Laura mendorong kursi roda menuju ruangan Narendra. Mereka berdiri di depan lift sebelum lift terbuka. Reynan menatap dari kejauhan saat Laura masuk ke dalam lift bersama pasien. Pria itu kembali melanjutkan jalannya setelah menatap Laura masuk ke dalam lift. Laura menatap setiap pergantian lantai yang ada di lift hingga tiba disana, Di lantai ruangan Narendra.
"Apa kondisi Pak Narendra lebih baik?" Laura menunduk menatap Rian yang ada di hadapannya.
"Kalau di lihat dari sebelumnya dia sudah lebih baik dan kembali dari koma." Rian mengangguk lega.
"Apakah ada gangguan lain dengan kesehatannya?" Laura menghela napasnya berhenti di depan pintu ruangan Narendra.
"Karena luka berat di kepala kemungkinan itu pasti ada, mungkin sebagian ingatannya hilang, dan mungkin saja dia bisa terjebak dalam memori masa lalunya atau sebaliknya. Sebenarnya ini bukan kapasitas saya untuk menjelaskan. Tapi kemungkinan yang terjadi jika cidera di bagian kepala, pasti tentang saraf dan ingatan yang ada di kepala." Rian menatap Laura yang berdiri di sampingnya mendengarkan dengan serius.
"Sejauh ini apa yang sudah terlihat?" Laura mengangkat pundaknya menggeleng.
"Aku belum menerima laporan jelasnya tentang Pak Narendra, karena dia baru saja sadar malam ini, mungkin besok dokter akan menjelaskan kepada kami bagaimana kondisinya." Rian mengangguk dan menatap pintu ruangan Narendra. Laura membukanya lalu mendorong kursi roda Rian dan seketika terdiam saat baru saja masuk. Naira dan Gusti ada di ruangan Narendra. Laura mengerjabkan matanya gugup menatap Narendra dan orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Oh, Rian, kemarilah, aku sampai lupa bertanya tentang kabarmu. Apa kamu baik-baik saja?" Gusti menyambut kedatangan Rian disana membuat Laura mendekati mereka.
"Baik Pak Gusti, maaf jika saya mengganggu istirahat Pak Narendra." Naira tersenyum ramah.
"Tidak kok, Mas Narendra juga baru siuman. Bicaralah padanya, tapi dokter mengatakan ia harus perlu banyak istirahat dulu. Jangan membuatnya lelah." ucap Naira memperingatkan. Rian mengangguk tersenyum lalu menatap Laura membuat Laura mendorong kursi roda Rian mendekati Narendra yang hanya menatap kearah mereka. Pria itu bersandar dengan bagian kepala ranjang lebih tinggi dari sebelumnya. Narendra melirik kearah Laura lalu menatap Rian.
"Bagaimana keadaan Pak Narendra? Maafkan saya karena tidak benar dalam bekerja, Bapak harus mengalami hal seperti ini." Narendra hanya mengangguk dengan memejamkan matanya. Naira bangkit mendekati mereka membuat Laura menghela napasnya gugup.
"Rian, Pak Naren memang sulit bicara, dokter mengatakan jika saraf pada otaknya masih belum sembuh total. Sebagian sarafnya mengakibatkan kerja organ tubuh menjadi lambat. Dan satu hal yang benar-benar membuat saya sedih, dokter mengatakan jika Pak Narendra hanya mengingat memori terdepan saat ini, ia hanya mengingat kejadian terakhir saat kecelakaan mobil terjadi. Dia bahkan tidak mengingat masa lalu kami." Laura melirik Naira yang berbicara dengan nada sedih.
"Jadi, Pak Narendra tidak mengingat apapun selain kecelakaan itu?" Naira mengangguk mengusap air matanya. Laura hanya diam mendengarkan disana.
"Entah sampai kapan semua ini bisa berakhir." Naira menatap suaminya mengusap wajah Narendra dengan lembut. Entah kenapa Laura tidak memiliki simpati sedikitpun. Mengapa di mata Laura, wanita ini hanya berpura-pura.
"Apa karena itu Pak Narendra menyuruhku menghubungi..."
"Pak Rian." Laura memotong ucapan Rian yang berusaha bicara pada Naira.
"Menghubungi siapa?" tanya Naira menatap Rian dan Laura bergantian. Rian menatap Laura membuat gadis itu bergerak bingung.
"Ada apa?" tanya Rian pada Laura yang memotong ucapannya.
"Bukan, maksud saya sepertinya Pak Rian harus segera istirahat " Rian mengerutkan dahinya mendengar jawaban Laura, mengapa Laura aneh sekali, sejak tadi gadis itu yang menyuruhnya bicara langsung pada Narendra.
"Rian!" Naira memanggil Rian karena belum menjawab pertanyaannya.
"Menghubungi Ben." Laura meremas kursi roda di depannya sementara Naira tampak berubah saat mendengar nama tersebut. Laura bisa melihatnya dengan jelas.
"Siapa yang mau menghubungi Ben?" Rian menatap Narendra dan pria itu hanya menatap Rian tangan Narendra bergerak menolak bicara. Rian menatap tangan Narendra di dekatnya dan langsung memegang tangan Narendra.
"Maksud saya, saya ingin menghubungi teman Pak Narendra yang bernama Ben." Naira menghela napasnya kasar dan melipat tangannya di d**a.
"Apa Narendra bicara banyak hal tentang Ben padamu?" Rian tersenyum menggeleng.
"Tidak, hanya pembicaraan biasa!" Rian bahkan berbohong saat ini, ia tidak mengenal siapa itu Ben. Bahkan dari ucapan Naira, Narendra kehilangan memori masa lalunya tapi mengapa perawat ini bicara jika Narendra menyuruhnya menghubungi Ben.
"Benarkah?"
"Ya, aku hanya tahu dia teman Pak Narendra." Naira tampak mengangguk mengerti.
"Kamu tidak perlu menghubunginya, aku yang akan bicara padanya bagaimana keadaan Mas Naren." Rian mengangguk terdiam. Naira berjalan mendekati sofa lalu duduk kembali disana setelah memastikan Rian tidak lagi membahas Ben.
"Bawa aku kembali." ucap Rian pada Laura saat pikirannya tidak tenang. Laura mengangguk dan mendekati Rian lalu menggeser kursinya berbalik arah. Rian menatap Narendra sebelum benar-benar pergi.
"Pak, saya akan temui Bapak lagi, saya kembali dulu, istirahatlah yang cukup Pak." Ucap Rian sebelum Laura benar-benar membawanya. Mereka kembali keruangan Rian, pria berusia 27 tahun itu menatap Laura dengan tatapan penuh tanya. Mereka berdua ada di dalam lift dan akan segera ke ruangan Rian.
"Kamu dengar apa yang di katakan istri Pak Narendra?" Laura yang sedang berdiri di samping Rian menoleh saat Rian bertanya.
"Yang mana?"
"Soal ingatannya." Laura menatap Rian dan menghela napasnya panjang.
"Aku berkata jujur, aku belum kembali ke ruang perawat dan belum bertemu dokter Pak Narendra. Jadi aku tidak tahu keadaan pasti Pak Narendra sekarang." Rian memijit pelipisnya menghela napasnya kasar.
"Bukan itu yang aku maksud." Laura mengerutkan dahinya menatap Rian.
"Lalu apa?"
"Jika ingatannya hilang mengapa ia masih mengingat temannya yang bernama Ben? Kamu yang berbohong atau dokter itu yang salah menilai?" Laura menatap Rian berpikir keras, ia mencernanya dan ia merasa Rian menuduhnya berbohong.
"Tapi aku tidak berbohong, Pak Narendra sendiri yang bicara padaku, jangan beri tahu siapapun, dan kedua kali dia bicara jika aku harus menghubungi Ben. Itu fakta dan kebenaran. Aku tidak bohong, karena aku tidak tahu harus bicara pada siapa aku menemuimu!" lift terbuka membuat keduanya saling menatap satu sama lain. Laura menghentikan perdebatannya dan mendorong Rian hingga di depan pintu ruangannya.
"Kenapa harus menemuiku? Istri Pak Narendra selalu ada di sisinya, bicara saja padanya." Laura berhenti dan pikirannya buntu. Haruskah ia mengakhiri hal ini, haruskah ia mengatakan jika ia tidak percaya pada istri Narendra.
"Kau terdiam?" Laura melangkah di depan Rian lalu melipat kedua lengannya di d**a.
"Aku tidak percaya pada istrinya!"
"Apa!"
"Aku tidak percaya padanya!"
"Tapi kenapa?"
"Ada hal yang tidak bisa aku jelaskan, tapi ini benar-benar fakta yang aku dengar dari mulutnya sendiri."
"Apa itu?"
"Aku tidak bisa bicara padamu!" Rian mendengkus menatap Laura.
"Kamu hanya seorang perawat dan bukan siapapun disini, apa yang kamu mau dengan semua ini, jangan mempermainkan kami!" Laura menarik napasnya dalam dan menghembuskannya pelan mencoba menahan emosinya.
"Oke begini saja, kamu tidak kenal dengan pria bernama Ben? Tapi apa yang aku katakan itu benar, kenyataanya istrinya tahu jika Pak Narendra punya teman bernama Ben. Lalu apakah kamu pikir aku masih berbohong?" Rian terdiam mendengarnya.
"Ya, kamu benar!"
"Sekarang begini, jika istrinya bisa di percaya, mengapa Pak Narendra bicara padaku, kenapa dia tidak langsung bicara pada istrinya! Seperti yang kamu katakan istrinya selalu ada di sisinya." Rian menatap Laura terkejut, ternyata semua ini masuk akal.
"Lalu apa maksud kamu?"
"Apa kamu tidak tahu, Pak Narendra mendapatkan ancaman pembunuhan saat dia di rumah sakit!"
"K-kau, bicara apa kamu!"