Katakan Pada Istrinya

1014 Kata
Laura melangkah cepat menuju ruang VIP. Ia berdiri di depan lift menunggu lift terbuka. Sarah terlihat melintas di dekat Laura dan berhenti di sampingnya. "Bisa kita bicara sebentar?" Laura yang tengah menunduk menatap sepatunya terkejut mendengar suara seseorang di sampingnya. "Sarah." "Ya, bisa bicara sebentar?" Laura melirik lift lalu menatap Sarah. "Tapi aku sedang buru-buru." Sarah mendengkus kasar mendnegar jawaban Laura. "Gak lama kok disini aja." Laura menatap lift yang hampir menyentuh lantai dimana ia berada. "Oke, cepat katakan." Sarah menghembuskan napasnya kasar melihat sikap Laura yang sok sibuk. "Kamu dan Dokter Rey, ada hubungan apa?" Laura terdiam sesaat mendengar pertanyaan Sarah. Ia tidak percaya wanita di hadapannya bertanya tentang hal konyol tersebut. "Aku dan Dokter Rey tidak ada hubungan apapun." lift terbuka membuat Laura seketika menoleh kedalam lift melangkah masuk. Tapi Sarah menahannya menarik lengannya kuat. "Tunggu, aku belum selesai bicara!" Laura mendesis kesal membuatnya mundur dan kembali keluar dari lift. Orang-orang yang berada di dalam lift menatap bingung. "Sarah, kita bicara nanti saja. Aku sudah buru-buru, mereka menunggu!" Sarah menatap tiga orang di dalam lift yang sedang menunggu mereka. "Ikut aku!" "Hah!" Sarah menarik Laura menjauhi lift membuat Laura mengepalkan tangannya kesal dengan Sarah. Laura langsung menghentakkan tangannya yang di cengkram erat oleh Sarah. "Lepas!" Sarah terkejut melihat Laura menatapnya tajam. "Sekarang katakan padaku, dengan jujur, kamu mencoba menggoda Dokter Rey, bukan?" Laura berdecak menggelengkan kepalanya lucu. "Kamu suka dengan Dokter Rey?" tanya Laura sembari berkacak pinggang. Ia benar-benar kesal dengan sikap Sarah yang sok seperti ini. "Itu bukan urusanmu!" "Heh, kalau kamu suka, ya ambil aja, ngapain nanya-nanya gue. Plis ya, ini pertanyaan konyol yang pernah gue dengar di dalam hidup gue, gak penting tahu gak!" Laura hendak melangkah dan Sarah mencoba kembali menghentikan tapi Laura berhenti kembali dengan sendirinya. "Jangan coba-coba halangi jalan gue lagi, kalau kamu lakuin itu lagi, kamu akan tahu akibatnya!" ucap Laura kesal menatap tajam kearah Sarah. Sarah meremas kertas di tangannya menatap Laura marah. Sikap Laura membuatnya tersinggung. "Sombong sekali!" ucap Sarah mendengkus menatap Laura kembali menunggu di depan lift. Laura langsung masuk ke dalam lift saat lift kembali terbuka. Hanya beberapa menit ia tiba di ruang VIP dan mendekati stand perawat. Laura bertanya pada perawat di sana dan langsung mendapat petunjuk dimana ruangan Rian orang yang bersama Narendra saat itu. Laura berhenti di depan pintu ruangan VIP tersebut mengetuknya sebelum masuk ke dalam ruangan. Laura membuka pintu ruangan dan melihat Rian tengah duduk menatap layar televisi di temani seorang wanita tua sepertinya adalah ibu Rian. "Maaf mengganggu sebentar, boleh saya masuk?" Rian dan wanita paruh baya itu menatap Laura sejenak lalu mengangguk mempersilahkan. Laura melangkah mendekati ranjang Rian membuat wanita paruh baya itu berdiri ikut mendekati putranya. "Ada apa?" tanya wanita itu membuat Laura tersenyum canggung. "Maaf Ibu, saya bisa bicara sebentar dengan putranya?" Wanita itu menatap Rian dan Rian juga menatap sang ibu. "Apa ada masalah?" tanya Rian sebelum ibunya pergi. "Ehhm, ini tentang Pak Narendra!" Rian menegakkan punggungnya menatap Laura. "Kenapa dengan Pak Narendra?" Laura tersenyum lalu menatap ibu Rian. Rian mengerti dan menatap kearah Ibunya. "Ma, tinggalkan kami sebentar, sepertinya ini penting." wanita itu menatap Rian lalu Laura bergantian. "Baiklah, jangan terlalu keras bekerja, kamu belum sembuh total." Rian mengangguk meyakinkan. Ibu Rian melangkah keluar dan menutup pintunya dengan rapat. Laura mendekati Rian yang sudah menatapnya penasaran. "Katakan, apa Pak Narendra sudah siuman?" Laura mengangguk. "Sudah, dia sudah kembali sadar." Rian tampak lega mendengarnya. "Lalu ada apa mencariku?" Laura menghela napasnya berat. "Pak Narendra berpesan padaku dia memintaku untuk menghubungi Ben. Aku tidak paham apa maksudnya, jadi aku menemuimu untuk mengatakan itu!" Rian terdiam mengerutkan dahinya tampak berpikir. "Ben?" Laura mengangguk cepat. "Siapa Ben?" Laura mengerutkan dahinya bingung, mengapa pria ini tidak tahu. "Kamu tidak tahu?" Rian tampak menunduk memegang kepalanya. Selama ia bekerja ia tidak pernah bertemu kolega dan teman Narendra bernama Ben. "Entahlah, apa cuma itu yang dia katakan?" Laura menghela napasnya panjang menatap Rian. "pertama kali sadar dia bilang jangan beri tahu siapapun, aku tidak mengerti apa maksudnya." Rian menatap Laura cukup lama. "Dia mengatakan itu?" Laura mengangguk. Rian meremas tangannya berpikir, apa yang di pikirkan bosnya tentang hal ini, mengapa tuannya bisa bicara begitu. "Apakah dia masih sadar?" Laura mengingat terakhir kali ia dari kamar Narendra pria itu masih sadar dan terus menatapnya hingga pintu ruangannya tertutup. "Ya, dia sudah sadar tapi masih sulit untuk bicara." Rian mengangguk mengerti. "Aku akan langsung bicara padanya, mungkin kamu bisa katakan ini pada istrinya..." "Jangan!" potong Laura cepat. Rian menatap Laura dengan kerutan di dahinya. "Kenapa? Istri Pak Narendra adalah orang yang paling tahu dirinya, mungkin saja dia kenal dengan teman Pak Naren yang bermana Ben!" Laura menghela napasnya berat bagaimana ia mengatakan pada Rian jika ia tidak percaya wanita itu. "Begini saja, temui Pak Narendra dulu, kamu tanya langsung padanya, setelah kamu tahu baru kamu bisa bicara pada istrinya. Aku tidak bisa bicara pada istrinya begitu saja." Rian mengangguk mengerti. "Oh iya, kau benar, ya sudah bantu aku menemui Pak Narendra, aku akan bicara padanya sendiri." Laura mengangguk cepat ia menatap sekeliling kamar tidak menemukan kursi roda. "Tunggu sebentar, aku akan bawakan kursi roda untukmu." Laura keluar dari ruangan itu mengambil kursi roda untuk Rian. Ibu Rian masuk ke dalam mendekati putranya setelah melihat Laura keluar dari kamar putranya. "Apa yang kalian bicarakan, kenapa sepertinya mencurigakan." Rian menatap ibunya menghela napasnya panjang. "Ini masalah Pak Narendra, Ma. Aku akan menemuinya sekarang." Ratih menatap tidak suka kearah putranya. "Kamu belum sembuh, apa Narendra menyuruhmu untuk menemuinya?" Rian menghela napasnya menatap sang ibu. "Ma, ini bukan seperti yang Mama pikirkan, Pak Narendra tidak menyuruhku, dia bahkan baru kembali sadar." Ratih mendesah lelah. "Mama tidak mau kamu bekerja lagi untuknya, sudahi saja, Mama tidak mau kehilangan kamu, Rian. Mama cuma punya kamu." Rian mendesah lelah mendengar ucapan sedih ibunya. "Nanti kita bicarakan lagi." pintu ruangan terbuka menunjukkan Laura tiba dengan kursi roda. Ratih menatap Laura dan mendekati putranya. Rian di bantu sang ibu berpindah duduk dari ranjang ke kursi roda. "Ayo!" ajak Rian pada Laura. Laura menatap ibu Rian dan menunduk memberi hormat sebelum keluar dari ruangan itu membawa Rian melihat Narendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN