Masa Lalu

1051 Kata
Laura berjalan menguap sembari mengusap lehernya yang pegal. Tadi malam ia sama sekali tidak tidur. Setelah menemani Narendra ia kembali ke ruang perawat dan berkeliling menjaga pasien. Laura meletakkan laporannya dan duduk membenamkan kepalanya lelah. "Laura, kamu gak bersiap?" Laura mengangkat tangannya mengusir Nara yang sedang bertanya. "Ya udah aku duluan." Laura mengangguk dalam. Nara masuk ke ruang ganti mengambil barang-barang pribadinya dan keluar lagi mendekati Laura. "Laura buruan ih, aku udah laper ini, ayo balik." Nara menggoyang tubuh Laura cepat. "Iya-iya, ngantuk banget." Laura menopang kepalanya memejamkan matanya. "Ya udah buruan, biar cepetan tidur." Laura bangkit dengan langkah malas, membuka lokernya dan mengambil tasnya. Ia tidak mengganti pakaiannya, ia lngsung mengambil jaket dan menggunakan jaketnya untuk menutupi seragam perawat yang ia kenakan. "Anak-anak udah sampai?" Nara mengangguk. "Udah, mereka sudah di depan." Nara menutup laporan harian mereka lalu berjalan meninggalkan stand jaga tersebut. Masih pagi-pagi sekali, Laura berjalan lesu karena kurang tidur. Dari kejauhan dokter Reynan menatap Laura berjalan keluar. Pria dengan tubuh tinggi itu melangkah cepat mengejar Laura. "Laura!" panggil Rey sebelum Laura keluar dari rumah sakit tersebut. Nara memutar tubuhnya begitu juga Laura. Keduanya menoleh kebelakang melihat siapa yang memanggil. Nara menautkan alisnya sementara Laura menghela napasnya pelan. "Kamu mau pulang?" Laura mengangguk pelan. "Bisa bicara sebentar?" Laura menoleh menatap Nara membuat Nara menaikkan alisnya bingung. "Baiklah, Nara tunggu aku di parkiran ya." Nara mengangguk mendesah lelah. "Jangan lama-lama, gue laper!" Laura menatap kepergian Nara yang tampak kesal. Laura menatap Reynan lalu mengikuti pria itu yang membawanya ke taman rumah sakit. Laura duduk disana menatap pasien dan beberapa orang yang memang duduk untuk menghirup udara segar di taman. "Berapa lama kamu masuk malam?" Laura menghela napasnya tanpa menatap Reynan. "Belum tahu." Reynan tampak menunduk menghela napasnya. "Kamu masih marah padaku?" Laura menatap Rey cepat dengan tatapan tak suka. "Marah? Kenapa?" "Karena aku meninggalkanmu begitu saja." Laura menghela napasnya kasar memukul kedua pahanya kesal. "Kamu cuma mau bicara itu? Bisa gak kita gak usah bahas masa lalu. Aku bahkan sudah lupa semuanya!" Reynan mengerjabkan matanya menatap Laura. Bibirnya kaku menatap Laura seakan sulit untuk bicara. "Baiklah, apapun itu, aku ingin seperti orang kebanyakan, berteman baik dan bekerja sama dalam bekerja." Laura melipat kedua tangannya di d**a menatap lurus kedepan. "Bukannya kita sudah seperti orang kebanyakan, aku dan kamu sudah menjadi rekan kerja. Jadi harus seperti apa lagi?" Rey tampak bergerak gugup. "Laura maksud aku..." Laura berdiri lalu mengangkat tangannya menghentikan Rey bicara. "Aku tahu apa yang kamu maksud, apapun masalahnya aku sudah memaafkanmu, satu lagi, jangan menemuiku secara pribadi atau bicara di tempat umum padaku tentang hal pribadi, aku tidak nyaman. Dan jangan membahas masa lalu lagi, ini sudah selesai, lakukan pekerjaanmu secara profesional Dokter Rey. Aku pergi sekarang." Laura menunduk hormat lalu meninggalkan Rey disana. Sarah yang baru saja tiba di rumah sakit menatap dari kejauhan memperhatikan Laura dan dokter Reynan. Rey mengepalkan tangannya marah menatap kepergian Laura. Laura melangkah mendekati parkiran melihat Nara sudah duduk di motor menunggunya. "Ayok." Nara melirik Laura yang sudah ada di sana. "Lama banget sih, cacing di perut gue udah pada demo tau gak!" Desis Nara tapi Laura sibuk mengeluarkan motor dari barisan motor lainnya. "Ayok buruan, katanya laper." Nara langsung menyimpan ponselnya dan naik keatas motor. "Ngomong-ngomong Dokter Rey bicara apa?" Laura melaju mengendarai motornya tanpa menjawab pertanyaan Nara. "Laura, Laura ih..." Nara mendorong bahu Laura yang diam sejak tadi. "Apa sih!" "Kenapa diem aja?" "Laper!" jawab Laura ketus. "Ya udah ayo beli makanan dulu." Laura memilih berhenti di area joging dengan banyak penjual makanan berjejer di pinggir jalan karena hari masih pagi. Kediaman Narendra Naira turun dari tangga dengan langkah lesu mendekati dapur dan menuang air panas ke dalam gelas yang sudah ada teh di dalamnya. "Nyonya, mau saya siapkan sarapan sekarang?" Naira mengangkat tangannya menolak. "Tidak perlu, saya sudah mau pergi." tolak Naira membawa segelas teh di tangannya berjalan mendekati ruang tengah. Wanita itu duduk di sana menyesap teh hijaunya tanpa gula. Naira sudah terlihat rapi dengan setelan blous berwarna cream menggunakan celana kulot berwarna khaki dengan rambut di gerai. Ia menatap televisi sembari menyesap tehnya. Ponselnya berdering membuat Naira meliriknya sekilas. Nama seseorang itu muncul di layar ponselnya. "Ada apa?" Naira langsung berdiri cepat mendengar jawaban seseorang di seberang sana. Naira berjalan keluar dan berdiri di pintu masuk utama rumahnya. Ia menatap pria yang sudah berdiri di depan rumahnya dan tersenyum lebar merentangkan tangannya. "Kamu ngapain pagi-pagi sudah disini?" Naira tampak tidak suka menatap pria tersebut. "Ayolah sayang, jangan begitu, tidak ada suami kamu di rumah." Naira mendesis kesal menatap pria yang berjalan masuk ke dalam rumahnya. "Tapi orang-orang Narendra masih berkeliaran disini." Pria itu tersenyum dan menunjukkan map coklat di tangannya. "Aku membawa ini." Naira mengerutkan dahinya menatap amplop coklat di tangan pria tersebut. "Apa ini?" Naira mengambilnya dan membukanya sembari berjalan mendekati sofa. "Surat penting yang selama ini kamu inginkan." Naira membuka cepat dokumen yang ada di tangan Naira. "Kenapa kamu tunjukkan ini padaku?" pria itu mengangkat pundaknya tersenyum. "Mungkin kamu ingin mengubahnya." Naira meletakkan dokumen itu dengan kasar ke atas meja. Ia duduk dan menopang kepalanya lelah. "Ini terlalu cepat, aku tidak suka, aku sudah katakan pada kamu, bereskan Narendra lebih dulu baru kita bisa merubah semua dokumen atas nama Andra. Saat ini Narendra sudah siuman dan dia bisa dengan mudah menyuruh orang-orangnya untuk bergerak." pria itu mendesah lelah menegakkan punggungnya. "Dimana putraku?" "Tentu saja di sekolahnya!" "Apa Narendra masih ingat jika Andra bukan putranya?" Naira menggeleng pelan bersandar di sofa. "Entahlah, Narendra belum merespon apapun. Tapi kamu tahu dia mencoba menghubungi Ben." Pria itu mengerutkan dahinya menatap Naira. "Apa hubungannya Ben untuk hal ini?" Naira menghela napasnya lelah. "Ben itu bisa melakukan apapun, meski dia tidak ada di Indonesia, jika Narendra memanggilnya dia akan kembali." Pria itu mendesah lelah mendnegarnya. "Kenapa Ben begitu nurut pada Narendra?" Naira menggeleng pelan. "Yang aku tahu, Ben memiliki hutang Budi pada Narendra dan keluarganya. Aku tidak tahu pasti, yang pasti aku tidak menyukai pria itu!" kekasih Naira tampak penasaran dengan pria bernama Ben tersebut. "Kenapa kamu tidak menyukainya sayang?" Naira mendengkus kesal mengingat masa lalu. "Dia orang yang menentang Narendra saat ingin menikah denganku." pria itu mengangguk mengerti menatap Naira. "Berarti dia bukan sembarang pria, dia tahu kamu sebenarnya." Naira menghela napasnya kasar menatap kekasihnya. "Entahlah, aku tidak perduli!" gumam Naira memainkan jemarinya menatap lurus membayangkan masa lalunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN