Key sampai rumah dengan keringat membasahi baju olahraga yang di kenakan.
Begitu juga dengan Kesya.
Mereka berpisah di depan rumah Key, ya rumah Key lebih dulu di lewati baru rumah Kesya.
"Nanti gue datang lagi Key,"
Sebelum berpisah mereka ngobrol dikit.
"Nggak nanya gue Sya dan gue malah berharap lo nggak datang,"
Balas Key membuat Kesya cemberut.
"Nanti kalau lo kangen gue gimana?"
Balas Kesya pada Key yang bicara seperti itu seakan tidak mengharap kan kedatangan Kesya ke rumah.
"Masalah nya gue nggak bakal kangen lo Sya, lebay amat belum pisah udah kangen,"
Key masuk malas meladeni Kesya yang aneh.
Dari mana datangnya si kangen kalau mereka bertemu tiap jam jadi dengan alasan apa bisa kangen.
Tolong lah kalau bicara itu yang bener.
Kayak orang pacaran saja pake kangen segala.
"Ih malah di tinggal,"
Dumel Kesya pergi pulang, merasa di abaikan.
Sambil menghentakkan kaki.
"Ini anak mama kenapa pulang bawa jeruk nipis?"
Sapa mama Kesya saat melihat anak gadisnya pulang dengan wajah ditekuk.
"Key ma, masa dia bilang nggak bakal kangen sama Kesya,"
Adu Kesya pada mamanya lalu duduk di samping.
Memegang tangan mama dengan wajah masih cemberut.
"Key benar Sya, buat apa kangen tiap hari bertemu dan juga tuh rumahnya juga keliatan,"
Mama mengusap kepala Kesya lembut.
Kadang anaknya ini suka aneh.
Alasan apa itu kangen sama Key yang bisa di datangi kapan saja.
Kepentok di mana kepala Kesya ini, fikir mama.
"Udah ah, Kesya lagi kesal nggak ada yang bela Kesya,"
Kesya masuk kamar sambil membaca mantra yang entah apa.
"Itu anak nggak ke tukar waktu lahir kan,"
Mama cuma bisa geleng geleng kepala melihat tingkah laku anak gadisnya.
"Kenapa ma?"
Papa Kesya datang sambil membawa cangkir kopi yang sudah habis dan duduk di tempat Kesya tadi.
"Biasa, Kesya ngambek,"
Bukan rahasia lagi, kalau Kesya sering ngambek kalau pulang.
Kadang orang tua Kesya sempat berfikir lebih baik nggak pulang biar tidak melihat wajah jeruk nipis Kesya.
"Masalah apa lagi?"
Tingkah Kesya sudah jadi makanan sehari hari orang di rumah itu.
Dengan berbagai alasan Kesya ngambek, mulai yang masuk akal sampai yang tidak bisa di cerna akal Keysa bisa jadikan bahan ambekan.
"Cuma masalah Key nggak kangen dia eh malah ngambek,"
Nah kan papa cuma tersenyum mendengar alasan klasik itu.
"Dimana ya ma bisa memperbaiki isi kepala Kesya itu? Papa udah mau nyerah sama tingkah pola anak itu,"
Papa mau angkat tangan sama tingkah Kesya yang kadang di luar akal manusia normal.
"Mama juga nggak tau pa, mana obatnya juga nggak ada orang yang jual kan repot,"
Dasar orang tua kurang di ajar masa anak sendiri jadi bahan ghibah.
Di jelek jelekin anak sendiri itu dan tidak merasa bersalah sama sekali.
Di rumah Key.
"Kenapa senyum senyum anak ibu masuk rumah?"
Yang satu pulang dengan wajah di tempelin jeruk nipis dan ini pulang membawa jeruk manis.
Sama sama jeruk tapi beda rasa yang berbanding terbalik.
"Biasa Bu Kesya bikin ulah,"
Jawab Key yang enggan duduk sebab mau cepat cepat mandi.
"Apa lagi yang di lakukan makhluk satu itu?"
Ibu selalu tertarik sama tingkah Kesya yang bisa menghibur orang sekitar.
"Ngambek saat Key bilang nggak bakal kangen.
Kan aneh Bu,"
Itu tersenyum cerah, ada ada saja tingkah sahabat Key ini.
Mulai masuk rumah Key tanpa permisi, membawa buku yang di sisipkan di pinggang celana dan ini masalah kangen.
Buat apa kengen kalau dari rumah Key teriak terdengar sampai rumah Kesya.
Makhluk ajaib satu itu perlu di lestarikan.
"Key mandi dulu ya Bu, udah mau berubah baunya dari yang kecut ke pesing,"
Key masuk kamar setelah dapat anggukkan dari ibu tanda setuju.
Kamar mandi di rumah Key cuma ada dua, di kamar Key sama di dekat dapur.
Sengaja di kamar Key satu sebab ibu tidak mau Key keluar masuk kamar saat mandi apa lagi kalau lupa bawa baju ganti masa cuma pake handuk.
Iya cuma ada mereka kalau ada tamu gimana, untung sama yang liat apa lagi lelaki.
"Om itu kenapa sih pelit amat cuma ngasih nomor doang.
Kayak orang penting aja,"
Key tidak tau siapa Ken.
Dan melihat kedatangan Ken di sekolah malah di anggap Key sebagai pengganti pemilik sekolah yang tidak bisa hadir.
"Awas aja ya om, bakal Key kejar sampai om tergila gila sama om.
Ingat Key nggak bakal nyerah,"
Tekad Key sudah bulat buat mengejar Ken yang tidak tertarik sama sekali dengan Key.
Bagi Ken Key itu cuma bocah ingusan yang belum cukup umur.
Padahal nih ya jika Key di nikahi tidak ada yang bakal nuntut sebab sudah delapan belas tahun sudah punya KTP juga.
"Jangan panggil Key kalau naklukin om om itu nggak bisa,"
Key sudah selesai mandi, sudah rapi juga menggunakan baju terusan selutut yang kebesaran.
Key sengaja dan juga suka pakai baju kebesaran sebab ingin menutupi segala hal yang ada di badannya termasuk aset.
"Ibu Key lapar,"
Key keluar kamar sambil memegang perut yang sudah keroncongan bukan jaipongan.
"Kalau lapar makan Key bukan ngeluh gitu.
Tuh masih ada sarapan,"
Menunjuk meja makan yang tersisa sarapan buat Key.
Key pulang joging sudah jam sembilan pagi jadi sarapan sendiri sekarang.
"Udah dingin Bu,"
Key menyuapi sarapan yang sudah dingin itu.
Karena malas memanasi dulu, sudah terlanjur lapar.
Ibu tidak menyahuti hanya geleng geleng kepala.
Padahal tinggal panasi sebentar tidak makan wkatu.
Dasar mode malas Key lagi kumat.
"Ah kenyang emang masakan ibu nggak ada duanya,"
Key mengusap perutnya yang sudah di isi penuh.
"Kalau habis makan ya kenyang, kalau habis lari baru capek,"
Key hanya cengengesan mendengar jawaban ibu.
"Ibu selalu benar,"
Key mencuci piring kotor yang sudah menunggu untuk di bersihkan.
Tugas Key ya itu kalau tidak memasak ya mencuci piring.
Walau Key seperti itu tapi rasa masakan Key tidak perlu di ragukan lagi.
"Hola Keysa datang, ada yang kangen tidak,"
Teriak Kesya yang masih berdiri di teras rumah Key.
"Maaf lagi nggak nerima tamu, jadi silahkan pulang,"
Usir Key pada Kesya, tapi bukannya pulang malah masuk.
Ini sudah masuk kategori tamu tidak tau diri.
"Ye siapa yang namu, lupa ibu pernah bilang anggap rumah sendiri,"
Kesya duduk di sebelah ibu yang lagi menonton siaran berita.
"Tapi itu sekarang nggak berlaku lagi,"
Debat keduanya sulit untuk di pisah kan.
Jika tidak sanggup maka di persilahkan buat menjauh.
"Ibu ngapain nonton berita tuh liat cuma ngasih tau doang,"
Ibu cuma bisa mengucap kata sabar banyak banyak.
Acara berita ya cuma ngasih tau.
"Terus kalau nggak ngasih tau, apa?.
Dari berita ini kita tau segala kejadian di wilayah lain.
Lo sekolah ngapain aja sih Sya?"
Ingin rasanya Key mengambil palu lalu di getok pada kepala Kesya.
Sejak kapan acara berita menyiarkan adegan actionn.
Eh tapi sepertinya Key tidak sadar kalau sifatnya tidak jauh beda dari Kesya, cuma sebelas dua belas.