Ken sudah rapi menggunakan setelan jas kantor dan dia akan berangkat dari rumah umi.
Menjadi anak pertama dan sebagai lelaki Ken harus bisa membantu orang tua dalam mencari nafkah.
Apa lagi perusahaan Ken bukan berasal dari warisan keluarga mengingat Abi cuma seorang pedagang garmen yang tidak terlalu besar namun sudah banyak mengirim ke berbagai kota meski belum sampai ke luar Negeri.
"Umi Abi Ken berangkat dulu ya, libur Minggu depan Ken datang lagi,"
Pamit Ken setelah sarapan pagi.
Kemal juga sudah datang menjemput.
Mereka selalu pergi bersama jika hari Senin sebab Sabtu kemarin mobil Ken tinggal di kantor dan di antar Kemal jadi sekarang di jemput lagi.
"Hati hati ya nak, jangan lupa mantu pesanan umi,"
Umi mengusap kepala Ken tidak lupa melantunkan doa agar anaknya selalu dalam lindungan juga lancar segala urusannya.
"Iya umi, mantu umi pasti aman,"
Ken segera masuk mobil Kemal, jika lebih lama lagi akan panjang urusannya.
Mobil yang di kendarai Kemal melaju pelan saling beriringan dengan mobil lain menuju tempat tujuan masing-masing.
"Mal nanti nggak usah ada acara keluar gue lagi malas,"
Mereka baru setengah jalan, jalanan padat tapi tidak menimbulkan kemacetan.
Ken duduk di sebelah Kemal yang lagi nyetir.
Siapa yang nyuruh Ken duduk di depan tentu saja Kemal, sebab dia tidak mau di anggap supir oleh Ken jika dia duduk di belakang.
Pernah dulu Ken duduk di belakang Kemal diamkan.
Entah Ken sengaja atau tidak yang jelas Kemal kesal sepanjang jalan.
Hingga muncul ide licik di kepala Kemal.
Memberhentikan di restoran dengan alasan lapar tapi setelah Ken turun kemal langsung tancap gas meninggalkan Ken menggerutu karena di tinggalkan.
"Iya iya tau, Lo menghindari dia kan.
Ayo lah Ken lo udah tua mau sampai kapan sendiri terus,"
Mereka sampai kantor dengan jam kantor belum masuk.
"Lo sadar nggak sih kalau lagi ngomongin diri sendiri,"
Ken turun duluan setelah mobil berhenti lalu melangkah masuk ke dalam perusahaan nya.
Perusahaan ini hasil kerja keras Ken selama ini.
Sejak sekolah Ken hanya melakukan investasi saja pada beberapa bidang yang dia tekuni hingga tahun terus berjalan dan tabungannya cukup hingga Ken mengajak Kemal untuk membantu mendirikan perusahaan.
Maka sampai sekarang perusahaan Ken makin besar, berkembang dan di kenal berbagai Negara.
"Iya kah?"
Kemal menyusul Ken yang sudah berada dekat lift.
Kemal masuk lift menyusul Ken yang udah duluan.
Sampai di lantai paling atas Ken masuk keruangan kerjanya begitu juga dengan Kemal memilih menyelesaikan pekerjaannya dulu baru setelah itu merecoki Ken jika belum selesai.
Sekonyol apa pun Kemal tapi urusan pekerjaan tetap di utamakan dulu.
Drt,,,
Drt,,,
Hp Ken berdering tanda ada telpon masuk di lihatnya id penelepon.
"Hah dia lagi,"
Ken dengan setengah hati mengambil hpnya lalu menjawab telpon itu.
"Halo,"
Suara Ken terdengar pelan.
Ya namanya juga malas.
"Ken kenapa kemarin nggak datang sih, aku udah nunggu di tempat biasa kita nongkrong,"
Suara di seberang sana adalah suara perempuan lebih tepatnya yang lagi giat mengejar cinta Ken namun di abaikan.
"Lo kan tau gue nggak ada keluar kalau libur kerja.
Itu me time sama keluarga,"
Lagian itu bukan hal penting jadi buat apa datang.
Buang waktu mending sama umi, Abi dan Aira fikir Ken.
Jika hari Minggu jangan harap bisa dengan mudah mengajak Ken keluar jika tidak ada hal penting.
"Ya udah nanti makan siang gimana?"
Masih giat sama usaha buat mendapatkan simpati Ken.
"Hari ini gue nggak ada keluar,"
Tolak Ken lagi.
Setidaknya sampai sini dia sadar kalau Ken tidak ada rasa sama dia.
Jadi sebagai perempuan cukup sadar diri kalau perjuangan sudah tidak di hargai lagi.
Ken memutuskan sambungan telpon itu.
"Ganggu aja,"
Ken fokus lagi sama berkas yang lagi di periksa.
Perusahaan Ken bergerak di bidang yang sama dengan Abi.
Sekalian Ken mau membantu Abi nya dalam mengembangkan usaha yang sudah Abi rintis dari dulu.
"Ken stok kain songket nggak ada lagi ya?
Kemal datang di saat jam makan siang sebentar lagi.
"Itu udah di pesan, kayaknya lagi di jalan.
Tunggu aja.
Udah pesan makan siang?"
Hari ini mereka makan di kantor saja.
"Udah, seperti biasa rendang.
Menu andalan yang sampai kapan pun nggak pernah bosan,"
Setiap makan siang mereka pasti ada rendang di tambah menu lain.
Tapi cuma rendang saja tidak menu makanan Padang lainnya yang banyak mengandung kuah mereka kurang suka.
"Iya udah kayak sapi lo karena makan daging sapi terus,"
Ken menyelesaikan kerjaan yang tinggal dikit lagi sebelum makan agar nanti bisa santai.
"Lo juga, bukannya itu juga makanan lo,"
Kemal milih duduk di sofa sambil main hp nunggu makanan datang.
Kalau jadi atasan enak ya, lapar tinggal pesan makanan maka akan di antar.
Kalau mau santai tidak ada yang marahin.
Tok...
Tok...
"Masuk,"
Teriak Ken yang sudah tau siapa yang datang.
Sekretaris Ken mengantar makanan untuk ke dua bos tampannya.
"Makasih cantik, mau makan bareng nggak?"
Goda Kemal saat sekretaris Ken menaruh makanan di meja depan Kemal.
"Makasih pak, saya makan sama yang lain aja,"
Tolak sekretaris itu sopan.
Bukan apa, dia tidak mau di gombalin sama Kemal yang suka menggoda.
Jadi pengin nimpuk.
"Kenapa? Ini enak loh makanan nya,"
Rayu Kemal lagi.
Sambil memegang tangan sekretaris itu.
"Nggak deh pak, saya nggak mau jadi korban gosting, permisi pak Ken,"
Menunduk sebelum keluar dari ruangan Ken yang terasa panas sama rayuan receh Kemal.
Kalau lama berada dalam ruangan Ken yang ada dia baper tapi di cuekin lebih baik menjauh.
Sekretaris itu tidak sungkan lagi sama kedua bosnya itu malah suka akrab asal tau tempat.
"Keliatan banget nggak laku nya, orang nggak mau masih aja di rayu.
CK menyedihkan hidup mu kawan,"
Ken mendekat pada Kemal saat sudah mencuci tangan.
"Itu baru permulaan Ken, liat aja nanti pasti dia mau,"
Kemal juga ikutan nyuci tangan.
Setiap mau makan pasti nyuci tangan dulu baik makan menggunakan sendok atau dengan tangan langsung.
Walau memakai sendok tangan harus di cuci sebab nanti kumannya jatuh ke dalam makanan.
"Iya mau nolak maksud lo.
Kalau itu gue udah tau juga,"
Mereka mulai makan dengan tenang.
Makan dengan tenang sebab barusan sudah bicara jadi saat makan lebih baik diam.
Nikmati yang ada di depan mata jangan lupa bersyukur atas apa yang kita miliki.