Key Ngebet.

1000 Kata
Hingga jam pulang kantor Ken memilih berada di ruangan Kemal malas balik lagi dan barang pribadi nya menyuruh sekretaris untuk mengambil. Sekalian sekretaris itu membereskan ruangan Ken, ya ruangan itu di bereskan sekretaris bukan bagian kebersihan kantor. Entah mengapa Ken kurang suka saja dan juga tugas itu sudah punya gaji sendiri jadi siapa yang tidak mau bukan tidak berat juga tugasnya. "Ini pak barang barangnya," Meletakkan semua barang Ken ke atas meja. "Makasih ya, kamu langsung pulang aja salam sama baby nya," Sekretaris Ken sudah menikah dan punya seorang baby berumur satu tahun. Ken sebenarnya bos yang baik hanya saja jangan pernah ganggu jam makan siangnya apa pun alasannya kecuali orang tua dan Aira yang datang maka mereka boleh masuk tapi tidak dengan membuka kasar pintu ruangan nya. "Iya pak, permisi pak Ken, bangke," Melirik Kemal sebelum keluar ruangan sebelum di teriaki karena di panggil bangke. "Itu sekretaris minta di lempar dari atas ini apa, enak banget manggil bujang Ami ini bangke. Sikap dia tuh yang bangke," Kesal Kemal kenapa sekretaris itu berani sama dia, untung dia sekretaris Ken bukan dia kalau tidak udah Kemal pindah tugaskan. Saking kesalnya. "Lah salah dia dimana? Dia kan manggil lo abang jadi kalau manggil cepat jadi bangke," Ken tertawa sama tingkah Kemal yang satu ini, paling anti di panggil bangke berasa jadi binatang mati kali ya. "Lo nggak sadar kalau lo di panggil bangke juga sama calon istri nggak jadi gue. Kurang apa coba gue sampai di tolak," Menyisir rambut menggunakan jari, kurang modal kali nyisir pakai jari. Bodo amat tanggapan orang kalau ada yang lihat asal tidak merugikan saja. "Aira mah tau mana yang waras, mana mau dia ntar anaknya gesrek kayak lo dan pastinya lagi gue nggak mau punya adik ipar seperti lo," Ken berjalan duluan keluar ruangan Kemal. Puas melihat wajah jeruk nipis Kemal dan di susul Kemal takut pintu lift keburu tutup dan malas nunggu sendirian. "Kalau Aira mau lo bisa apa?" Masuk ke dalam lift yang hanya ada mereka berdua saja. Lift beranjak turun. "Kalau Aira mau yang pasti gue bakal bilang sabar punya suami kayak lo tapi sebelum Alhamdulillah Aira sadar kalau dia butuh suami waras," Pintu lift terbuka. Berjalan menuju lobi di sana sudah ada mobil Ken dan Kemal yang terparkir rapi. "Kapan lo bakal dukung gue sih Ken, sahabat nggak ada akhlak," Dengus Kemal sambil menerima kunci mobil. "Lo berat," Ken masuk mobil lalu melajukan mobil lebih dulu di susul mobil Kemal dari belakang. Tujuan Ken sekarang adalah apartemen yang tidak jauh dari kantor. Apartemen pribadi Ken juga bersebelahan sama Kemal. Karena apa, dimana ada Ken maka di situ Kemal juga ikut. Mereka sudah klop sejak dulu. "Pesan kebutuhan dulu kali ya," Ken menelpon seseorang tempat dia biasa memesan segala kebutuhan di apartemen nya. Setelah itu Ken mandi. Selesai mandi dan memakai baju bel apartemen Ken bunyi. "Masuk aja dan tarok di atas meja," Ken tidak melihat siapa yang ngantar jadi langsung nyuruh masuk. Sambil masih fokus mengering kan rambutnya yang basah. Saat orang itu berbalik badan. "Om," Seru orang yang mengantarkan barang itu sambil tersenyum senang. Jodoh nggak kemana fikirnya. "Kamu ngapain masuk sini, keluar," Usir Ken merasa tidak enak perasaan takut ada fitnah saat mereka berada dalam ruangan yang sama. "Kan Key antar pesanan om, kalau tau ini pesanan om pasti nggak bakal nolak Key saat minta di antarin ke sini," Orang yang mengantarkan pesanan Ken adalah Key. Ken memesan kebutuhan pada toko ayah Key yang terkenal kwalitas sama harga yang tidak mahal. "Udah kan, sekarang silahkan keluar," Biasanya yang nganter lelaki,Ken juga tidak nyangka kalau bakal Key dan juga dia tidak tau itu toko ayah Key. Key untung Ken buntung, bertemu orang yang sangat Ken hindari. "Kan baru bertemu om, ngobrol dulu yuk atau mau Key masakin makan malam," Tawar Key agar bisa lebih lama lagi berada di sana. Kapan lagi coba. "Nggak makasih," Tolak Ken, bisa darah tinggi lama lama bicara sama Key yang sayangnya imut di mata Ken. Sial, rutuk Ken. "Ok om, mau di masakin apa. Walau Key kecil gini kalau soal masak nggak perlu di ragukan lagi om," Key langsung ke dapur mengambil bahan masakan dari dalam kulkas lalu mulai memasak. "Kapan gue izinkan coba padahal barusan gue usir," Ken ngekor ke dapur melihat apa yang Key lakukan. Merasa kurang yakin sama kemampuan Key dan takut dapurnya ke bakar saat Key masak. "Udah cocok belum om jadi istri om?" Key menoleh pada Ken yang berdiri di dekat kulkas. "Udah cocok jadi pembantu gue," Sinis Ken melihat Key yang cekatan dalam memasak. Tidak butuh waktu lama masakan Key selesai lalu di tata di atas meja. "Udah kan jadi sekarang silahkan pergi," Ken tidak mau melihat Key lagi dan juga penasaran sama rasa masakan Key. "Jadi gimana om, Key udah bisa masuk kategori calon istri belum?" Key selesai menata makanan juga piring. "Sekolah yang benar dulu," Menarik tangan Key keluar dari apartemen nya lalu mengunci dari dalam. "Tapi janji ya om tunggu Key tamat sekolah dulu, jangan khianati Key," Teriak Key sebelum pintu itu benar benar tertutup. "Si om kenapa sih? Apa yang kurang dari Key coba? Cantik pasti,ikut nggak bisa di bohongi juga ini nggak kalah besar cuma karena tertutup baju aja jadi nggak keliatan," Melirik ke arah d**a yang terlihat rata sebab Key pakai baju kebesaran kesukaan nya Di dalam apartemen Ken. "Masih bau ingus mikirin jadi istri, bisa apa dia ntar di ajak gelud di ranjang nangis," Ken pergi menuju meja makan dan melihat hasil masakan Key yang cukup menggugah selera. Ken mencoba satu sendok. "Beneran enak!" Puji Ken pada masakan Key yang terasa pas di lidah Ken. Ternyata ucapan dia tidak bohong, monolog Ken sambil terus makan. "Tapi tetap nggak anak kecil juga, liat aja badan kecil gitu pakai baju kebesaran pasti isinya juga kecil," Ken selesai makan lalu menaruh piring kotor di wastafel agar di bersihkan sama si mbak yang datang tiap pagi sebelum Ken berangkat kantor. Ken tidak tau saja kalau yang tertutup di baju kebesaran itu isinya bisa membuat Ken melek sampai pagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN