CEO MG Capital

1894 Kata
Laura mengerjabkan matanya menghalau sinar matahari yang masuk ke dalam jendela kamarnya. Ia terbangun dari tidurnya dan duduk bersandar mengumpulkan sisa sisa kehidupan yang belum terkumpul sempurna. Laura meraih ponselnya sudah pukul sembilan pagi. Ia mengusap wajahnya sesaat dan menguncir rambut hitam lebat miliknya. Laura gadis yang cantik, tinggi, putih, postur tubuhnya sexy tapi ia terbiasa menggunakan pakaian longgar. Tidak begitu menyukai baju ketat yang membentuk tubuh idealnya. Memiliki bibir yang tebal dan alis yang lebat. Tatapan matanya tajam namun terlihat perhatian. Laura keluar kearah kamar mandi melihat kamar Nara masih tertutup rapat. Hari ini mereka mendapat jadwal shift malam dan sepertinya Laura akan bersantai di rumah saja sampai sore hari. Laura keluar dari kamar mandi dan melihat Nara sudah ada di depan televisi melihat acara selebritis pagi. Laura membuka lemari es mengambil beberapa buah dan duduk ikut menyimak acara televisi tersebut sembari membawa potongan buah pisang apel dan kiwi tak lupa dengan yogurt dan kacang almond. "Kamu tahu gak, tadi berita Pak Narendra masuk ke dalam infotainment." Laura mengerutkan dahinya hanya mengangguk. Nara duduk di lantai sembari bersandar di sofa. "Kamu sadar gak sih, istrinya tidak terlihat sedih sama sekali?" Laura menatap Nara cukup lama membuat Nara menggelengkan kepalanya bertanya. "Kenapa? Kamu terkejut?" tanya Nara karena Ekspresi Laura yang aneh. "Jangan biasakan bergosip soal pasien, kamu mau ucapanmu buat seseorang jadi kena dampaknya." Nara menghela napasnya menatap Laura. "Gue kan gosip sama Lo ih, kalau di rumah sakit ya gak berani. Lagian kalau apa yang aku bilang ini sampai keluar berarti kamu dong pelakunya yang nyebarin gosip itu!" Laura melotot menatap Nara yang sesekali ikut mengambil buahnya. "Enak aja, aku cuma ingetin kamu supaya gak asal bicara soal pasien, walaupun mereka berasal dari orang-orang penting, bukan kapasitas kita untuk bicara." Nara menghela napasnya mendengar jawaban Laura. "Ya benar sih, cuma ada beberapa anak juga bilang gitu, bukan gue aja!" "Ya udah gak usah ikutan!" jawab Laura cepat. "Ih, judesnyaaa.... nanti payah dapet jodoh loh!" Laura menaikkan sudut bibirnya menatap Nara. "Santai ah, gak buru-buru juga!" Nara menggelengkan kepalanya lalu fokus pada televisi kembali. "Tapi bener kan istri Pak Narendra itu keliatan biasa aja." Laura melirik Nara lagi yang menatapnya. Gadis itu menghela napasnya meletakkan mangkok buahnya. "Ehhm, mungkin dia tipe orang yang sabar." jawab Laura positif. "Sesabar-sabarnya istri ya kali gak keliatan sedih, lebih ke wajah lelah sih." Laura terdiam menerawang pikirannya. Mengingat wanita itu berbicara di teleponnya. Laura menghela napasnya menatap Nara. "Sudahlah, jangan dibahas, gak enak kalau nanti jadi bahan gosip!" Nara menatap Laura dan mendengkus. "Iya-iya," Laura meninggalkan Nara yang masih menatap acara selebriti tersebut. * Sore hari keduanya sudah bersiap menggunakan motornya menuju rumah sakit. Laura sudah siap menggunakan helmnya dan memakai baju perawat khas rumah sakit. "Nara buruaaaan!" teriak Laura dari teras rumah. "Iya bentaran ih, gak sabar banget!" Laura berdecak menatap Nara yang sibuk menenteng sepatunya. Laura sudah nangkring di atas motor menunggu Nara mengunci pintu rumah. "Kamu pakai parfum sebotol?" Nara berdecak mendengar pertanyaan Laura. "Dikit aja!" "Kamu mau undangan apa mau ngerawat pasien sih, wangi banget tau, kurangi deh pakai parfumnya." Laura menutup hidungnya seolah mencium bau busuk. "Udah diem aja kenapa sih, lagian ini parfum mahal dan wanginya lembut kali... Kenapa Lo sibuk banget dah ah!" sahut Nara ngedumel sembari naik keatas motor. "Iya yang ada pasien mabuk gara-gara parfum kamu!" Nara mendesah lelah. "Enggak bakal, udah fokus jalan aja!" perintah Nara agar Laura tak lagi mendebat. "Kamu wangi begini mau curi perhatian Farhan?" Nara menatap terkejut Laura di depannya. Motor mereka sudah melaju menuju rumah sakit. "Kamu tahu dari mana?" "Kamu pikir aku gak tahu kamu lagi dekat sama dia?" Nara diam dan menghela napasnya. "Dia tuh pernah HTS sama Sarah kalau kamu gak tahu!" tambah Laura lagi membuat Nara mengerjabkan matanya terkejut mendengar hal itu. "Kamu yakin?" "Yakin, coba deh kamu tanya!" "HTS doang, gak masalah!" Laura berdecak mendengar jawaban Nara. "Justru karena HTS itu, apa bagusnya sih HTS-HTS San, gak ada jaminan juga." Nara tampak diam mendengarkan. "Seenggaknya HTS itu masih di bawah kata jadian. Gak ada hak!" "Tapi tetep aja mereka bisa lakuin apapun lebih dari yang jadian, teman tapi mesra kalau bahasa dulu mah." Nara menghela napasnya panjang. "Biarin deh!" "Kamu jangan ngeyel, seenggaknya kalau dia suka kalian harus jadian, jangan HTS dong. Kamu mau di tinggalin gitu aja tanpa kejelasan, mending gak usah deh, lagian kenapa sih suka banget deket sama teman kerja. Farhan cuma pinter ngomong, kamu kemakan omongannya?" Nara menutup wajahnya malu. Ia sengaja tidak bicara pada Laura tapi ternyata gadis itu tahu dengan sendirinya. "Jadi menurut kamu gimana?" Laura menghentikan motornya di tempat parkir khusus pegawai rumah sakit. "Ya temenan aja sih!" Laura membuka helmnya menatap Nara yang tampak lesu. "Kamu tahu dari mana kalau Farhan pernah HTS sama Sarah?" Laura menghela napasnya merapikan rambutnya. "Beberapa perawat senior sering ngeledekin dia waktu aku satu shift sama dia." Nara menatap kesal kearah Laura. "Kok kamu gak bilang ke aku sih?" "Itu kan waktu lagi HTS sama Sarah, lagian kamu aneh, kan yang pedekate kamu, mana aku tahu kalau kamu lagi deket sama Farhan." Nara mendesis kesal menatap Laura. "Tapi sekarang ini kamu tahu!" teriak Nara pada Nara yang sudah jalan lebih dulu. "Baru tahu!" balas Laura kuat membuat Nara menghentakkan kakinya marah. Ia mengejar Laura yang sudah masuk ke dalam rumah sakit. * Laura meletakkan barang bawaannya dan merapikan rambutnya kembali, menggunakan lipbalm agar bibirnya tidak kering. Ia juga memakai make up tipis senatural mungkin lalu keluar dari ruang tersebut. "Laura!" Nara berpas-pasan di depan membuat Laura menghentikan langkahnya. "Apa sih?" "Jadi aku harus gimana?" "Ya gimana, terserah kamu!" "Farhan itu bicaranya serius terus sama aku!" Laura menatap jengah kearah Nara. "Semua pria juga gitu kali, bicaranya sok serius kenyataannya gak pernah serius." Nara mendesah menatap Laura. "Tapi dia beda!" Laura menatap aneh Nara yang bicara begitu. "Ya sudah terserah deh!" "Gimana keadaannya?" suara dari para perawat yang lewat membuat keduanya terdiam. "Laura ...." Laura mengangkat tangannya tidak mau lagi membahas hal ini. "Sudah stop waktunya kerja!" "Keadaannya memburuk, kasihan banget!" lagi-lagi perawat lain lewat dan sambil berbicara. Laura dan Nara melengok bersamaan menatap para perawat lain yang sedang membahas seseorang. "Siapa sih yang mereka bicarakan?" Laura mengangkat pundaknya tidak tahu. "Cepat siap-siap jangan sampai kena tegur masuk telat!" Nara menghela napasnya menatap Laura sudah keluar. Laura masuk berganti shift dengan perawat lainnya. "Cepat ambil Defibrilator untuk ruang VVIP!" Laura baru saja bersiap kerja menatap para perawat senior tampak sibuk. Laura mengerutkan dahinya lalu mengambil laporan harian dari perawat sebelumnya. "Tunggu, ada apa dengan pasien VVIP?" tanya Laura pada teman shift sebelumnya. "Seseorang masuk ke ruangannya mengakibatkan pasien drop dan entahlah, dokter masih menanganinya." Laura terdiam masih dalam kebingungan. "Seseorang itu siapa?" perawat itu menggeleng. "Tidak tahu, dia menggunakan masker dan tidak bisa di lihat siapa dia. Tidak terlihat dari cctv." Laura mengerutkan dahinya dalam. "Maksudnya dia mau mencelakai pasien?" perawat itu mengangguk cepat. Laura menutup mulutnya terkejut. "Kenapa ada orang sejahat itu!" "Entahlah, mungkin karena kekuasaan!" bisik perawat tersebut. "Siapa pasien yang ada di VVIP tersebut?" "CEO MG Capital." Laura membeku di tempat, apa Narendra yang mereka maksud. "Maksud kamu pasien Narendra pengusaha itu?" perawat itu mengangguk. "Ya," Laura masih berdiri disana pikirannya di penuhi dengan pertanyaan aneh. Mengapa ini semua terjadi seperti di dalam pikirannya. Laura meremas bajunya merasakan tubuhnya bergetar. Apa memang ini percobaan pembunuhan. Laura menarik napasnya dalam mencoba menenangkan dirinya. "Kamu kenapa? Kok pucet?" Nara yang baru saja tiba disana menatap Laura berdiri mematung. "Enggak, aku mau cek keadaan pasien dulu!" Nara menatap Laura bingung lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Laura keluar dari ruangan satu ke ruangan lainnya memeriksa pasien satu persatu sesuai ruangan tugasnya. Ia mengecek semua kebutuhan pasien mencoba sibuk menghilangkan pikiran dalam kepalanya. Laura keluar dari ruangan pasien menatap lift cukup lama. Laura berdiri di sana menimbang-nimbang apakah ia harus melihat pria itu. Hatinya terus berbisik mengajak untuk melihat tapi pikirannya menolak. Laura memejamkan matanya hingga lift terbuka menunjukkan wanita keluar dari lift tersebut. Wanita yang ia ketahui adalah istri Narendra, Laura terpaku melihat pemandangan tak biasa. Wanita itu baru saja terlihat tertawa dan sedang menelepon seseorang. Wajahnya langsung berubah saat melihat Nara berdiri di depan lift. Laura meremas bajunya menatap wanita itu hingga menghilang dari pandangannya. Laura langsung menekan lift agar kembali terbuka. Ia masuk dengan cepat menekan lantai ruangan VVIP. Laura keluar dari lift melihat para perawat tampak lesu di sana. Laura berjalan mendekati ruangan Narendra dan berdiri di depan pintu melihat alat Defibrilator berhenti mengejutkan jantungnya. Laura menatap layar monitor menunjukkan garis lurus menandakan denyut jantung Narendra terhenti. Laura terpaku disana, mengapa hatinya terasa tidak rela melihat Narendra pergi, apa ini yang dinamakan rasa bersalah. Apa Laura merasa bersalah mengabaikan pria itu. Tanpa sadar air mata Laura menetes menatap kearah pria yang terbaring tanpa detak jantung tersebut. "Maaf ..." gumam Laura mengusap air matanya cepat. "Dok!" perawat memanggil dokter kembali saat mencoba melepas alat-alat medis di tubuh Narendra. Laura menunduk menutup wajahnya ikut sedih dengan keadaan Narendra. Dokter dan perawat kembali memasang alat-alat pada tubuh Narendra, karena jantung pria itu kembali berdetak. Laura mengangkat kepalanya saat mendengar langkah cepat orang-orang di dekatnya. Dokter berusaha menstabilkan kembali detak jantung pasien. Tanpa sadar Laura ikut masuk sudah berdiri di kaki ranjang menatap Narendra yang berjuang untuk hidup. "Dok, detak jantungnya kembali stabil." ucap suster di sana membuat dokter mengangguk tenang begitu juga Laura. Laura tersenyum seakan mendapat berkat dari Tuhan kembali. Ia meremas kertas yang ia bawa merasa terharu melihat Narendra kembali dari ambang kematian. "Tetap kontrol keadaannya satu jam sekali, jangan sampai dia drop lagi. Dan kabari keluarganya." Laura menghela napasnya lega mendengar perintah dokter. Dokter keluar dari ruangan dan tinggal dua suster disana memastikan alat-alat medis yang melekat di tubuh pasien bekerja dengan benar. "Mbak, kenapa dia bisa drop seperti itu?" Laura mendekati perawat senior dengan berbisik. "Ada insiden kecil, pihak rumah sakit masih menyelidikinya?" Laura mengerutkan dahinya menatap Suster Nita yang bicara berbisik. "Kenapa bisa terjadi seperti ini, menyeramkan sekali." "Jangan bergosip, lakukan saja pekerjaanmu." Laura mengangguk cepat. "Iya Mbak." Nita dan satu perawat lain keluar menyisakan Laura disana. Laura berdiri menatap Narendra cukup lama. Ia berjalan mendekati ranjang menatap pria yang betah memejamkan matanya tersebut. "Apa kamu kesulitan?" gumam Laura berbicara di samping ranjang. "Jangan pernah meminta bantuanku, aku tidak cukup kuat." ucap Laura lagi. Tangan Narendra bergerak membuat Laura mundur selangkah merasa terkejut. Laura menatap tangan yang kembali bergerak membuat Laura mendekatkan dirinya pada Narendra. Sepertinya pria itu akan sadar. Laura mendekatkan dirinya pada Narendra tapi pria itu tidak kunjung membuka matanya. Laura memperhatikan Narendra menatap pria itu dengan seksama. Matanya tertuju pada leher Narendra, ia menyingkap sedikit kerah baju rumah sakit dan mendapati luka goresan seperti kuku yang menggores kulit Narendra. Luka goresan itu masih baru dan berwarna merah. Laura mengerutkan dahinya menunduk melihat luka memanjang meski tidak berdarah tapi luka goresan kuku memiliki ciri khas. Ini benar-benar luka goresan kuku. Apa perawat tidak sengaja menggores pasien, jika tidak di perhatikan dengan seksama memang tidak terlihat. "Bagaimana kamu mendapatkan luka ini?" gumam Laura menunduk menatap leher Narendra. Ia memperhatikan luka itu dan memikirkan bagaimana kemungkinannya ia mendapatkan luka tersebut. "Malang sekali, dalam keadaan rapuh pun masih saja ada yang mencoba melukaimu." Laura menutup kembali leher Narendra. Ia akan bawa salep saat kembali kesini lagi. "Baiklah, aku akan selalu mengecekmu setiap jam kerjaku." ucap Laura seakan berjanji pada Narendra. Gadis itu keluar dari kamar Narendra setelah memastikan pria itu aman dan tetap stabil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN