SATU
Alea meringis, buru-buru menarik tangannya dari cangkir kopi yang sedang dia serahkan pada Pak Toni, atasannya di tempat kerja. Sebenarnya bisa saja mengambil cangkir tanpa menyentuh tangannya. Tapi seperti biasa, Pak Toni selalu bisa mencuri-curi kesempatan.
Enam bulan lalu, pertama kali bekerja sebagai asisten manager, membuat kopi merupakan tugas OB kantor. Tapi belakangan Pak Toni meminta Lea yang membuatkan kopi, lebih nikmat katanya. Padahal takarannya sama. Satu setengah sendok teh kopi dan dua sendok teh gula.
“Sudah sarapan, Lea?” tanyanya tidak menghiraukan ringisan risih Lea.
“Sudah, Pak.”
“Padahal saya sengaja beliin roti buat kamu sarapan. Tapi nggak apa-apa, bawa aja pulang, buat anak kamu.” Pak Toni menyerahkan sekantong penuh roti merk ternama dengan varian bermacam. Kalaupun belum sarapan, tidak mungkin Lea sarapan dengan segini banyak roti.
Walau tidak berkenan, Lea tidak kuasa menolak. Takut bosnya itu tersinggung. “Terimaksih.” Dia mengambil plastik roti dengan hati-hati. Tidak mau menyentuh tangan Pak Toni dan membuat lelaki itu salah paham.
Selama tiga tahun menjadi single parents, ini tempat ketiganya bekerja. Awal-awal, jika ada gelagat dari atasan atau teman kerjanya yang kurang baik, Lea langsung memutuskan untuk berhenti. Karena rata-rata mereka sudah beristri. Tidak tau diri sekali!
Tapi belakangan Lea mulai terbiasa dan bisa menahan diri. Pada dasarnya, sifat lelaki itu sama. Mungkin karena status Lea, membuat mereka berpikir bisa mendekatinya. Lea harus tegas, agar mereka bisa menyerah.
Lea berbalik, mengambil langkah keluar dari ruangan Toni, dan langsung membagi-bagikan roti tersebut pada karyawan lain.
“Tumben si Bos bagi-bagi sarapan?” kata Rian sambil mengunyah roti yang diambilnya.
“Alah, sebenernya ini buat kamu, kan, Lea?” tanya Sinta curiga. Bukan rahasia lagi dari awal Lea kerja di sini atasan mereka selalu berusaha menarik perhatiannya.
“Nggak, kok! Ini buat sama-sama. Kamu nggak mau?” tanya Lea. Pegal tangannya memegang plastik agar terbuka di depan Sinta.
“Mau, lah!” Sinta mengambil dua roti. “Makasih, ya!”
“Makasihnya sama si Bos lah!” Lea melanjutkan membagi-bagi rotinya sampai habis sebelum duduk di tempatnya sendiri.
Sebagai orang dewasa, Lea tau Pak Toni mempunyai maksud yang lain. Yang membuat Lea risih, beliau sudah beristri! Mungkin karena Lea seorang Ibu tunggal, masih muda dan cantik. Namun selama bosnya tidak terlalu melewati batas, Lea masih bisa menahannya demi si kecil.
“Kan sudah jelas saya katakan, roti itu untuk anakmu, Lea. Kenapa malah kamu bagi-bagi?” penting sekali memanggil Lea keruangannya hanya demi menanyakan hal tersebut.
“Sean nggak suka makan roti, Pak. Jadi daripada mubazir, saya kasih aja ketemen-temen.” Katanya berdusta.
“Sean sukanya apa? Donat? Ice cream? Coklat? Biar nanti saya belikan.” Pak Toni berdiri dari duduknya, dan mengambil langkah kehadapan Lea.
Lea justru mengambil beberapa langkah mundur untuk antisipasi. Takut tiba-tiba atasannya itu menggapai tangannya. “Terimakasih sebelumnya. Tapi maaf, bapak nggak perlu repot-repot. Saya bisa membelikan apa yang anak saya suka.”
“Nggak usah sungkan, Lea, kamu bisa bilang ke saya kalau butuh untuk beli popok dan kebutuhan lainnya.”
“Saya bekerja di sini juga untuk memenuhi kebutuhan anak saya. Dan Alhamdulillah, sudah cukup. Sikap Bapak yang seperti ini justru membuat saya sungkan. Jadi saya harap, kita berdua bisa kerja secara profesional.” Lea memaksakan seuntai senyum. “Permisi.” Pamitnya undur diri.
Lea duduk di tempatnya sambil menghela nafas berat. Mungkin para lelaki melihat jika single parent itu mudah untuk didapat. Mudah untuk dirayu. Sementara diam saja seorang janda selalu salah di mata masyarakat, apa lagi jika dia berpolah. Rasanya sudah lelah dia menjaga sikap. Ingin dicoloknya mata para lelaki yang genit, dan dilemnya mulut ibu-ibu yang sering bergosip.
Setelah percakapan tadi, harapan Lea agar atasannya itu sadar akan posisi mereka masing-masing terasa sia-sia. Karena saat jam pulang, lelaki itu justru terang-terangan mengajaknya pulang bersama di depan semua orang.
“Udah saya anter aja!” ujarnya setelah Lea menjawab jika dia akan pulang dengan ojek online.
Sekali lagi Lea menggelangkan kepala. “Saya udah pesen ojek onlinya, Pak.” Ujarnya lagi-lagi berdusta.
“Cancle, kan, bisa.”
“Kasian kalau di cancle.” Lea merasa tidak enak akan tatapan teman-teman kerjanya. Pasti banyak persepsi. Dan dari yang banyak itu, pasti ada yang menganggap Lea yang menggoda.
