"Apa?" Naira menurunkan nada suaranya saat mendengar kabar dari rumah sakit.
"Iya baiklah, aku akan segera kesana." Naira memutus panggilan rumah sakit dan meremas ponselnya kesal.
"Ada apa?" pria yang baru saja keluar dari kamar mandi mendekati Naira yang menunduk lesu.
"Dia kembali hidup!" pria itu menghentikan gerakannya menatap Naira.
"Maksud kamu? Dia selamat dari masa kritisnya. Naira menghela napasnya mengangguk.
"Ya, bahkan Tuhan berpihak padanya." ucap Naira geram.
"Lalu kamu punya rencana lain?" Naira memainkan jemarinya menatap pria di hadapannya.
"Nanti kita pikirkan lagi, aku harus kembali ke rumah sakit. Sesekali lihat putra kita, aku sedikit sibuk akhir-akhir ini." pria itu mengangguk menatap Naira lalu merangkul pinggang wanita cantik itu.
"Kamu terlalu sibuk untuk Narendra, kapan kamu meluangkan waktu untukku." bisik pria itu membuat Naira membalas rangkulannya dan memeluk kekasihnya.
"Jangan manja, ini bukan waktunya, kamu tahu sendiri aku harus menjaga nama baikku juga. Setelah semuanya selesai, aku dan kamu akan bebas dalam belenggu ini." Naira mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. Lalu mendekatkan wajahnya mencium bibir kekasihnya lembut tapi pasti. Sambutan hangat dari sang pria membuat keduanya saling memangut satu sama lain.
"Aku harus pergi!" desah Naira di sela ciumannya.
"Baiklah, malam ini kembalilah padaku." bisik pria itu sebelum Naira benar-benar menjauhinya keluar dari apartemen tersebut.
*
Di rumah sakit Laura tampak meregangkan tubuhnya dan sesekali menguap. Nara mendekati Laura yang tampak sibuk menghadap layar komputer.
"Sudah selesai?" Laura melirik Nara yang bertanya padanya.
"Belum, ada pasien di ruang Mawar infusnya harus di ganti, bisa bantu aku." Nara mengangguk cepat mengambil cairan infus.
"Oke, abis ini pesan kopi untukku." Laura mencebikkan bibirnya ternyata tanpa pamrih. Laura bangkit dari duduknya masuk ke ruang obat. Ia mencari salep untuk luka luar lalu keluar dari ruangan tersebut. Nara tampak kembali setelah selesai memasang infus.
"Buruan pesan makanan." rengek Nara pada Laura.
"Kamu yang pesan sana." ucap Laura sbari mendekati ponselnya.
"Pakai punya kamu ya?" Laura melirik Nara tajam.
"Yang gratisan aja cepet, buruan aku mau naik keatas." Laura menyodorkan ponselnya yang langsung Nara ambil dan dengan cepat berselancar di aplikasi khusus memesan makanan.
"Kamu mau apa?" tanya Nara sembari sibuk berselancar melihat beberapa menu makanan.
"Terserah, asal jangan nasi!" ucap Laura dan Nara mengerti maksud dari temannya itu.
"Nih, selesai." Laura mengambil ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku. Ia beranjak pergi membuat Nara menatapnya bingung.
"Loh kamu mau kemana?" Laura berjalan sembari menatap Nara.
"Ada pekerjaan bentar, nanti telepon aja kalau sudah sampai." Nara mengangguk mengangkat tangannya menunjukkan oke.
Laura masuk ke dalam lift dan langsung menekan lantai VVIP. Laura keluar dari lift melihat jam sudah menunjukkan hampir sepuluh malam. Sudah satu jam ia meninggalkan Narendra. Laura menarik napasnya panjang lalu membuka pintu ruangan Narendra dan Laura terkejut melihat Naira masih ada disana. Laura mengangguk tersenyum sekilas saat bersitatap dengan Naira istri Narendra.
"Sus, tolong kecilin suhu ruangannya, sepertinya kurang dingin." Laura mengangguk mengambil remot AC di meja samping ranjang lalu mengatur AC lebih rendah. Laura menyimpan salep yang ia bawa ia memilih memeriksa keadaan Narendra sebagai alasan. Naira tampak sibuk dengan ponselnya lalu menatap Laura.
"Kalian benar-benar bekerja dengan baik ya." Laura menoleh menatap Naira yang berbicara padanya.
"Ya."
"Baru saja perawat melihatnya, sekarang kamu juga melihatnya, aku rasa dia baik-baik saja." Laura tersenyum canggung mendengarnya. Mungkinkah Naira risih dengan kehadirannya.
"Kami harus siaga dan terus mengontrol keadaan pasien Bu, itu sudah tugas kami sebagai staf rumah sakit." Naira mengangguk tersenyum pada Laura. Ia menatap suaminya lalu bangkit mendekati Narendra. Naira memegang kaki Narendra dan terlihat sedih menatap suaminya.
"Sayang, sadarlah, aku dan Andra sangat mengkhawatirkan kamu, aku kembali sekarang, Andra menungguku dirumah." ucap Naira menghapus air mata goib miliknya. Laura tetap berdiri disana menatap Naira.
"Suster, saya titip suami saya ya, saya harus kembali, putra kamu sendiri di rumah." Laura mengangguk tersenyum.
"Iya, Bu. Kami akan segera menghubungi Ibu jika terjadi sesuatu." Naira menghela napasnya memegang Laura lalu berjalan keluar ruangan. Laura menatap Naira hingga menghilang di balik pintu. Laura memutar pandangannya menatap Narendra.
"Aku bahkan tidak melihat air matanya." gumam Laura menatap Narendra. Laura merogoh sakunya lalu membuka kerah baju Narendra. Ia menoleskan salep tersebut pada leher Narendra yang terluka akibat goresan.
"Sudah, ini tidak sakit bukan?" tanya Laura kembali merapikan baju Narendra. Pria dengan perban di kepalanya tersebut masih betah dengan mata terpejam. Laura menatap cukup lama kearah Narendra.
"Psiii, tampan juga." gumamnya memuji pria kepala empat tersebut. Mata Narendra bergerak dalam pejam membuat Laura menunduk memegang ranjang menatap Narendra yang terlihat bergerak. Pria itu menggerakkan jemarinya secara perlahan membuat Laura menatap jari dan wajah Narendra bergantian.
"Pak ..." Narendra membuka matanya perlahan dengan tatapan kosong menatap langit-langit kamar. Laura mengerjabkan matanya menatap pasien di hadapannya bangun dari koma.
"Pak ..." panggil Laura pelan dan pria itu tampak meresponnya. Narendra menoleh perlahan melirik kearah Laura. Laura langsung terkejut dan mendekati Narendra menunduk di hadapannya.
"Pak, anda sudah siuman?" ucap Laura menatap Narendra terkejut. Laura langsung menekan tombol perawat agar dokter datang memeriksa. Laura berusaha tidak panik karena Narendra tampak diam menatapnya.
"Sebentar, mungkin para suster akan segera tiba." ucap Laura seakan lupa bahwa dirinya adalah seorang suster juga. Narendra mencoba menggerakkan tangannya memanggil Laura agar mendekat padanya. Laura mengerutkan dahinya menatap Narendra yang terlihat ingin bicara. Laura mendekatkan dirinya pada Narendra.
"Pak anda ingin bicara?" tanya Laura dan Narendra hanya mengerjabkan matanya menatap Laura. Bibirnya tampak sulit untuk bicara, kepalanya benar-benar sakit dan Narendra terlihat kesulitan bergerak.
"Pak." Laura mendekatkan telinganya pada bibir Narendra karena pria itu bicara tidak jelas dan sangat pelan.
"H-hu-bung-i B-ben." Laura menjauhkan dirinya lalu menatap Narendra. Ia kembali mendekatkan telinganya pada bibir Narendra dan kata-katanya tetap sama.
"Hubungi Ben?" tanya Laura mencoba membenarkan. Narendra memejamkan matanya seolah memberi tanda ya.
"Maksud Pak Narendra Hubungi pria bernama Ben?" tanya Laura lagi lebih jelas. Narendra hanya mengangguk pelan, dan terdengar pintu ruangan di buka perawat dan dokter jaga sudah tiba disana. Laura berdiri menjauhi Narendra dan dokter serta perawat senior masuk ke dalam memeriksa keadaan pasien.
"Laura, kenapa kamu disini?" suster Nita masuk membawa perlengkapan medis menatap Laura ada disana, di tempat yang bukan tugasnya.
"Ehmm, itu ... kebetulan lewat Sus." Suster senior itu mengerutkan dahinya menatap Laura yang berlari kecil keluar. Laura keluar dari ruangan itu menatap kearah Narendra, pria itu tetap sadar dan masih menatap kearahnya. Pintu ruangan tertutup membuat Laura berdiri di depan pintu ruangan menatap dengan bimbang.
Laura kembali ke ruang jaga menemui Nara disana. Nara tampak sudah memakan makanan pesanannya.
"Hemm, kamu dari mana?" tanya Nara cepat. Laura mendekati temannya itu lalu duduk di dekatnya.
"Kamu tahu saat kecelakaan Pak Narendra dia sendiri atau ada orang lain?" Nara mengerutkan dahinya mengemut jarinya yang kotor karena saus.
"Kamu dari mana sih, datang-datang nanyain riwayat pasien." Laura memejamkan matanya menatap Nara.
"Plis aku butuh jawaban." Nara mendengkus menatap Laura.
"Ada dua pasien, satu lagi pasien muda, mungkin karyawannya." Laura mengangguk mengerti.
"Sekarang dimana?"
"Ada diruangan Vip, keadaannya tidak terlalu buruk." jawab Nara sembari mengunyah.
"Oke baiklah, aku pergi dulu."
"Hah! Mau kemana?" tanya Nara berdiri seketika saat Laura beranjak pergi.
"Ada urusan!" Nara berdecak mendengar jawaban yang sama sejak tadi.
"Kenapa akhir-akhir ini dia banyak sekali urusan. Dasar!" Nara kembali duduk mengunyah makanannya dan tetap berjaga siaga terhadap pasien.