Jangan Beri Tahu Siapapun!

1099 Kata
Terdengar dari luar ramai langkah para perawat dan dokter jaga masuk ke dalam ruang ICU. Laura masih mematung disana dengan tangan di genggam erat oleh pasien di hadapannya. Narendra kembali tidak sadarkan diri. Dokter dan perawat lain masuk dan langsung mengecek keadaan Narendra sementara Laura tampak diam membeku. "Laura, Laura." bisik Nara menggoyang Laura yang terdiam disana. "Heh, iya." Laura menatap ruangan itu sudah di penuhi perawat dan dokter. "Tolong yang lainnya keluar, tiga orang saja." Dokter menyuruh perawat yang tidak bertugas keluar, karena ruangan itu tidak memungkinkan untuk banyak orang di dalamnya. Nara menarik Laura yang hanya diam disana. Mereka berjalan keluar dan kembali ke ruang perawat. Nara menatap Laura yang tampak diam tidak bicara sejak tadi. "Kamu kenapa sih?" Laura menoleh menatap Nara. "Kenapa?" "Iya, kenapa? Kok diem aja?" "Enggak kok, cuma terkejut pasien tiba-tiba sadar." Nara mengerutkan dahinya aneh dengan jawaban Laura. "Ya udah aku mau cek ruang melati dulu, kamu kalau capek istirahat aja dulu." Laura mengangguk tersenyum. "Oke." Laura dan Nara kembali melanjutkan pekerjaan mereka sementara di ruang ICU dokter selesai mengecek semua keadaan Narendra. alat vital berfungsi dengan baik tapi pria itu belum kembali sadar. Malam ini Narendra akan di pindahkan ke ruang rawat VVIP. Laura melirik wanita yang terlihat berlarian diikuti seorang wanita lainnya yang menggandeng anak laki-laki. "Mereka siapa?" gumam Laura menatap kearah pengunjung. "Istri Pak Narendra." Laura seketika terkejut saat ucapannya di jawab Nara dari arah belakang. "Ih, kamu ngejutin aja." "Cantik banget ya istri pengusaha." Laura melirik Nara dan mendesis. "Namanya orang banyak duit, beda sama kita, beli parfum aja masih nunggu diskon." Nara tertawa mendengarnya. Ia meletakkan bawaannya setelah selesai mengecek setiap pasien di ruangannya. "Kalau ngomong suka bener ihh." "Bukan bener sih, tapi sadar diri aja." keduanya tertawa membuat perawat lain menatapnya cekikikan. "Kalian jangan berisik, ini rumah sakit!" tegur salah satu anak kesayangan perawat senior. Nara hendak menjawab tapi Laura menariknya dan tersenyum kearah Sarah. Mereka memilih duduk melanjutkan pekerjaannya. "Andai aja aku punya sugar Daddy, mungkin gak bakalan capek-capek lembur shif malam begini." Laura menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Nara. "Sarah, Laura, siapkan kamar VVIP untuk pasien di ruangan ICU, mau di pindah malam ini." Laura dan Nara saling menatap satu sama lain. Sarah langsung bangkit mendengar perintah dari perawat senior. "Kamu ambilkan selimut ya, biar aku yang beresin kamarnya." Sarah berjalan sembari membawa kain untuk berjaga-jaga jika ada debu. Nara mendesis kesal menatap Sarah yang sesuka hati memerintah mereka. "Belagu banget sih, padahal kita itu sama sok-sok an nyuruh-nyuruh, hih." Laura berdecak menatap Nara. "Udah ih, gak apa-apa, walaupun ambil selimut jauh tapi aku juga bisa santai, biarin aja dia yang sibuk di sana." bisik Laura sembari tertawa kecil bersama Nara. "Kamu memang paling pinter." jawab Nara berbisik. Laura berjalan memegang selimut dan seprai menuju ruangan VVIP. Ia masuk ke dalam melihat Sarah sudah siap membersihkan kamar tersebut dan juga terasa sangat harum sekali. Ruangan juga lebar dan terasa sejuk. "Cepat ganti seprainya, aku uda selesai, kamu kerjakan selebihnya." Laura hanya mengangguk sementara Sarah langsung keluar dari kamar tersebut. Laura membuka sedikit tirai horden yang tertutup rapat. Laura langsung melepas seprei lama dan menggantinya dengan yang baru. Ia melipat selimut lalu mengatur lampu ruangan. Laura menatap sekeliling kamar melihat apa yang kurang. Ia melipir ke kamar mandi dan sepertinya tidak ada yang tertinggal. Laura berjalan keluar tapi saat ia mau membuka pintu. Pintu kamar langsung terbuka dan pasien sudah ada disana. Laura langsung membantu mendorong ikut masuk kembali. Naira dan putranya ikut masuk melihat suaminya sudah di pindah ke ruang rawat. "Maaf dokter, kira-kira bisakah saya tinggal pasien, saya tidak bisa menunggu disini karena anak saya tidak mungkin harus tinggal di sini." dokter menatap Naira dan tersenyum. "Tidak masalah Bu. Kami akan selalu mengontrol keadaannya, kalau ada sesuatu kami akan segera menghubungi keluarga." Naira mengangguk tenang, ia memeluk putranya menunggu para perawat yang masih sibuk menyusun perlengkapan di tubuh Narendra. Dokter lebih dulu keluar dan menyisakan Laura dan satu perawat lainnya yang masih merapikan Narendra di ranjangnya. Bunyi ponsel Naira membuat Laura meliriknya sekilas. "Kamu dimana?" Naira tampak menatap kearah perawat lalu berjalan keluar meninggalkan putranya disana. Laura menatap anak laki-laki itu dan terkejut saat temannya mengajak keluar. "Laura, ayo." ajak perawat lain kepada Laura. "Kamu duluan saja, aku sebentar lagi." teman Laura keluar lebih dulu. Laura tersenyum pada anak laki-laki itu, seseorang masuk membuat Laura tersenyum. Seorang wanita yang ikut bersama Naira tadi. Sepertinya pengasuh anak laki-laki tersebut. Laura memilih keluar dari ruangan itu setelah memastikan anak itu aman. Ia berjalan menyusuri koridor tapi perasaanya terusik, ucapan Narendra saat sadar tadi. Apa maksud pria itu melarangnya untuk menghubungi keluarganya. Laura berhenti melangkah ia meremas jemarinya bimbang, apa yang sedang ia pikirkan mengapa ia mencampuri urusan orang lain. Laura menggelengkan kepalanya mencoba membuang pikiran buruk dari pikirannya. "Aku sudah yakin dia akan sadar, cepat lakukan sesuatu!" Laura menghentikan langkahnya mendengar suara seseorang. Ia menatap lorong tidak ada siapapun, Laura menatap pintu yang ada di depannya sebuah jalan pintas menuju tangga darurat ke lantai bawah. Laura berdiri lebih dekat ke pintu mencari suara yang ia dengar. "Kamu jangan cuma bicara tenang-tenang, aku tidak mau kalau Narendra kembali sadar, kali ini jangan biarkan dia selamat lagi, cepat akhiri ini atau kamu tidak dapat apapun!" Laura terkejut saat mendengar pembicaraan mereka. Apa yang sedang ia temukan saat ini, apakah ini sebuah konspirasi. Sepertinya ia terlalu jauh melangkah dan masuk ke dalamnya. Mengapa istrinya bisa mengatakan itu. Laura melangkah pergi menjauhi Naira yang sedang bicara di telepon. Laura terus berjalan menjauhi ruang VVIP tersebut hingga berhenti di daerah tangga dan memilih duduk disana. Laura memegang dadanya yang berdebar kencang seakan di kejar oleh seseorang. "Apa yang aku dengar tadi?" ucap Laura berbicara sendiri mengatur napasnya. Ia terdiam dan kembali berpikir saat Narendra terbangun dari komanya. Mengapa pria itu melarangnya menghubungi keluarganya. Apa karena ini, dia tahu jika keluarganya mencelakainya. Laura mengusap wajahnya takut karena pikirannya sendiri. Mengapa ia bisa menyimpulkan hal yang bukan urusannya. Laura menggelengkan kepalanya cepat lalu bangkit dari tangga itu. "Gila!" desisnya kesal lalu berjalan cepat keluar dari area tangga tersebut. Laura tiba di ruang jaga perawat dan mendekati dispenser mengambil air minum di gelas lalu menenggaknya cepat hingga habis. "Kamu kenapa?" Laura langsung terkesiap terkejut mendengar suara Nara. "Kamu kenapa sih, suka banget datang tiba-tiba. bikin kaget aja!" ucap Laura tampak kesal. Gadis itu menarik kursi lalu duduk menghadap komputer disana. "Ada apa? Apa Sarah menyuruhmu ini dan itu?" Laura menghela napasnya kasar menggeleng. "Bukan." "Terus kenapa? Kamu itu keliatan capek banget, kaya orang kerja rodi tahu gak. Emangnya kamu berantem sama Sarah di sana?" Laura memejamkan matanya menunduk lelah. "Kamu bisa diem gak?" "Hah..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN