Saat sudah menunjukkan jam istirahat sekolah, semua murid berhamburan menuju kantin sekolah ada juga yang ke perpustakaan atau ke taman sekolah karena ada yang membawa bekal.
Ingat bukan ada usia dini saja yang bawa bekal ke sekolah tapi setiap orang.
Bekal itu tidak pandang usia tapi sifat masing-masing orang.
"Key mau makan apa? Ingat ya Key pesan yang pernah ada udah nggak ada,"
Kesya malas kali kalau di suruh pesan yang pernah ada.
Karena semua menu di kantin emang pernah ada.
"Batagor kayak nya enak Sya, sama aqua dingin aja ya,"
Nah ini baru bener.
Jangan bilang biasa sebab yang biasa itu udah nggak tren lagi.
Udah basi.
"Ini baru bener otak lo Key, kalau kayak gini gue merasa waras ngajak lo ngomong,"
Pengen kotak kepala Kesya, sadar tidak sih kalau dia membicarakan diri sendiri.
Jarang waras kamu Sya, malah ngatain Key lagi.
Urut d**a Key sama sabar.
"Dia yang nggak waras malah ngatain gue, sabar Key yang waras ngalah biasanya,"
Gumam Key sambil memainkan hp menunggu pesanan datang.
Sudah jadi tugas Kesya memesan makanan saat jam istirahat sekolah.
Bukan karena di suruh tapi Kesya yang mau sendiri jadi jangan anggap Key teman yang kurang ajar juga.
"Nih batagor rasa dulu,"
Kesya meletakkan sepiring batagor dengan lelehan kuah kacang di hiasi sama saos dan kecap.
Hhmm aroma kacang sangat menggugah selera.
Jadi ngiler.
"Emang kalah batagor sekarang beda rasanya?"
Key makan satu sendok batagor itu.
Lalu.
"Masih sama Sya,"
Rasa Key batagor ini tidak ada bedanya.
"Makanya gue bilang batagor rasa dulu sebab nggak beda kan.
Jadi kali ini gue benar,"
Bisa aja ngeles nya kayak bajaj.
Mereka makan dengan tenang.
"Siang Key?"
Sapa seseorang lalu duduk di sebelah Key dengan membawa sepiring nasi goreng yang biasa aja.
Yap kenapa di bilang biasa? Kan nasi goreng itu pasti cuma ada telor dan sayuran jadi biasa aja.
"Siang juga Agra yang tampan,"
Balas Kesya, Agra manyun yang di sapa siapa yang jawab siapa?.
Tapi lebih tampan om yang kemarin, udah tampan wajah mapan isi dompet lagi, lagi Kesya dalam hati.
Jahat banget sih Sya.
"Eh ada Syasya,"
Sapa Agra balik.
Biar tak apa tidak di jawab sapaan sama Key tapi yang penting bisa duduk dekatan.
"Eh ada Agra,"
Kesya sebenarnya baik juga humble pada semua orang hanya saja mulut yang tidak ada rem membuat orang orang mikir mau dekatin.
Masih ingat tadi pagi kan kalau dia habis ledekin bang Satria.
"Pulang sekolah mau jalan nggak Key?"
Ya Agra suka Key sejak awal masuk sekolah hingga kelas tiga ini.
Namun usahanya belum ada membuahkan hasil.
Entah usaha Agra yang kurang atau Key yang tidak ada hati buat Agra.
"Iya biasanya juga jalan nggak ada lari, capek,"
Rasa ada yang menimpa di kepala Agra.
Bukan jalan itu maksud nya, ingin rasanya Agra berteriak di telinga Key.
"Maksudnya Ar kita jalan jalan dulu Key, nonton atau kemana gitu,"
Jika tidak ingat suka sama cewek yang lagi makan batagor ini sudah Agra bejek bejek sejak tadi.
Udah sapaan tidak di balas dan sekarang malah uji kesabaran.
"Nonton di rumah juga bisa Ar, nggak bayar lagi,"
Key juga tau Agra berusaha mendapatkan perhatian Key yang sayangnya Key cuek.
Key juga tidak ada rasa buat Agra, jadi sebisa mungkin Key menjaga jarak dan tidak mau terkesan memberi harapan.
"Ya udah Key kapan kapan aja ya,"
Agra pergi dari meja duduk Key.
Merasa usahanya kali ini masih belum berhasil.
Mau dengan cara apa lagi buat menarik Key agar melihat Agra.
Sudah sekali padahal Agra itu termasuk cowok tertampan dalam jajaran cowok populer di sekolah.
Aduh Key mau cari yang gimana lagi coba.
Tapi yang jelas seperti om om kemarin.
Udah matang umur juga rekening.
"Wah pesona Agra udah nggak mempan ya Key,"
Takjub Kesya yang tadi hanya melihat juga sekali gus kasihan sama Agra yang pergi membawa wajah jeruk nipis.
"Ya mau gimana lagi Sya, pesona om kemarin nggak bisa di tolak.
Eh Sya apa mau di pelet ya itu om om agar suka balik sama gue?"
Kesya tepuk jidat, dapat pemikiran dari mana Key ini.
Ini zaman sudah canggih masa masih ada yang pakai pelet buat memikat.
"Eh oncom nggak pakai pelet juga kali, ini zaman udah canggih Key,"
Kesal sama jalan otak Key, masa sampai kefikiran hingga ke sana.
Ya ampun suka sama orang gunakan cara baik baik jangan menempuh jalan yang salah.
"Tapi pokoknya harus dapat itu om om Sya, tau kan zaman sekarang nggak bisa modal cinta sama tampang doang tapi rekening juga harus mapan,"
Realistis nya gitu, makan cinta mana kenyang, modal tampang dapat apa?.
Pasti perlu di ikuti sama good rekening baru pas.
"Ok hidup om om,"
Teriak Kesya hingga pandangan orang kantin mengarah pada mereka berdua.
"Nggak teriak juga gila, nggak malu apa?"
Key segera lari dari kantin sebelum benar benar malu.
Kenapa juga Kesya teriak kuat banget lagi.
Di susul Kesya yang tidak mau jadi bahan olokan orang kantin.
"Sorry Key, kelepasan,"
Mereka masuk kelas tidak lama guru selanjutnya masuk dan pelajaran di mulai.
Hingga waktu bergulir dan sekarang sudah masuk jam pulang sekolah.
"Otak gue rasanya mau pecah Key,"
Mereka sudah jalan menuju halte.
Ya bang Satria tidak jemput karena ada tugas kuliah.
"Lah masih punya otak?"
Duduk di kursi halte, menunggu bus datang.
"Masih lah Key, hanya jarang di gunakan,"
Balas Kesya menopang kepala di bahu Key.
Key biarkan jika sudah begini berarti sahabat nya ini lagi capek.
"Sya dimana ya kita bisa bertemu om itu lagi?"
Key cukup penasaran sama Ken, suka sih tidak hanya saja dekat sama Ken seperti sama Satria abangnya.
Key juga sama seperti Kesya yang mudah dekat sama orang walau belum kenal.
"Nanti juga bertemu Key, ingat jodoh nggak bakal kemana,"
Kesya menutup mata sambil menunggu bus yang datang dalam sepuluh menit lagi.
Pelajaran hari ini memang menguras isi kepala karena pelajaran nya matematika, bahasa Inggris juga ada sejarah.
Kadang Kesya suka kesal sendiri kalau belajar sejarah menurut Kesya buat apa di pelajari lagi itu sudah jadi masa lalu cukup jadi kenangan tidak perlu di ungkit lagi.
Kalau otak terlalu cerdas ya gitu, emang tidak perlu di ungkit tapi sejarah yang mana dulu yang perlu jadi kenangan.