Ken belum tidur ini baru jam delapan malam masih terlalu cepat buat menutup mata biasanya Ken akan tidur jam sembilan malam atau lebih dikit.
Sebenarnya itu bukan jam tidur orang dewasa yang bakal tidur di atas jam sepuluh malam paling cepat.
Tapi Ken beda, selain jarang bawa kerjaan pulang ke rumah Ken juga jarang keluar malam jadi jangan heran kalau lelaki tampan yang masih betah menjomblo itu suka tidur cepat.
Ini juga karena dia sendiri kan jadi tidur cepat juga tidak masalah beda kalau ada istri maka harus tidur lama karena kalau tidak orang yang tau akan beranggapan kalau istrinya jarang di pakai sebab cepat tidur.
Ingat fikiran orang kadang terlalu kreatif hingga kegiatan kita dia pantai lalu di komentari.
Biasa orang kurang kerjaan.
Saat Ken lagi asik main ponsel pintu apartemen terbuka lalu menampakkan lelaki tampan masuk hanya menggunakan baju kaos dan celana pendek di atas lutut.
Kalau ada yang lihat pasti bakal ngiler gimana tidak baju kaos pas bodi di tambah celaan pendek yang di atas lutut, siapa yang bisa mengalihkan pandangan dari dia.
Yang masuk itu adalah Kemal.
"Lo udah makan Ken?"
Kemal duduk sambil meletakkan kantong belanjaan yang dia bawa dari sebelah tempat dia.
"Udah barusan,"
Balas Ken terus fokus sama hp, kalau di rumah Ken suka menonton acara acara yang menarik menurutnya.
"Lo masak?"
Kan jarang Ken mau masak malam kecuali Kemal biasa yang di suruh.
"Nggak tadi ada yang masak,"
Kemal menaikkan sebelah alis.
Siapa yang masak fikir dia.
Ken tinggal sendiri sama seperti dirinya kalau tukang bersih sudah pulang sejak siang jadi ada makhluk lain yang masak gitu.
"Siapa?"
Ken terdiam kenapa merutuki mulutnya yang kelepasan.
Kenapa juga bilang ada yang masakin.
Nggak bakal kelar kalau tidak di beri tau.
"Maksud gue, gue yang masak,"
Kilah Ken semoga Kemal percaya dan tidak bertanya yang aneh aneh.
"Lo kasih tau sendiri atau gue cari tau?"
Sial Kemal terlalu pintar untuk di kibulin, mana bisa dia terima saat jawaban pertama beda sama ke dua.
Kemal bukan tipe orang yang bisa di bohongi.
Otak jeniusnya sulit di kalahkan.
Cuma satu yang belum bisa Kemal hilangkan yaitu jomblo.
Satu kata itu cukup menyayat hati kalau di bahas terus dan ingin rasanya menghajar orang yang meneriaki dia jomblo tapi kalau kenyataan dia bisa apa.
"Itu tadi gue kan pesan bahan bahan terus di antar nah yang nganter itu gadis bau ingus itu lalu saat gue usir eh di malah masak padahal gue nggak nyuruh,"
Lebih baik jujur dari pada Kemal cari tau dan diberi tau sama umi bakal panjang urusannya.
Lupa jika lidah Kemal paling ahli kalau soal adu domba dan itu adalah bakat terpendam Kemal yang sangat di larang buat di tiru.
"Gadis imut ikut itu Ken? Wah cocok itu jadi sugar baby lo,"
Mencari sugar baby gila aja, bukan sifat Ken itu.
Masih banyak yang cukup umur dan bisa di ajak nikah.
Nggak zaman pakai sugar baby nambahin dosa.
"Gue bukan lo yang saking nggak lakunya sugar baby pun jadi.
Kasian sekali hidup lo,"
Ken masih waras buat bermain main.
Lagian dengan segala yang sudah Ken punya buat apa main main lagi lebih baik langsung nikah dapat pahala dapat pula enaknya.
"Gue mah ngalah sama lo doang, kalau lo udah ada jodoh maka jodoh gue juga ada,"
Di kira jodoh itu datang barengan apa?.
Jodoh itu tidak tau kapan datang dan di mana.
Jodoh kita punya jalan pulang masing masing jadi tidak datang sama sama.
"Terserah lo capek ngomong sama lo.
Ngapain sih tiap malam kesini terus gue aja ampe bosan liat wajah lo yang biasa biasa aja,"
Ken melangkah menuju kulkas mengambil minuman tidak lupa buat Kemal juga.
Sebagai tuan rumah yang baik harus menjamu tamu setidaknya minuman walau instan.
"Ini masakan dia?"
Kemal membuka lemari makanan Ken yang masih ada sisa masakan Key tadi.
Di cobanya.
"Enak Ken, udah cocok jadi istri walau kecil gitu,"
Kok kecilnya terdengar ambigu ya.
Tolong Kemal ngomong kecil nya di perjelas.
Kecil itu dalam bentuk apa? Kecil umur, kecil badan atau kecil yang lain.
Orang bisa salah paham kalau tidak di jelaskan.
Ken balik lagi ke sofa sambil membawa minuman yang sudah habis setengah.
Di rumah Key setelah mengantar pesanan Ken tadi dan juga memasak di sana Key pulang namun sebelum itu mampir dulu ke rumah Kesya.
"Mama Key yang cantiknya di bawah Key, Kesya nya ada?"
Key agak lebih sopan datang bertamu ke timbang Kesya yang langsung masuk dan kalau tidak di tegur bisa kelepasan langsung ke kamar Key.
"Key yang cantik biasa biasa aja, Syasa ada di kamar mungkin lagi semedi,"
Balas mama Kesya tak kalah melenceng.
"Apa yang mau di semediin ma, meratapi nasib ya,"
Mama sampai tepuk jidat mendengar pertanyaan Key, kadang ada niat tidak mau membalas ucapan Key kalau datang.
"Bukan meratapi nasib, tapi mendoakan supaya nggak jomblo lagi,"
Kenapa sekarang mama Kesya sudah ketularan mereka berdua yang kurang waras.
Bukan ketularan Keysa tapi ini faktor keturunan kayaknya jadi di harapkan jangan heran.
"Udah ya ma kalau bicara lama lama sama mama Key jadi oleng,"
Key masuk ke kamar Kesya yang tidak di kunci tau kenapa sebab kalau Key datang dan kamar di kunci maka akan Key gedor tanpa koma.
Ngerti kan maksudnya tanpa koma , ya itu di gedor tanpa henti hingga pintu itu terbuka.
"Sya gue lagi senang hari ini,"
Menghimpit Kesya yang lagi tiduran di atas kasur yang hampir sama besar sama milik Key.
"Sejak kapan lo bahagia?"
Mendorong tubuh Key yang terasa berat.
Badan Key cuma cover kecil tapi aslinya berat seberat rindu sama doi.
"Ih bukan itu maksud gue Sya, tadi kan di suruh ayah ngantar pesanan pelanggan karena karyawan lain sibuk.
Awalnya gue nolak tapi dengan berat hati gue pergi dan lo tau tempat siapa yang gue datangi.
Tempat tinggal om om tampan itu Sya, mimpi apa gue semalam,"
Menceritakan kejadian barusan di apartemen Ken yang mana cuma Key yang senang.
Menikmati ekpresi wajah Ken yang kesal sama Key yang menggoda dirinya.
"Sumpah demi apa Key, kenapa nggak ngakak sih,"
Nah kan kegirangan juga.
Untung tadi Key nggak beneran nolak kalau iya bakal nyesel sampai tahun depan Key nya.
"Mana gue tau, kapan kapan gue ajak ok,"
Mereka terus berbincang hingga pintu kamar Kesya terbuka.
"Key nggak pulang udah malam ini,"
Wajah Key masam.
Di usir itu tidak enak.
"Iya ma, nggak harus di usir juga kan ma,"
Key berdiri dari tidurnya lalu menyisir rambut depan kaca.
"Tamu harap tau diri Key kalau tuan rumah mau tidur,"
Wajah Key tambah masam.
Di usir tidak seberapa tapi kena sindir itu yang tidak enak.