Pagi yang cerah awali dengan senyuman.
Sambut pagi dengan sejuta harapan.
Letakkan impian mu pada garis terdepan.
Letakkan harapan sejajar dengan itu.
Usaha maksimal agar semua itu tidak sia.
Pagi adalah awal kita memulai hari, kelancaran satu hari tergantung pada bagaimana kita mengawali pagi.
Jika kita mulai dengan baik maka hasilnya juga baik.
Awali dengan bismillah dan akhiri dengan Alhamdulillah.
Sambut dengan senyuman di tutup dengan penuh harap.
Harapan tanpa usaha hasilnya sia sia.
Usaha yang tidak punya tujuan sama seperti berlayar di laut lepas tidak melihat daratan dan kapan akan menepi.
Kita di ciptakan berpasangan dan pasangan kita bisa di dekat kita, sedikit jauh atau memang jauh.
Ingat jodoh tau kapan pulang dan tau jalan pulang.
Jodoh itu hanya dua kemungkinan setelah di lahirkan antara masih di tangan orang atau lagi di jalan.
Setiap yang menemukan pasangan maka akan di ikat dengan yang namanya pernikahan.
Memiliki pasangan tanpa ikatan sama saja memberi orang kesempatan buat menikung.
Ingat tikungan itu tidak ada yang enak.
"Aira gimana semuanya udah siap?"
Pernikahan Aira tinggal menghitung jam akan di laksanakan.
Menikah dengan pilih hati akan berbeda dengan di jodohkan atau hal semacam lainnya yang membuat kita menyatu tanpa di minta.
"Udah umi, tinggal menunggu besok aja,"
Ini sudah sebulan sejak hari itu dan juga sudah sebulan juga sejak Key datang ke apartemen Ken.
Sejak saat itu Key belum pernah datang lagi dan juga sibuk ujian semester dan baru selesai.
"Semoga pernikahan kamu langgeng ya dan nurut apa kata suami.
Ingat ridho suami lebih penting dari segalanya,"
Nasehat umi, walau berat melepaskan anak gadis satu satunya harus di pinang orang tapi jika dengan orang yang tepat umi lega setidaknya Aira sudah ada yang bertanggung jawab atas dirinya.
"Iya umi, Aira akan selalu ingat nasehat umi,"
Mereka sudah selesai makan malam dan lagi duduk di ruang keluarga bernuansa jati itu.
Rumah umi itu bagian depan itu kayu dan belakang permanen seperti kamar dan tingkat dua.
Jadi kalau di perhatikan dari depan akan seperti rumah kayu tingkat dua jika tidak masuk ke dalam.
Ini mau umi yang ingin rumah adem tanpa harus menggunakan AC atau kipas angin.
"Abi merasa udah tua, gadis kecil abu udah mau nikah dan bakal meninggalkan rumah ini.
Rasanya baru kemarin kamu minta boneka Barbie,"
Keluh Abi yang merasa waktu berjalan begitu cepat.
Jika di lihat ke belakang lagi baru kemarin dia menikahi umi dan sekarang anak mereka sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri juga bakal meninggalkan mereka berdua.
Seperti dalam kartu keluarga yang awalnya mereka berdua jadi bertiga hingga berempat sama Aira dan kini akan mulai berkurang dengan menikah nya Aira dan nanti di susul Ken dan pada akhirnya isi kartu keluarga itu akan berdua lagi.
"Abi nggak boleh sedih gitu, biar bagaimanapun Abi tetap cinta pertama Aira nggak bakal ada yang ganti.
Nanti abi bakal bisa beli boneka Barbie lagi kok,"
Memeluk lelaki yang sudah tidak muda lagi.
Cinta pertama anak perempuan adalah ayah mereka.
Jadi buat kaum Adam jangan terlalu percaya diri kalau kalian merasa kamu cinta pertama doi.
Ingat sebelum ada kamu ayahnya lah yang memberi banyak cinta tanpa di minta dan tanpa minta balasan.
Jadi kalau sudah putus dan sulit melupakan bukan karena cinta pertama ada kemungkinan kalau kamu memiliki kesan baik selama menjalani hubungan.
"Mana ada seperti itu kamu udah besar ini,"
Mengelus kepala anak gadis yang sebentar lagi akan menikah.
Gadis kecil yang dulu suka mengikuti kemana pun Abi pergi dan lebih dekat sama Abi dari pada umi.
Memang seperti kenyataannya kalau anak perempuan dekat sama ayahnya dan anak lelaki dekat sama ibu nya.
Biar adil.
"Bisa lah Abi, kan nanti bakal ada cucu Abi gimana sih Abi bisa lupa.
Emang nggak mau cucu apa?"
Mengerucutkan bibir ke depan seperti bebek.
Emang kalau Aira menikah tidak bisa membelikan barang kesukaan Aira kecil.
Jawaban nya bisa sebab bakal hadir Aira kecil yang pasti bakal lebih menggemaskan lagi.
"Iya Abi sampai lupa kan bakal ada Aira kecil ya yang bisa Abi belikan Barbie atau robot robotan,"
Senang abi dengan wajah cerah seperti dapat pencerahan setelah sesaat tersesat pada fikiran sempit.
"Nanti abi bebas membelikan apa aja buat cucu Abi nanti juga ada anak bang Ken jadi abu tenang aja ya,"
Sekarang mereka hanya bertiga dan Ken lagi keluar sama Kemal ada urusan.
Tumben dua bujang menjelang lapuk itu keluar malam, apa lagi dapat pencerahan atau dapat hidayah.
Abi cuma punya dua anak karena rahim umi sudah di angkat karena kanker jadi buat menghindari segala hal buruk maka mereka harus mengikhlaskan rahim umi di angkat dan mengubur niat memiliki anak hingga lima.
Lebih baik begitu dari pada harus cepat kehilangan umi.
"Kalian nunda punya anak atau pakai pil kontrasepsi ya sebab itu nggak baik.
Lebih baik langsung punya anak dari pada makai itu.
Ingat sebuah keluarga akan tambah hangat dengan kehadiran seorang anak,"
Nasehat umi lagi, umi sudah mengalami itu sendiri saat menikah sama abj saat masih kuliah dan mereka menunda punya momongan dan pakai pil kontrasepsi jadi dampak nya rahim umi bermasalah.
Entah karena itu atau emang rahim umi yang sudah sakit sejak awal jadi dengan memakai itu bisa jadi pemicu.
"Iya umi, kami juga udah membicarakan ini nggak bakal nunda punya momongan selain rumah ramai juga nanti mas Azam kerja Aira ada teman di rumah.
Kan setelah nikah Aira nggak boleh kerja lagi,"
Nama calon suami Aira biasa di panggil Azam.
Dosen Aira di kampus dulu.
Dosen killer jika sedang mengajar bahkan tidak ada toleransi jika ada yang berbuat salah.
Sama seperti menyukai Aira tidak ada toleransi atau penolakan.
Bukan perkara mudah pertama kali Aira menjalani hubungan sama mas Azam.
Mas Azam yang tegas juga pemaksa sulit Aira imbangi di awal hubungan mereka dan juga merasa tidak mungkin menjalin hubungan sama dosen sendiri meski umur nya sudah mau masuk kepala tiga.
Dua tahun lebih tua dari Ken.
"Iya pokoknya harus langsung jangan di tunda nak,"
Aira mengangguk mantap.
Mas Azam juga minta itu, segala hal sudah di bahas.
Mulai dari Aira yang berhenti kerja sejak seminggu yang lalu, langsung memiliki momongan tidak di tunda hingga di mana mereka bakal tinggal nanti.