Hanphone Natasya berdering, tertera papa Fahmi yang menelpon. "Halo Pa?" ucap Natasya. Kini gadis imut itu duduk di halte depan sekolah dengan Fatah, sebenarnya Fatah tidak menunggu bus atau pun jemputan, tapi lelaki itu sengaja menemani Natasya menunggu jemputan. "Oh, oke Pa. Enggak papa kok." Natasya lalu menutup telponnya. Natasya lalu menunduk lemas dan menyandarkan kepalanya di bahu Fatah. Rasanya lebih nyaman ketimbang bersandar di tiang halte. Ucapan papanya di telpon sangat menyakitkan hatinya. "Kok lemes? Kenapa lo?" tanya Fatah. Dia menepuk-nepuk pipi Natasya. "Enggak papa." Natasya memejamkan matanya menikmati semilir angin sore, dia sangat senang jika papanya menikah lagi, tapi dia juga takut perhatian papanya akan beralih kepada mama barunya. "Bisa geser?" Suara itu me