“Oh ya udah. Lain kali saya anter, ya?”
Lea hanya tersenyum canggung. Tidak mengiyakan, tapi juga tidak bisa menolak. Lagi-lagi, merasa tidak enak.
“Wih, udah terang-terangan nih?” celetuk Sinta sepeninggal Pak Toni.
Lea tidak menjawab. Dia hanya menyusun map-map di mejanya, kemudian mengambil tas dan melangkah pulang. Rasanya itu pilihan terbaik. Karena menjelaskanpun percuma. Mereka yang berpikiran tidak-tidak, akan selalu mempunyai celah untuk terus berpikiran negatif. Itu juga mungkin alasan kedua orangtuanya selalu memintanya menikah lagi.
Seandainya kembali membuka hati semudah itu….
Bukan. Bukan karena dia sangat mencintai suaminya yang meninggal karena kecelakaan tunggal. Tapi karena pernikahan mereka bagaikan neraka. Lea dipaksa bertahan untuk sesuatu yang semu. Jika saja Raka tidak meninggal, dia pasti masih dalam sangkar yang menyakitkan itu. Ironisnya, ternyata menjadi Ibu Tunggal tidak membuat keadaan lebih baik.
Keluar dari gedung, Lea menoleh ketika Rian memanggil namanya dan setengah berlari menghampiri.
“Tadi lupa nanya. Laporan kuartal pertama udah kukirim lewat email. Udah diperiksa?” tanyanya setelah berdiri di sisi Lea.
Nara menganggukan kepala. “Udah aku teruskan ke Pak Toni. Tumben cepet? Biasanya mepet.” Lea tersenyum meledek.
“Kan mau cuti nikah.” Jawab lelaki itu cengengesan.
“Duh semangatnya yang mau nikah.” Candanya lagi, memancing senyum malu di wajah Rian.
“Lagi nunggu ojol?”
Lea mengangguk, kemudian menanyakan sudah sejauh mana persiapan pernikahan Rian, dan masih mengobrol basa-basi ketika tau-tau ada seorang wanita yang menghampiri. Lalu tanpa peringatan, mendaratkan satu tamparan keras ke pipi Lea.
Bukan hanya Lea, Rian juga terkejut. Namun refleks Rian cukup bagus untuk menahan tangan wanita itu ketika akan menampar untuk yang kedua kali.
“Dasar w************n!” teriak wanita itu, memancing pandangan orang-orang yang cukup ramai. Dia menarik tangannya dari pegangan Rian.
Lea yang masih tidak mengerti situasi, hanya terus memegangi pipinya dan menatap wanita gila itu dengan ngeri.
“Di dunia ini tidak ada lagi laki-laki sampai kamu harus menggoda suami orang!” teriaknya lagi, menunjuk wajah Lea penuh amarah.
Siapa yang menggoda? Siapa suaminya?
Lea masih membisu ketika dengan cepat Pak Toni menghampiri dan menarik tangan wanita itu.
“Jangan, Ma! Jangan bikin malu!” katanya sedikit panik.
Wanita itu menarik tangannya kasar. “Kamu masih punya malu? Ini, kan, wanita yang buat kamu udah kehilangan malu dan meminta ijinku untuk menikah lagi?!”
Lea mengerutkan kening. Meminta ijin menikah lagi? Ini pasti salah paham!
“Kan aku sudah bilang. Itu hanya perumpamaan! Aku nggak benar-benar minta untuk menikah lagi!”
“Perumpamaan katamu? Memangnya aku tidak tau kalian sering berduaan di dalam kantor! Aku juga tau kalau kalau kamu sering memberinya makanan dan mengantarkannya pulang!”
“Nggak, Ma!”
“Jangan bohong kamu! Aku punya bukti dan saksi!”
“Sudah cukup!” teriak Lea menghentikan pertengkaran dua orang yang membuat mereka jadi tontonan. “Saya nggak seperti yang Ibu bilang!”
“Heh! Berani-beraninya perempuan gatel ini mengelak!” Istri Pak Toni menerjang kedepan, ingin menjambak rambut Lea namun Rian dengan sigap menahan. “Lepasin saya! Kamu salah satu lelaki yang perempuan gatel ini goda, kan?!”
“Bicarain baik-baik, Bu. Malu diliatin orang-orang!”
“Nggak perlu!” Istri Pak Toni berontak seperti kesetanan. “Biar semua orang tau, janda tidak tau diri ini yang harus malu!”
“Janga mulut Ibu!” bentak Lea. Panas kupingnya dari tadi dituduh yang macam-macam. Padahal sudah sangat dijaga tingkahnya. Jika ibu ini mau marah, harusnya suaminyalah yang dia marahi! Kenapa jadi Lea yang tidak tau apa-apa!
“Lancang sekali perempuan ini!” Istri Pak Toni menerjang kedepan. Semua jadi terlalu gaduh ketika mulut mereka saling bersahutan sementara dua lelaki lain mencoba memisahkan dengan mulut yang juga tidak kalah ribut.
Sampai ada seorang lelaki yang menarik pinggang Lea, hampir mengangkat wanita itu dari pijakannya. Semua orang kaget termasuk Lea. Dan ketika wajahnya menoleh, ingin melihat siapa yang sedang membawanya pergi menjauh, semua tenaga Lea terasa menghilang. Pantas orang-orang mendadak diam. Bukan hanya karena terkejut, tapi menyadari aura lelaki ini yang terlalu mendominasi. Lelaki yang tidak pernah ingin lagi dia temui. Namun ketika bertemu, tubuhnya hanya pasrah mengikuti.