Laura membersihkan dirinya bersiap kembali ke rumah. Hari ini benar-benar letih dan sepertinya ia harus banyak istirahat mengingat beberapa hari kurang tidur dan harus menjaga shif malam. Nara mendekati Laura yang sudah menggunakan pakaian biasa.
"Sebelum pulang jajan bentar yuk?" Laura menoleh menatap Nara tampak berpikir.
"Kamu kapan pulang?" Nara menggeleng pelan.
"Belum tahu, aku sudah kabari Ibu kalau belum ada waktu untuk pulang dalam waktu dekat." Laura mengangguk mengerti.
"Kenapa?"
"Gak apa-apa, kangen aja sama Ibu!" Nara merangkul temannya meletakkan kepalanya di pundak Laura.
"Padahal Ibu gue, tapi kamu yang kangen!" Laura tertawa lalu mengambil tasnya berjalan keluar.
"Eh, tunggu, ayok nongkrong dulu, aku pingin yang seger-seger!" Laura berjalan sembari melirik Nara yang terus merengek di dekatnya. Begini kalau punya teman dan niat hati ingin rebahan santai jadi buyar dan kacau.
"Aku capek, pingin istirahat cepat." Nara mendorong Laura yang menolaknya sambil mendesis kesal.
"Gak asik banget, ayolah!" Nara kembali membujuk dengan menggoyang-goyangkan tangannya cepat.
"Ya udah iya-iya!" Nara tampak antusias mendengar persetujuan Laura. Dari arah depan mereka Sarah tampak berjalan bersama dokter pria disana. Nara seketika diam menggandeng Laura di sampingnya.
"Dasar ular!" desis Nara membuat Laura menyenggol tangannya agar diam. Rombongan itu berjalan mendekati mereka. Laura langsung melangkah jalan tanpa menatap kearah mereka. Mereka hanya melewati rombongan itu tanpa menyapa tapi ...
"Laura." Dokter pria itu memanggil Laura saat mereka berpapasan di jalan.Laura dan Nara berhenti tanpa menoleh kebelakang. Sarah menatap dokter di sampingnya dan menatap Laura yang sudah mereka lewati.
"Laura, Dokter Reynan memanggilmu." Laura berbalik dan tersenyum pada dokter tampan itu.
"Bisa ke ruangan saya sebentar, ada yang ingin saya bicarakan." Suasana menjadi canggung. Sarah tampak mengeraskan rahangnya tidak suka sedangkan Nara mengeratkan tangannya menahan Laura.
"Tapi saya sudah ada janji Dok, apa ini hal yang sangat penting?" Reynan menatap sekelilingnya begitu banyak perawat menatap dirinya dan Laura membuat Reynan tersenyum mencoba mencairkan suasana.
"Oh begitu, kalau begitu temui saya besok saja." Laura mengerutkan dahinya menatap Reynan sedih.
"Tapi besok saya masuk shift malam Dok." Rey tampak tersenyum canggung karena terdengar Laura terus menolaknya.
"Temui aku saat kau sempat!" Reynan langsung berbalik dan melanjutkan jalannya. Sarah menatap tidak suka kearah Laura lalu mengikuti Rey yang berbelok menuju lorong ruangan lain. Nara menarik Laura yang masih mematung menatap kepergian Reynan.
"Bagus sekali, aku suka dengan jawabanmu." ucap Nara berapi-api.
"Sudahlah jangan membahasnya." Nara berdecak menggandeng Laura sembari keluar dari rumah sakit.
"Dia harus tahu gak semua wanita di rumah sakit ini memujanya, selalu besar kepala." Laura tidak menjawab ucapan Nara. Rey adalah mantan kekasih Laura saat masa kuliah dulu. Setelah lima tahun berlalu luka yang pernah Rey berikan pada Laura membuatnya dingin pada siapapun. Laura tidak perduli lagi soal cinta, luka itu telah membuat hatinya beku. Hidup sebatang kara membuat Laura menjadi pribadi yang cuek dan acuh. Pernah percaya pada seorang pria tapi Rey mengkhianatinya dan itu membuat luka yang begitu mendalam di hidup Laura.
"Kita mau kemana?" Laura bertanya pada Nara yang terus menggandengnya hingga tiba di luar.
"Oh iya, ayo kita makan sushi, atau kita makan yang pedes-pedes seperti baso." Laura menatap Nara dengan tatapan malas.
