Keluarga Keyra.

1035 Kata
Pagi hari mentari bersinar terik, tetesan embun di ujung daun masih ada, sautan kicauan burung masih asik bertengger di dahan pepohonan. Tapi gadis cantik itu sudah bangun dan sudah selesai membuat sarapan buat orang tuanya juga kakak lelaki satu satunya yang mana masih kuliah semester akhir. Gadis itu adalah Key, ya Key jangan salah walau mulutnya suka bicara sembarangan atau mengejar Ken yang notabennya bisa di bilang om om jika di bandingkan sama usianya yang terpaut sembilan tahun. "Hm wangi ternyata di balik sikap bobrok tersimpan bakat terpendam ya," Satria abang Key sudah rapi pasti ada kelas pagi. Jarang juga dia kelas pagi biasanya siang. "Iya dong bang, ibarat kata ya jangan seperti tong kosong nyaring bunyinya. Key mah tong Key ada isinya," Balas Key sambil menyajikan sarapan di piring masing masing tidak lupa membuat teh manis sebagai pelengkap. "Adik abang udah besar ternyata ya, sehat selalu ya," Mengusap pucuk kepala Key pelan lalu duduk sambil minum teh. "Iya dong, tapi tumben doain?" Tidak biasanya abang Key bicara baik. Seperti ada udang di balik batu. "Iya kalau lo sakit siapa yang bakal gue nistakan nanti," Nah kan tidak benar endingnya, kapan juga bang Satria ini baik. Tunggu kuda nggak makan rumput kali ya. "Dasar b*****t," Kesal Key masuk kamar buat siap siap sekolah. Malas berdebat sama Abang nya pagi ini, mending cari aman dengan cara menghindar dari pada naik darah pagi pagi. Dan juga tidak baik orang cantik kena tekanan darah tinggi. "Pagi ayah ibu," Key keluar kamar sudah rapi menggunakan seragam putih abu lengkap dengan tas punggung. Jangan tanya gimana baju Key, pasti kebebasan dan lebih tepatnya seperti minjam. Badan Key yang berisi tertutup dengan baju kebesaran itu. Kebesaran di sini bukan gombrong ya tapi lebih tepatnya tidak nempel di badan seperti kebanyakan siswa sekolah yang suka memperlihatkan lekuk tubuh mereka. "Pagi Key," "Kalau Key yang buat sarapan pasti beda rasanya," Tambah ibu mulai menyendok sarapan ke dalam mulut. "Ya pasti beda lah Bu di tambahin racun tikus," Sela bang Satria yang sudah selesai makan duluan. "Tapi kok lo nggak mampus bang?" Di antara mereka berempat Satria lebih dulu selesai sarapan. "Kamu lupa Key kalau abang kan titisan ketua tikus," Ledek ayah yang juga sudah selesai sarapan. Mereka semua tidak ada yang lambat kalau makan. Paling lama cuma lima menit. Bukan karena desakan atau apa tapi jika makanan sudah dingin maka mereka tidak selera makan lagi hingga keluarga ini makannya kilat. Tapi mereka makan bukan nasi panas sudah di hangatkan dulu baru makan. Selesai semuanya Key berpamitan berangkat sekolah. Di luar sudah ada Kesya yang nunggu di teras. "Bang kita nebeng ya?" Seperti biasa kalau bang Satria kuliah pagi maka mereka berangkat bersama karena mereka satu arah dan melewati sekolah Key duluan. "Hadeh belum di jawab kalian sudah naik, emang kalau di larang apa kalian akan turun," Bang Satria mulai melajukan mobil membelah jalanan pagi yang lumayan ramai apa lagi ini Senin dan juga jam sibuk orang berangkat sekolah atau kantor. Satria punya mobil hasil nabung sejak sekolah. Hemat pangkal kaya hingga hasil nabung Satri lah bisa membeli mobil meski di tambahin lagi sama ayahnya karena mau membeli mobil yang agak bagus. Ayah Key punya usaha sembako yang cukup terkenal di daerah sana. "Ya pastinya nggak lah bang, gila aja," Balas Kesya yang memilih duduk di depan sedangkan Key di belakang. Seperti biasa Kesya suka sekali dekat bang Satria. "Bang Sat kalau di perhatikan dari dekat hm," Kesya memandang wajah fokus Satria yang lagi nyetir sambil berpangku tangan yang di lipat di d**a juga tidak lupa memiringkan badan menghadap Satria. "Makin tampan ya kalau lagi dekat, udah biasa abang dengar pujian receh itu," Pede Satria yang sudah kebal sama pujian gadis di sebelahnya. "Siapa bilang bang. Abang kalau di perhatikan ya kok makin tua ya, Abang nggak pakai skin care ya kok makin buluk," Satria mendengus kesal, kenapa juga dia membalas ucapan Kesya barusan. Tidak ada yang berakhir bagus, anyep semuanya. Tidak lama mobil Satria sampai di depan gerbang sekolah Key. "Makasih bang, hati hati Eh bukan itu aja jangan lupa nanti jemput lagi ya," Sebelum turun masih sempat meledek Satria yang sudah memendam amarah dan tadi ingin rasanya melempar Kesya dari mobil kalau tidak ingat dia sahabat Key juga tetangga tidak tau dirinya dekat rumah. Kurang menyebalkan apa lagi Kesya itu. "Jail banget sih Sya, jodoh baru tau rasa," Key sedari tadi hanya jadi penonton saja tidak mau ikut andil. Biar saja sahabat nya itu ledekin abang tersayang yang kadang kadang membuat dia ingin melayangkan wajan ke wajah Satria. "Nggak mau ah Key belum kerja ini, mending om kemarin masa depan udah terjamin," Mereka berjalan ke kelas yang terletak di lantai dua paling ujung atau pojok. Cocok lah buat mereka yang suka berisik. "Untung lah gue juga nggak mau punya kakak ipar yang seumuran," Jodoh tidak ada yang tau bukan, tapi kita boleh meminta jodoh terbaik dari yang baik. Begitu juga Key yang tidak tau akan seperti apa hidupnya ke depan jika punya kakak ipar berisik seperti Kesya. Pasti rumah ramai dengan ulahnya yang ada saja. "Tapi nih ya Key kalau seandainya gue jadi kakak ipar lo, Lo harus manggil gue kakak nggak boleh nama lagi dosa," Mikir kejauhan kamu Kesya, siapa juga yang mau menjadikan kamu kakak ipar? Siapa yang juga yang mau ambil kamu jadi menantu?. Orang juga mikir kali punya menantu seperti kamu. "Jangan kejauhan mikirnya Sya, lagian ya kalau lo mau pun bang Satria mikir juga jadiin lo istri kayak nggak ada perempuan lain di bumi ini. Lo mah cocoknya jadi tukang cuci di rumah ketimbang istri," Sindir Key yang sudah sampai di kursi lalu duduk dan mengeluarkan buku pelajaran jam pertama. Lagian kalau mereka jodoh Key bisa apa coba? Selain menerima dan Key cuma bisa berharap Kesya cepat sadar. "Awas aja kalau gue jadi kakak ipar lo Key, gue siksa lo," Enak saja bilang Kesya cocok jadi tukang bersih bersih. Cantik bin imut kayak marmut gini. "Iya iya, terus om om lo mau di kemanain?" Iyain biar cepat kalau tidak ntar sawan lagi. "Oh iya Key, aduh gimana ini?. Si om mau nggak ya di duain," Hadeh makin gila ini, lupa minum obat kayaknya. Jangankan mau menduakan, satu pun di antara mereka belum tentu mau sama kamu Kesya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN