"Aku bicara fakta, kejadian itu terjadi dan nyata, apa mereka tidak memberitahumu?" Rian mengerjabkan matanya syok mendengar hal itu.
"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan?" Laura menghela napasnya panjang.
"Ini bukan rahasia lagi di rumah sakit, kenyataannya itu memang terjadi." Rian menatap Laura cukup lama mencari kebohongan di wajah gadis itu.
"Baiklah, bawa aku masuk, sampai sini saja hari ini." ucap Rian membuat Laura mengangguk menurut dan memasukkan Rian ke dalam ruangannya. Laura kembali ke stand perawat jaga dan menemukan Nara sudah selesai makan makanannya.
"Kamu dari mana aja sih?" Laura duduk di samping Nara dan menarik napasnya dalam.
"Cari angin." Nara mengernyitkan dahinya menatap Laura.
"Yakin? Makan tuh pesanan kamu, daritadi aku tungguin kamu tuh lama banget, jadi punya aku udah habis." Laura mengangguk dan tampak diam memikirkan masalah Narendra. Apa yang sebenarnya terjadi, siapa Ben, kenapa Rian juga tidak tahu siapa Ben yang Narendra katakan.
"Kamu melamun?" Nara menyenggol pundak Laura yang diam saja menatap layar komputer.
"Hah!"
"Kamu kenapa sih, kaya bukan Laura yang gue kenal!" Laura mendesis menatap Nara.
"Jadi siapa kalau bukan gue!" Nara menutup mulutnya tertawa.
"Kali aja jin yang sedang merasuki tubuh Lo!" Laura berdecak menatap Nara lalu menatap laporan harian mereka.
"Semua sudah di cek kan?" tanya Laura membuat Nara menatap tugas mereka malam ini.
"Udah, tadi aku patroli keliling lihat keadaan mereka, semua aman." Laura mengangguk lalu menunduk membenamkan wajahnya di meja.
"Kamu ngantuk?" tanya Nara membuat Laura mengangkat kepalanya.
"Enggak!"
"Terus kenapa? Kamu kaya orang lagi banyak pikiran tahu gak, keliatan bingung." Laura menopang wajahnya dengan satu tangan menatap kearah Nara.
"Kamu dengar gak kabar Pak Narendra, apa diagnosis nya kata dokter?" Nara mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Laura.
"Aku gak begitu paham, tadi suster senior bilang sih luka bagian kepalanya menyebabkan lupa ingatan, tapi lebih jelasnya gak tahu, soalnya bukan bagian tugas kita kan?" Laura menghela napasnya berat. Sepertinya ia harus tanya suster Nita.
"Kamu tahu siapa yang bertugas di ruangan VVIP?" Nara mengerutkan dahinya menatap Laura.
"Kenapa sih?" Laura menggaruk lehernya tersenyum canggung.
"Ehhm, tanya aja, emang gak boleh?" Nara mengerutkan dahinya menatap Laura curiga.
"Tentu saja itu pekerjaan suster senior, kita mah gak bisa kesana, bukan jam terbang kita." Laura terdiam mendengarkan.
"Iya juga sih, kalau jadi asisten suster bisa gak ya?" Nara menopang wajahnya menatap Laura.
"Ada apa sih di sana? Kayanya kamu penasaran banget?" Laura tersenyum menyentuh Nara mencoba mencairkan suasana.
"Gak ada, pingin aja masuk shift bagian tamu elite." Nara menghela napasnya melanjutkan pekerjaannya.
"Iya juga sih, tapi jadi perawat seperti kita juga udah Alhamdulillah, gak ada salahnya juga berusaha jadi perawat tetap. ya gak sih!" Nara menoleh kearah Laura yang duduk di sampingnya tapi ternyata temannya itu sudah menghilang.
"Loh, Laura, kamu..." Nara berdiri menatap sekeliling rumah sakit tidak menemukan Laura disana. Baru saja pindah fokus menatap komputer dan dalam sekejab Laura sudah menghilang.
"Horor banget sih, mana hampir tengah malam, anak itu kemana sih kaya hantu aja!" umpat Nara saat melihat Laura sudah tak ada di sebelahnya. Laura sudah beranjak menuju ruang VVIP dimana Narendra di rawat. Ia benar-benar penasaran apa yang terjadi saat ini. Wanita itu berhenti di ujung lorong menatap perawat yang baru saja keluar dari ruangan Narendra. Laura menunggu disana hingga para perawat itu menghilang dari pandangannya. Ia kembali berjalan mendekati ruangan Narendra. Laura melewati pintu ruangan itu mencoba melihat apakah istri Narendra masih ada di dalam. Ia berhenti sejenak di depan pintu Narendra. Melirik cepat ke dalam ruangan dari pintu yang memiliki sedikit kaca di badannya. Laura langsung masuk saat tidak melihat istri Narendra atau siapapun di ruangan itu. Wanita itu berjalan mendekati Narendra lalu duduk di kursi di samping Narendra. Laura menghela napasnya panjang menatap pria asing yang sudah membuatnya sibuk akhir-akhir ini.
"Aku sudah katakan jangan minta bantuan apapun padaku, aku tidak cukup kuat untuk membantumu!" Laura bicara di samping Narendra meski dengan nada pelan layaknya berbicara pada orang di hadapannya.
"Hufftt, aku gak tahu apa yang aku buat ini benar atau salah, yang pasti feelingku kamu adalah pria yang baik." ucap Laura mengangguk-anggukan kepalanya sembari melipat kedua tangannya di d**a. Ia menatap sekujur tubuh Narendra sembari menghela napas berkali-kali. Saat tatapan matanya jatuh pada wajah Narendra Laura terkejut melihat pria itu membuka matanya menatapnya.
"Woaahh." pekik Laura karena tatapan Narendra mengejutkannya. Laura langsung menutup mulutnya dan bangkit dari duduknya.
"Pak, anda belum tidur?" tanya Laura saat dirinya mulai tenang. Narendra hanya menatapnya dan beberapa kali mengerjabkan matanya. Laura menarik kursi mendekatkan dirinya pada Narendra.
"Pak siapa Ben itu? Asisten Pak Narendra juga tidak mengenalnya, hanya istri Bapak yang sepertinya tahu pria bernama Ben itu!" Laura bicara panjang lebar karena merasa lelah dengan masalah aneh ini. Narendra hanya menatapnya mendengarkan Laura bicara. Laura menarik napasnya panjang menatap Narendra lelah.
"Pak..." tangan Narendra bergerak membuat Laura menatapnya. Ia bangkit dan mendekatkan kupingnya pada Narendra.
"Bapak mau bicara?" tanya Laura saat mendekatkan dirinya.
"J-janga-n b-ica-ra pa-da si-apapu-n!" Laura menjauhkan dirinya menatap Narendra.
"Jangan bicara pada siapapun?" ucap Laura mengulang ucapan Narendra. Laura menghela napasnya menatap kasihan pada Narendra. Mengapa ia menjadi tenaga medis yang jahat sekali, pasien yang baru sadar dari koma ia paksa bicara terlalu banyak.
"Hmmm, sudah-sudah, istrirahatlah, jangan bicara apapun lagi, kalau ada yang tahu, aku pasti bisa di pecat." ucap Laura merapikan selimut Narendra. Narendra mencoba meraih tangan Laura membuat gadis itu meliriknya dan menatap kearah Narendra.
"Ada apa? Bapak mau bicara lagi?" Narendra tampak mengerjabkan matanya. Laura berdiri berkacak pinggang menatap Narendra. Ia berpikir keras bagaimana agar bisa bicara pada pria itu tanpa membuat Narendra lelah. Laura mengeluarkan ponselnya dan menarik kursi di dekat ranjang mendekati Narendra.
"Pak, bisa gerakkan tangan Bapak, kan?" Laura menunjukkan ponselnya dan membuka keyboard agar bisa Narendra sentuh.
"Lihat ini, sentuh saja huruf-huruf disini, biar aku tahu apa yang Pak Narendra mau!" Narendra memejamkan matanya membuat Laura menautkan alisnya bingung. Pria itu kembali membuka matanya membuat Laura menatapnya diam.
"Apa Bapak ingin bicara?" Laura menyodorkan ponselnya di depan Narendra. Laura membantu Narendra mengangkat tangannya dan menyentuh layar ponsel tersebut dengan Laura yang membantu memegang ponsel tersebut. Laura menatapnya penuh tanya. Apa yang ingin pria itu katakan. Meski tidak beraturan tapi setiap ketikan Narendra bisa di pahami Laura sedikit demi sedikit.
"Rian tidak tahu pria bernama Ben?" ucap Laura saat membaca ketikan itu. Narendra kembali menyentuh layar ponsel Laura meski lambat tapi Laura dengan sabar menunggunya.
"Hubungi pria itu!" Laura mengambil ponselnya menatap ketikan Narendra selanjutnya.
"Ponselku?" tanya Laura bingung
"Oh, mungkinkah Pak Narendra ingin ponsel Bapak?" Narendra mengangguk. Laura menjatuhkan pundaknya mengapa ia memiliki tugas baru, rasanya ia ingin meninggalkan pria itu begitu saja.
"Pak, tapi ponselnya dimana saya tidak tahu, kalaupun ada, pasti itu ponsel ada di kantor polisi." ucap Laura kesal. Narendra menggerakkan tangannya membuat Laura kembali menyodorkan ponselnya, memegangnya dengan sabar.
"Rian!" Laura menatap layar ponselnya membaca nama Rian.
"Kenapa Rian?" Laura menatap bingung Narendra, namun sedetik kemudian ia paham.
"Oh, maksudnya Rian yang urus masalah ponsel? Baru hubungi Ben?" Narendra menggerakkan kepalanya perlahan mengiyakan.
"Oh begitu, baiklah, nanti aku bicara pada Rian. Tapi aku akan berhenti disini jika pria bernama Ben itu sudah bisa di hubungi, Pak Narendra setuju?" Narendra mengangguk pelan.
"T-teri-ma ka-sih!" gumam Narendra pelan. Laura mengangguk tersenyum, ia tidak langsung pergi tapi Laura menemani Narendra hingga ia terlelap.