Masalah Hati.

1033 Kata
Saat sedang asik makan siang tiba tiba pintu ruangan Ken terbuka menampakkan seorang perempuan cantik dengan tampilan modis serta bagi siapa saya yang melihat akan terpikat. Yang punya ruangan melihat pintu ruangan terbuka tiba tiba merasa tidak enak. Melirik orang itu dengan tatapan tajam. Ini di saat dia makan tapi ada yang ganggu jangan harap akan di maaf kan gitu aja. " Punya sopan santun nggak, itu pintu gunanya untuk di ketuk bukan jadi pajangan," Bentak Ken sambil mencuci tangan meninggalkan makanan yang baru habis separuh. Selera makanya langsung hilang. Tidak akan melanjutkan lagi sebab Ken paling malas jika ada yang ganggu selama dia makan kecuali datang sebelum makan maka di toleransi. "Maaf pak Ken, mbak nya maksa masuk padahal sudah saya kasih tau kalau bapak tidak bisa di ganggu kalau lagi makan," Sekretaris Ken menunduk merasa bersalah tidak bisa menahan dia masuk ke dalam ruangan bos nya. "Kamu balik kerja," Suruh Ken, dia tau kalau sekretaris sudah melakukan yang terbaik buat dia. Ken juga tau kemampuan sekretaris nya selama ini, belum pernah melakukan kesalahan fatal dan masalah penerobos ruangan nya bukan salah sekretaris nya. Ken tau itu. "Permisi pak," Pamit sekretaris itu dan meninggalkan ruangan bosnya setelah menunduk hormat. Tadi juga tau kalau bentakan itu bukan di tujukan pada dirinya. Selama ini tamu Ken mengerti kalau dia kasih tau Ken tidak bisa di ganggu selama makan dan mereka mengerti sebab menunggu selesai makan tidak akan lama apa lagi orang nya ada di tempat kecuali makan di luar tidak tau kapan balik. Setiap orang punya aturan dan kita harus mematuhi atau setidaknya mengerti kenapa orang itu membuat peraturan pasti ada alasannya. Dan ini lah kalau Ken di ganggu sedang makan maka tidak akan di selesaikan. Ibarat di tinggal lagi sayang sayangnya. "Ken jangan marah sama dia, aku yang salah," Suara lembut itu menusuk telinga, ya walau lembut tapi itu hanya tipuan saja. Siapa yang tau ada apa di balik kelembutan itu. "Emang kamu yang salah, kamu fikir saya akan memarahi karyawan saya gara gara kamu, mimpi," Nada suara Ken tidak bisa di ajak kompromi lagi. Lagian bos bodoh mana yang memarahi karyawan hanya demi orang lain yang bukan siapa siapa. "Ken kamu jahat," Memegang tangan Ken sambil memasang wajah memelas. Berharap Ken akan luluh, biasanya lelaki tidak tahan sama tampang seperti itu tapi tidak berlaku untuk Ken. "Iya saya memang jahat dan itu tidak bisa di pungkiri. Silahkan keluar," Usir Ken jika lebih lama lagi mood Ken bakal hancur. Ken benci orang yang tidak mematuhi aturan dia. Apa salahnya menuggu sampai dia selesai makan tidak lama juga paling cuma beberapa menit. "Ken kamu nggak hargai aku datang jauh jauh kesini, aku chat juga nggak kamu balas, aku ajak bertemu juga nggak mau," Dia orang yang sama ngajak Ken ketemu kemarin tapi di abaikan tadi pagi masih ngajak bertemu tapi ya gitu Ken bodo amat. Pegangan tangan itu Ken hempaskan, merasa tidak nyaman di pegang sama orang lain kecuali Ken suka sama orang itu. "Memang nya kamu siapa saya hah, cuma teman ingat jangan melebihi batas. Buat apa saya tanggapi itu sama saja saya mengasih harapan," "Mal bawa dia keluar," Ken tidak suka di atur misalnya di ajak bertemu mau, di chat balas. Buang waktu fikir Ken. Dengan tenang Kemal menyeret tangan dia yang di tahan karena belum mau keluar. Dia yang susah payah datang masa di usir gitu aja. "Lepas Kem aku belum selesai sama Ken," Berontak dia yang tidak mau pergi dari ruangan Ken. Menyentak tangan Kemal hingga pegangan itu terlepas dan mendekat pada Ken lagi. "Ken mau ya nanti malam kita dinner," Bujuk dia sambil menampilkan senyum manis, tidak goyah dalam menarik perhatian Ken. Punya seribu cara agar Ken luluh. "Ayo Mal kalau dia tidak mau pergi biar kita yang pergi," Ken keluar ruangan di ikuti Kemal. Tidak peduli sama dia yang masih berada dalam ruangan Ken. Lagian di dalam sana tidak ada berkas penting yang Ken letakkan. "Ken tunggu," Menyusul Ken yang sudah keluar ruangan itu namun saat dia melihat tidak ada jejak Ken atau Kemal mereka berdua hilang tanpa jejak. "Kenapa cepat sekali menghilang," Memilih pergi dari sana, yang di tuju tidak ada lagi nampak batang hidungnya. Sepertinya Ken punya jurus seribu bayang sama seperti dia yang punya seribu cara. Jadi impas. Sedangkan dalam ruangan Kemal, ya mereka masuk dalam ruangan Kemal yang terletak bersebelahan sama ruangan Ken namun tidak seperti ruangan karena pintunya nyatu gitu sama dinding jadi hanya orang tertentu yang tau dan bisa berguna seperti sekarang. "Kenapa nggak lo terima aja sih dia, cantik iya, body pas di pegang, di ajak kemana mana nggak malu maluin apa lagi kurang nya coba?" Ken duduk di sofa ruang kerja Kemal. Isi ruangan mereka berdua hampir sama tidak jauh berbeda. Kenapa bisa begitu itu adalah permintaan Kemal yang ingin ruang kerjanya seperti Ken dengan dalih ' sebagai bos yang baik dan juga pengertian lo jangan pelit ya, gini gini tugas gue nggak kalah berat nggak ingat lo saat lo nggak bisa hadir siapa yang gantiin lo, saat lo malas siapa yang bantu kerja lo? Saat lo bad mood siapa yang hibur dan satu lagi saat klien marah lo telat datang siapa yang kena amukan jadi ini belum seberapa'. Jadi ini lah hasil cerocosan Kemal pada Ken hingga ruangan kerjanya tampak mewah. Bawahan tidak tau diri, dia kira kerja di sana gratis nggak bayar berani bilang gitu. "Ini masalah hati Kemal bukan fisik ok. Sampai sini lo paham?. Masalah hati tidak ada yang bisa paksakan itu murni dari dalam diri. Jangan paksakan hati pada orang yang tidak punya hati yang ada bakal sakit hati. Berilah hati kita pada orang yang bisa menjaga hati agar hati bisa di jaga hingga mati bukan sampai hati menyakiti. "Di coba dulu nggak salahkan Ken?" Kemal juga merasa sedikit kasian sama dia tapi juga tidak bisa berbuat banyak. Kalau masalah hati Kemal tidak mau ikut campur. "Kalau masalah hati nggak bisa di coba Kemal. Nah gini gue coba sama dia terus dia udah baper dan gua nggak punya perasaan apa apa sama dia dan itu lebih menyakiti dia lagi jadi lebih baik kayak gini," Jelas Ken yang membuat Kemal mengangguk mengerti. Lebih baik jangan pernah memulai sesuatu yang kita sendiri sudah tau seperti apa hasilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN