudah berjanji: “Suatu hari, ia akan jadi milikku. Lyanna, ratu dari Storm’s End.” Ned, yang duduk di sampingnya, tak pernah menyadari betapa seriusnya janji itu. Bagi Ned, Lyanna hanyalah adik yang keras kepala, seorang gadis Stark yang lebih suka menunggang kuda daripada menyulam. Tapi bagi Robert, Lyanna adalah cahaya yang bisa menjinakkan badai dalam dirinya. Sorak sorai kembali menggetarkan udara ketika dua ksatria menunggang kuda ke tengah arena. Baju zirah berkilauan di bawah matahari sore, tombak diangkat tinggi. Penonton berdiri, bangku bangsawan penuh oleh lord dan lady dari seluruh Westeros. “Ser Oswell Whent dari Harrenhal!” teriak juru proklamasi. “Melawan… Ser Barristan Selmy, Ksatria Agung, Penjaga Kingsguard!” Sorak sorai meledak, karena tak ada yang meragukan keperkasaan Barristan the Bold. Tombak diangkat, bendera diturunkan. Kuda menderap, tanah bergetar, dan—brak!—kedua tombak pecah jadi serpihan. Penonton menahan napas, lalu bersorak lagi. Putaran kedua dimulai. Dari tribun bangsawan, Robert berdiri sambil menepuk pagar kayu, palu perangnya disandarkan di sisi. “Seven hells, Selmy masih cepat seperti singa muda!” serunya lantang, tawanya menggelegar. Pertarungan berlanjut. Ser Barristan menjatuhkan lawannya, dan sorak-sorai kembali menggema. Tapi itu baru awal. Ksatria datang silih berganti—Jaime Lannister muda, berambut emas, dengan gerakan secepat kilat. Thoros of Myr, dengan pedang berapi yang membuat penonton ternganga. Dan akhirnya, ketika matahari hampir tenggelam, satu nama dipanggil yang membuat arena sunyi sesaat. “Pangeran Rhaegar Targaryen!” Rhaegar maju, berzirah perak yang berkilauan, helm bersayap naga. Tatapannya tenang, penuh keyakinan. Ia menurunkan visor, menaiki kuda putihnya, dan mengangkat tombak panjang. Sorak sorai bergema lagi, tapi kali ini bercampur dengan bisikan. Semua mata memandang putra mahkota yang disebut-sebut lebih suka musik daripada perang. Kini, ia harus membuktikan dirinya di depan seluruh Westeros. Pangeran Rhaegar berderap maju, tombak siap. Lawannya roboh dalam satu hantaman. Dan begitu pula lawan berikutnya, dan berikutnya. Seolah-olah setiap ayunan tombak adalah nada dalam lagu panjang yang hanya ia sendiri yang tahu. Tiba-tiba, Lyanna Stark berdiri. Angin musim semi mengibaskan rambut hitamnya, menyingkap pesona yang membuat banyak mata terhenti. Di atas kuda putihnya, Rhaegar tertegun. Sesaat, tombak di tangannya seolah berubah menjadi harpa; hatinya dipetik oleh pemandangan itu. Siapakah gadis ini? batinnya bergemuruh. Bukan sekadar kecantikan, tapi ada jiwa bebas, liar, dan dingin bagai Utara yang membungkus gadis itu—sesuatu yang tak pernah ia temui di istana, bahkan pada Elia. Dan ketika senja menutup hari itu, para penonton pulang dengan cerita tentang ksatria dan tombak. Namun dalam benak sang pangeran naga, hanya ada bayangan satu sosok: Lyanna Stark. Ia tidak tahu, bahwa dari pesona singkat itu, api perang baru saja dinyalakan. Interlude – Bisikan di Balik Api Nun jauh di istana, sebelum turnamen Harrenhal dimulai, di jantung King’s Landing yang berliku, api obor bergoyang di dinding batu. Ruang singgasana Red Keep terendam dalam cahaya merah kusam. Di atas besi bengkok dan berkarat, Raja Aerys II Targaryen duduk di Iron Throne. Rambutnya kusut, janggutnya tak terurus, dan matanya berkilau bagai bara yang tak padam. Tangannya kurus, pucat, mencengkeram sandaran takhta. Jemarinya berdarah karena goresan besi, tapi ia tidak peduli. Pintu besar berderit. Dari kegelapan, sosok bundar melangkah dengan tenang. Pakaian ungu longgar melambai, kepalanya licin berkilat oleh cahaya api. Varys, sang Pembisik, merunduk hormat di hadapan rajanya. Aerys (suara serak, gelisah): “Kau… kau selalu punya telinga di setiap dinding, Varys. Katakan padaku, apa yang dibisikkan mereka tentang Rhaegar? Apa yang mereka katakan tentang rajanya? Tentang aku?” Varys (tenang, suaranya lembut seperti bisikan angin): “Hamba mendengar banyak hal, Yang Mulia. Dari ksatria yang beradu tombak, dari kedai – kedai bir dari rumah bordil, tentang sorak sorai yang akan diadakan di Harrenhal, dan… tentang pangeran kita.” Aerys (mendengus, tubuhnya condong ke depan): “Rhaegar…” Varys (sedikit menunduk): “Beberapa lord berbisik, apakah Pangeran Rhaegar sungguh ksatria sejati… atau hanya penyanyi dengan zirah perak. Ada yang berkata, apa jadinya bila raja berikutnya lebih pandai memetik harpa dan berpesta pora, daripada memerintah?” Aerys menggeram. Jemarinya semakin kuat mencengkeram besi takhta hingga darah menetes ke lantai. Aerys (mata membara): “Pengkhianat… mereka sudah berani membicarakan penggantiku? Mereka menilai aku lemah?” Varys (tetap datar, tanpa emosi): “Itu hanya bisikan, Yang Mulia. Namun hamba juga mendengar, pangeran muda kita dikenal flamboyan. Ia sering memikat para lady… bahkan yang telah bersuami. Ada yang tersenyum karenanya, ada pula yang cemas. Kata-kata itu beredar di antara para lord.” Mata Aerys melebar. Ia bangkit, jubahnya berayun liar, langkahnya berderap di lantai batu. Nafasnya terengah, seolah api mengisi dadanya. Aerys (berteriak, penuh paranoia): “Para Warden! Mereka akan berontak, aku tahu! Mereka melihat kelemahan pada Rhaegar, mereka ingin mengangkat senjata! Tidak! Demi darah naga yang mengalir ditubuhku, takkan biarkan itu terjadi!” Tawa seraknya bergema di ruang kosong, bercampur batuk, terdengar seperti jeritan besi berkarat. Api obor bergoyang lebih liar, bayangan di dinding menari seperti iblis. Varys tetap menunduk, wajahnya tanpa ekspresi. Ia hanya menyampaikan kabar, apa yang telinga-telinga rahasianya dengar. Tapi di telinga seorang raja yang sudah rapuh, kabar berubah jadi racun. Dan racun itu kini mulai mengalir, menyiapkan Westeros menuju api perang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.7M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
621.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.2M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
862.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
299.0K
bc

Not just, the Beta

read
308.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook