Pulang joging Kemal ikut ke rumah Ken, Kemal sudah di anggap anak sama Umi dan juga kedekatan mereka berdua hingga Kemal diterima baik di keluarga Ken.
Sikap Kemal yang ceria juga bisa menghibur orang sekitar sehingga dia mudah bergaul sama keluarga Ken.
Di luar juga gitu beda dengan Ken yang cuma ramah sama keluarga.
"Ken siapa sih yang ganggu lo tadi?"
Mereka berjalan kaki saja balik ke rumah Ken jaraknya juga tidak terlalu jauh.
Kemal masih penasaran tidak seperti biasanya sahabat nya itu kesal sama orang jika tanpa sebab.
Semua kejadian pasti ada sebab dan akibat bukan seperti tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api.
"Kalau nggak salah itu cewek yang sama di sekolah tadi,"
Ingatan tajam Ken pada sesuatu membuat dia tau kalau yang mengganggu dia tadi itu gadis bau ingus yang bertemu di sekolah tadi.
Entah itu sengaja atau tidak tapi Ken memanggil Key gadis bau ingus.
Bukannya bau ingus itu anak sekolah dasar bukan tingkat atas.
Definisi bau ingus versi Ken sangat jauh melenceng.
Kalau tingkat atas itu sudah remaja menuju dewasa.
"Tapi itu cewek imut juga Ken, boleh lah buat jadi sugar baby,"
Kemal kampret dapat ide dari mana menjadikan Key sugar baby, tapi jika di ingat jarak umur mereka ya pantas sebagai sugar baby.
Terserah kamu aja Mal mau ambil jadi sugar baby atau sugar sugar yang lain.
"Nggak bau ingus juga Mal, Lo nyari pasangan yang cukup umur napa.
Masih banyak perempuan di muka bumi ini kenapa harus anak sekolah.
Kurang ya otak lo,"
Tidak ngerti sama jalan fikiran sahabat sedengnya itu.
Mau cari sugar baby padahal banyak yang mau sama dia dan cukup umur malah.
"Nah kan Mal Mal lagi, panggil yang benar Ken.
Kemal Kemal Ken jangan Mal lo kira gue pusat perbelanjaan,"
Dengus kesal Kemal di panggil Mal.
Berasa jadi sebuah mall yang sering di kunjungi orang orang buat sekedar hiburan atau belanja.
"Terserah gue, mulut mulut gue yang bilang gue kenapa lo yang sewot,"
Bodo amat fikir Ken, suka saja saya Kemal kesal saat di panggil Mal ada hiburan tersendiri.
"Masalah nya itu nama gue bangke.
Lagian gue heran Ami dulu ngasih gue nama lagi mikirin apa coba sampai gini amat nama gue,"
Kemal dulu sempat protes sama Ami nya kenapa nama dia ada pusar perbelanjaan nya di salipkan.
Bahkan dulu Kemal sempat di ledek habis habisan sama temannya sebab di panggil Mal bukan Kemal.
Dan jawaban Ami Kemal sungguh menguji kesabaran, dengan santai nya Ami jawab' udah untung Ami kasih mama' gimana tidak kesal.
Ingin rasanya saat itu Kemal pentokin kepala ke tembok.
Tapi saat sebelum itu terjadi Kemal tersadar kalau dia masih butuh kepala.
Jadi di urungkan.
"Umi calon menantu nggak jadi datang,"
Teriak Kemal saat baru masuk pintu utama.
Sekarang mereka sudah sampai rumah umi Ken.
"Aduh kasian sekali, tapi umi bersyukur kamu nggak jadi menantu umi,"
Balas umi menghampiri ke dua lelaki tampan yang belum punya pasangan itu.
Tidak lupa menyalami tangan umi.
"Jahat banget sih umi, apa kurang aku coba? Tampan jangan di tanya lagi, kaya? Sudah pasti di bawah Ken, kalau setia jangan di ragukan sejak dalam kandungan masih sendiri.
Terus kenapa aku di tolak?"
Mereka berjalan ke meja makan, tidak perlu mandi langsung sarapan saja.
Seperti yang pernah di katakan kemal dulu buat apa mandi tanpa mandi pun rasa ayam goreng tidak bakal berubah jadi ikan.
Jadi sampai sekarang istilah itu masih di pertahankan.
"Kamu nggak ada kurang Mal, hanya aja mata Aira masih normal,"
Umi mengambil kan makanan buat ke dua bujang setengah lapuk itu.
Di sana juga sudah ada Abi yang lebih dulu umi ambilkan makanan.
"Itu masalah nya umi, tapi nggak apa umi aku bakal tunggu janda nya Aira,"
Selesai Kemal bicara sebuah sendok sudah melayang di kepalanya dan pelaku nya adalah orang yang di doakan jadi janda barusan.
"Ingat bangke walaupun Aira menjadi janda Aira belum tentu mau sama bangke, ingat itu,"
Mana ada orang yang senang di doakan jelek, apa salah Aira coba sama dia.
Di tolak cukup tau diri aja kalau tampang seperti itu belum bisa menarik perhatian Aira.
Makanya tau diri itu penting setiap orang.
"Udah lah kalau gitu, aku cari sugar baby aja,"
Kemal menyuapi sarapan secara pelan.
Gini amat nasib, celoteh Kemal dalam hati.
"Itu gula umi lagi banyak, ambil aja Mal,"
Umi menunjuk stok gila di lemari samping meja makan.
"Iya umi,"
Balas Kemal lesu, mau cari sugar baby malah di kasih sugar beneran.
Ini umi yang polos atau nggak tau sih.
Kenapa di sini tidak ada yang peduli nasib Kemal.
Rasanya Kemal mau teriak maunya sugar baby bukan sugar beneran, kalau itu Kemal juga bisa beli sendiri.
Selesai sarapan.
"Umi Ani aku balik dulu, makasih sarapan nya,"
Menyalami umi dan abi sebelum pulang.
Kemal itu seperti SMP - sudah makan pulang.
Seperti orang tidak punya rumah atau seperti anak terbuang dan butuh uluran tangan orang orang.
"Nggak jadi bawa gulanya Mal?"
Ada rasa sesak tapi bukan asma yang Kemal rasakan.
"Nggak umi makasih,di rumah masih banyak,"
Kemal meninggalkan perkarangan rumah umi melangkah ke luar menuju jalan.
Kemal pulang menggunakan taksi yang sudah di pesan tadi.
Kalau ke rumah umi jangan harap bakal di antar pulang sebab di rumah umi mobil ada tapi supir nya libur kalau hari Minggu dan sialnya lagi orang di sana tak ada satu pun hati nurani mau ngantar.
Ken masuk kamar buat mandi sudah terlalu gerah habis jaging tadi.
Ting,,,
'Ken nanti siang bisa bertemu? Tadi malam kenapa tidak datang?'
Isi chat dari orang yang sama dengan semalam.
"Kenapa si ngechat terus? Nggak punya harga diri apa?"
Ken malas jika ada perempuan agresif sama dia.
Seharusnya kalau di abaikan tau diri kan.
Bukan seperti orang tidak laku gitu.
Kayak Ken dong walau belum punya pasangan nggak pernah mencari perhatian kala di cuekin.
"Mending mandi,"
Ken masuk kamar mandi lalu menanggalkan semua pakaian dan mengguyur badan di bawah shower.
Rasa dingin air mengalir memberikan sensasi sejuk hingga rasa lelah tadi hilang terbawa air yang mengalir.
"Segar nya,"
Ken keluar kamar mandi hanya di lilit handuk di pinggang menampilkan otot otot Ken.
Siapa saja yang melihat bakal ngiler namun sampai sekarang belum ada orang beruntung itu.