"Cari tempat yang tenang aja, aku lagi gak pingin jajan, ayo cari cafe aja aku temenin kamu makan." Nara mengangguk cepat lalu berjalan mendekati motor mereka.
"Aku yang bonceng ya." Nara sudah mengambil alih bagian depan tapi Laura menarik baju Nara dari belakang.
"Gue aja!"
"Kenapa?"
"Terakhir loe yang bawa, gue hampir pindah alam!" Nara mendesis kesal menatapnya.
"Kapan pinternya kalau kamu begitu terus." Laura menatap Nara horor.
"Ya kalau nunggu kamu pinter gue keburu pindah ke alam kubur!" Nara tertawa lepas melihat tatapan kesal Laura.
"Oke deh, ya udah ayo buruan." Laura langsung memutar motornya. Nara langsung naik keatas boncengan dan mereka melaju membelah kota Jakarta. Sebelum mencari tempat duduk yang tenang mereka mampir membeli dua cup kopi ukuran besar di salah satu etalase cofe bermerk lalu pergi mencari tempat tongkrongan yang juga menyediakan makanan. Mereka berhenti di salah satu tempat tongkrongan yang tidak terlalu padat pengunjung. Ada berbagai penjual makanan berjejer di pinggir jalan tinggal memesannya saja. Laura duduk disana membuka ponselnya sedangkan Nara pergi memesan makanan untuknya. Ia berselancar di sosial media sembari merasakan hembusan angin malam yang terasa dingin menyentuh kulit. Jari Laura berhenti saat membaca salah satu berita tentang pengusaha sekaligus pemilik stasiun televisi terbesar di negara Indonesia. Laura menghela napasnya melepas ponselnya lalu mengusap wajahnya.
"Ja-jangan b-beri tahu s-siapapun." kata-kata yang keluar dari mulut Narendra terngiang di kepala Laura.
"Kamu jangan cuma bicara tenang-tenang, aku tidak mau kalau Narendra kembali sadar, kali ini jangan biarkan dia selamat lagi, cepat akhiri ini atau kamu tidak dapat apapun!" Suara wanita itu juga terus terngiang di kepala Laura. Laura menutup wajahnya dengan kedua tangannya hingga Nara tiba disana dan menyentuh Laura. Laura tersentak menatap kearah Nara dengan tatapan marah.
"Kebiasaan ih!"
"Apa sih?"
"Kamu udah kaya makhluk ghoib!" Nara menghela napasnya menatap Laura sembari memiringkan mulutnya kesana kemari.
"Aku pesenin kamu dimsum tuh, aku mau makan yang berat-berat laper banget!" Laura mengangguk dan melihat wanita membawa nampan berisi pesanan Nara. Ada dimsum bakar dan goreng, ada juga beberapa pangsit juga sosis bakar. Laura berdecak menatap semua makan dengan porsi terlalu banyak. Nara juga memesan nasi liwet ayam bakar untuknya sendiri.
"Kamu bisa abisin ini semua?" Nara menyesap minumannya menatap Laura.
"Kenapa? Kan makan sama kamu." Laura menghela napasnya mengambil sumpit lalu mengambil dimsum bakar di hadapannya. Laura mengunyah makanannya dengan perlahan lalu menganggukkan kepalanya seakan menikmati rasa pada dimsum tersebut.
"Bagaimana rasanya punya sugar daddy?" Nara terbatuk terkejut mendengar pertanyaan Laura.
"Buset, tiba-tiba banget!" Nara mengambil tisu mengelap mulutnya cepat.
"Kenapa?"
"Seorang Laura?" Laura terkekeh menatap wajah Nara yang bengong.
"Udah deh gak usah di bahas, nanti kamu malah gak jadi makan." Nara menggelengkan kepalanya sembari mengunyah makanannya.
"Gak boleh, harus cerita!"
"Apanya yang mau di ceritain, orang aku cuma nanya!" Nara berdecak nyengir menatap Laura.
"Ada-ada aja kamu ih, memangnya kamu yakin mau punya sugar Daddy, kaya simpanan tahu gak, harus bersedia ini dan itu!" Laura mengerutkan dahinya menatap Nara penasaran.
"Ini dan itu apa?"
"Ya itu ..." Laura menautkan kedua tangannya lalu menggerakkannya saling menempel.
"Hah! Apaan?" Laura menatap Nara aneh dengan gerakan tangannya.
"Begini, kamu gak tahu? Udah deh, gak usah sok mau cari sugar Daddy." Laura mendesis kesal menatap Nara yang lanjut melahap makannya dengan cepat.