Aira 2.

1014 Kata
Mas Azam, hubungan mereka cuma terjalin selama kurang dari satu tahun dan langsung melamar Aira pada keluarga nya. Selain umur mereka yang sudah cukup untuk menikah juga lama pacaran akan menambah dosa jika terus berduaan. Di balik sikap tegas mas Azam ada keposesifan yang tidak bisa di tawar. Mas Azam yang posesif kepada Aira dalam hal kecil pun. Aira jangan di tanya dimana reaksinya di awal hubungan mereka rasanya pengin nangis. Bahkan Aira tidak boleh bicara pada sesama dosen dan lebih parah mas Azam akan menunggu Aira ngajar dan duduk di kursi paling belakang. "Di mana kalian akan tinggal menikah nanti?" Baik umi atau Abi belum tau di mana mereka akan tinggal setelah menikah. Anak perempuan yang sudah menikah akan ikut suami. Pasti mereka sudah membahas sejak awal. "Nggak jauh umi, dekat sini kok," Beri tau Aira pada orang tuanya. "Dimana?" Tanya umi dan abi barengan. Sebagai orang tua tidak ingin terlalu jauh sama anaknya dan pasti ingin mengunjungi sesekali jika ada waktu luang atau menyempatkan diri kala sibuk. "Umi ingat rumah yang di bangun beberapa bulan di ujung jalan sana?" Di ujung jalan maksud Aira itu yang berjarak lima ratus meter dari rumah mereka. Di area sana bukan perumahan tapi rumah desain sendiri sebab mereka lebih memilih beli tanah kosong lalu di bangun tapi bangunan di sana rapi susunannya. "Iya rumah klasik itu kan, selera orang yang punya rumah bagus sekali umi jadi pengen," Warga sekitar tidak asing lagi sama bangunan baru sekitar mereka. Rumah dengan desain klasik yang terlihat kecil di depan tapi besar jika sudah masuk. "Itu rumah mas Azam umi," Kedua orang tua Aira kaget tidak percaya sebab selama ini tidak pernah di kasih tau siapa pemilik rumah baru itu sebab pemiliknya juga tidak pernah datang dan ternyata punya calon membantu mereka yang nakal sah beberapa puluh jam lagi. "Kenapa baru bilang sekarang," Aira tersenyum manis. Bukan hanya umi yang baru tau tapi dirinya juga. Calon suaminya itu benar benar pengertian kalau soal keinginan Aira tanpa di beri tau. "Jangan kan umi, Aira di beri tau saat mengurus surat pengunduran diri dari kampus sekaligus di ajak liat rumahnya," Tidak salah posesif mas Azam jika hal seperti ini sudah dia rencanakan. Sebagai lelaki dia pasti tau Aira tidak bakal mau di ajak tinggal jauh selain itu mas Azam kerja di kota ini jadi lebih baik membangun rumah dekat orang tua Aira dari pada dekat kampus yang lebih hemat waktu. Dia ingat kebahagiaan istri lancarnya rezeki suami. Jangan anggap rezeki suami lancar karena rajin kerja itu salah satu alasannya tapi pendukung nya adalah ada doa istri setiap langkah kaki suami. "Selain posesif juga pengertian calon mantu Abi itu," Abi ingat kalau sudah datang ke rumah ngapelin Aira pasti bakal melarang Aira duduk dekat Abi. Bukan cemburu tapi dia pernah bilang' kalau mau dekat Aira duduknya tunggu dia pulang dulu sebab dia juga mau'. Alasan apa itu yang dengan santai bilang gitu. Mereka memaklumi semua itu. "Tapi jangan salah Abi calon mantu Abi itu banyak jadi incaran para orang tua mahasiswa bahkan ada yang bilang nggak apa jadi yang ke-dua. Gila apa Aira punya madu, kalau madu lebah Aira mau," Sifat tegas dan killer mas Azam tidak bisa menutupi ketampanan nya yang bakal banyak orang tua meminta dirinya jadi menantu. Jadi beruntung lah kamu Aira yang tanpa berjuang malah di perjuangkan. "Lagian tipe seperti Azam nggak bakal tergoda sama yang seperti itu. Dia juga tau mana batu kali mana berlian," Tambah umi. Keposesifan mas Azam tertutupi dengan cinta kasih sayang yang melimpah dia berikan pada Aira. Orang tua mas Azam saat pertama kali mengenal Aira langsung suka karena pembawaan Aira yang sopan juga tutur kata yang lembut. "Batu akik nggak Abi?" Goda Aira melihat batu akik besar di tangan Abi. Walau satu cukup menonjol. "Ini batu keramat tidak bisa di bandingkan sama yang lain," Abi mengusap batu itu pelan. "Iya Aira tau, pesona batu itu malah kalah sama pesona umi," Ledek Aira melihat umi langsung memasang wajah jeruk nipis. Siapa yang tidak terima kalau dia kalah sama sebuah batu. "Kalau umi tidak ada duanya ini," Merangkul umi agar wajah jeruk nipis nya berubah jadi jeruk madu. "Hellow Kemal yang tampan datang," Teriak suara orang yang selalu percaya diri memasuki rumah itu. Ketiga orang itu hanya menggelengkan kepala, udah nggak heran fikir mereka. "Baca salam kalau masuk rumah bangke. Bukan teriak kayak lo pulang kampung," Tegur Aira sambil menggosok telinga dan berdoa agar telinga tidak cepat budek. "Nggak apa Ra, orang rumah juga udah maklum, iya kan umi Abi?" Yang di tanya hanya menggelengkan kepala. Mau bagaimana lagi, di bilang juga tidak bakal mempan ibarat nya kita memompa ban bocor nggak bakal nyimpan itu angin akan keluar lagi. "Jadi besok nikahnya? Nggak ada niat rubah fikiran?" Duduk di depan Aira sambil bertopang dagu di atas meja memasang wajah serius. "Nggak bangke, malahan Aira ada niat mau lempar abang dari ini rumah," Membalas ucapan Kemal yang terdengar seperti berharap. Tapi Aira tau Kemal sudah anggap dia seperti adik jadi tidak mungkin menaruh rasa sama Aira. Tapi satu yang di lupakan Aira,bahwa rasa itu bisa hadir kepada siapa saja kecuali saudara sebab rasa itu beda lagi. "Jahat banget ih," Rajuk Kemal meluruskan duduknya lalu mencomot kue yang tinggal beberapa potong di atas piring. "Bukan jahat bang, tapi cukup tau diri lah," Mereka semua tertawa melihat wajah merajuk Kemal yang tidak cocok sama wajah Coll tapi hot itu. "Tapi kalau ada niat mau selingkuh hubungi abang ya, masih nomor lama kok," Benar kata Aira harus tau diri sebab tau diri itu penting. Selain menyadarkan diri juga bagus buat perkembangan jiwa agar tidak miring. "Aira makin niat bom apartemen lo deh bang. Kesel lama lama bicara sama jomblo," Melempar Kemal menggunakan bantal sofa. Kenapa juga abang semata wayangnya betah berteman sama orang yang otaknya tidak cukup seperempat itu. Apa untung berteman kalau di ajak bicara suka bikin darah tinggi. "Tolong ya Aira yang cantik kalau bicara jangan bawa status sebab jomblo itu lebih menyakitkan dari pada liat mantan sama gandengan barunya," Dengan adanya Kemal di antara mereka obrolan mereka tidak garing ada saja yang bisa membuat mereka tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN