Laura keluar dari kamar mandi merasa lebih segar dari sebelumnya. Ia menatap makanan yang mereka beli tadi dan mencari Nara karena tidak terlihat. Laura berjalan ke depan rumah melihat Farhan ada disana sedang berbincang bersama Nara. Laura bersandar di pintu sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk menatap tajam kearah Nara. Tidak berapa lama Farhan berlalu pergi dengan motornya membuat Nara berbalik sembari membawa kresek di tangannya.
"Kamu, sejak kapan disitu?" Laura memutar bola matanya bersandar santai.
"Sejak Lo berbunga-bunga dengerin gombalan itu cowok." Nara mendesis menatap Laura menghentakkan kakinya kesal. Laura berbalik masuk ke dalam rumah diikuti Nara di belakangnya.
"Ayo sarapan bareng?" Laura masuk ke dalam kamarnya mengambil hairdryer miliknya.
"Dia bawain apa Lo?" Nara tersenyum lebar mengangkat kreseknya.
"Banyak, sini." Nara meletakkan makanannya di depan televisi. Laura mempercepat pekerjaannya lalu ikut bergabung di sana duduk di lantai berlapis karpet bulu.
"Sering-sering aja deh." ucap Laura saat mengambil anggur dari Farhan.
"Hih, mau maunya, giliran makanan aja maunya sering-sering." Laura mencebikkan bibirnya sembari mulai sarapannya.
"Namanya deketin cowok mah memang kudu pinter, harus kita yang untung, enak aja mereka yang untung, rugii donggg!" ucap Laura tegas sembari membusungkan dadanya angkuh. Nara mendesis menatap Laura aneh.
"Terserah deh, yang penting kita berdua nyaman." Laura mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, serah Lo, kalau di PHP in jangan nangis sama gue!" Laura menyuap makanannya menatap Nara kesal. Nara ikut menatap Laura dengan tatapan kesal. Meski keduanya selalu bertengkar kecil, itu tidak membuat hubungan keduanya renggang. Nara sudah seperti saudara bagi Laura, begitu juga Nara. Karena Laura hidup sebatang kara, Nara benar-benar menjaganya dan menemaninya selalu di sisinya.
*
Sore yang sibuk Laura dan Nara sudah kembali ke rumah sakit dan kembali beraktifitas di malam hari. Laura meletakkan barang bawaannya ke dalam loker lalu keluar untuk bekerja kembali. Sarah yang mendapat shif pagi masih terlihat disana membuat Laura mengerutkan dahinya. Ia melewati Sarah yang masih duduk di depan komputernya. Laura mengambil laporan daftar pasien, melewati Sarah di hadapannya.
"Laura!" Laura yang akan berkeliling berhenti menatap ke arah Sarah.
"Ya,"
"Kemarilah." Laura mengerutkan dahinya menatap Sarah tapi tetap berjalan mendekati Sarah.
"Ada apa?"
"Apa kamu sedang berusaha menggoda Dokter Rey?" Laura mengangkat alisnya sebelah, tak percaya mengapa pertanyaan ini tidak ada selesainya.
"Tidak berminat sama sekali!" Sarah meremas pena di tangannya.
"Sombong sekali, apa kamu pikir Dokter Rey memanggilmu karena menyukaimu, mengejarmu, dia hanya penasaran padamu!" Laura memutar bola matanya jengah.
"Ya terserah lah!" Laura berbalik hendak meninggalkan Sarah tapi Sarah menghentikan Laura agar tidak pergi.
"Aku belum selesai bicara!" Laura berbalik menatap Sarah dengan tatapan malas.
"Bisa gak jangan membahas Dokter Rey, aku muak mendengarnya." Sarah mengepalkan tangannya melihat sikap angkuh Laura membuatnya geram.
"Aku dan Dokter Rey sudah berpacaran!" Laura yang sejak tadi bermalas-malasan bicara dengan Sarah seketika terkesiap menatap Sarah tak percaya.
"Wah, benarkah?" Sarah mengerutkan dahinya menatap perubahan wajah Laura yang langsung sumringah.
"T-tentu saja!"
"Wah, selamat untukmu, kalian benar-benar pasangan serasi, aku doakan kalian selalu bahagia!" ucap Laura tulus dengan senyum lebar. Sarah mendesis kesal melihat ekspresi itu.
"Kamu tidak cemburu?" Laura hampir tersedak mendengar pertanyaan konyol tersebut.
"Jangan gila, aku tidak suka dengan pasangan orang, ya sudah aku mau mulai bekerja, semoga hari-harimu indah!" Laura melambaikan tangannya berjalan menjauhi Sarah dengan tawa di wajahnya. Sarah terdiam disana menatap Laura dengan ekspresi yang tidak ia harapkan.
Laura berhenti di depan ruangan Rian, sebelum ia mengakhiri shifnya pagi ini ia sudah bicara pada Rian untuk membawa ponsel Narendra. Laura harus segera mengakhiri pekerjaan aneh ini. Ia membuka pintu ruangan Rian di sambut wajah ketus ibu Rian dan Rian tampak duduk menatap televisi di hadapannya.
"Kamu sudah datang?" Rian mematikan televisi lalu menatap Laura yang sudah ada di hadapannya.
"Kamu mau mengambil ponsel?" Laura mengangguk.
"Apa kamu mendapatkannya?" Laura melirik ibu Rian dan mengangguk sopan kearah wanita tersebut.
"Sudah, orang suruhanku juga sudah memperbaikinya, hanya layarnya saja yang sedikit retak." Rian menunjukkan ponsel yang masih di balut plastik pengaman.
"Jadi, bisakah kita pergi sekarang?" bisik Laura membuat Rian melirik ibunya.
"Ya, baiklah, aku sudah bicara pada Mama, walaupun dia marah dia tetap mengijinkanku." Laura mengangguk lega. Gadis itu mendorong kursi roda mendekatkannya pada ranjang Rian. Ibu Rian membantu putranya pindah dari ranjang lalu menatap Laura.
"Jangan terlalu lama, putraku akan kelelahan jika harus kerja dalam keadaan sakit!" Laura menunduk menatap Rian.
"Ma, Rian hanya mengantar ponsel Pak Narendra, tidak bekerja seperti yang Mama katakan." Wanita itu tidak mendengarkan dan berjalan menjauhi mereka.
"Ayo." ajak Rian pada Laura. Keduanya keluar dari ruangan Rian menuju ruangan Narendra.
"Ponselnya bisa menyala?" tanya Laura membuat Rian mengangguk.
"Bisa, mereka sudah memperbaikinya." jawab Rian cepat. Mereka tiba di lantai VVIP dan Laura mendorong kursi roda Rian dari lift dan melangkah mendekati ruangan Narendra.
Keduanya berhenti di depan pintu ruangan Narendra, Laura melihat sekilas tidak menemukan siapapun di dalam lalu membuka pintu ruangan itu. Ia mendorong Rian masuk ke dalam mendekati Narendra. Untung saja perawat Narendra tidak ada disana.
"Sepertinya dia masih tidur, apa kita harus menunggu?" tanya Laura membuat Rian menggeleng.
"Aku tidak tahu, apa menurutmu kita bangunkan saja?" Laura membasahi bibirnya menatap Rian.
"Sebenarnya aku tidak bisa lama-lama, aku harus bekerja lagi!" Rian menatap Laura dan baru sadar jika ia bersama suster di rumah sakit tersebut.
"Ahh, benar juga." ucap Rian tersadar.
"Kita bangunkan saja!" Rian menghela napasnya menatap wajah Narendra.
"Tunggu sepuluh menit lagi!" Laura melirik jam tangannya dan mengangguk. Ini juga tidak benar, ia bisa di pecat jika mengganggu kesehatan pasien seperti ini. Tapi Laura harus segera menyelesaikan hal ini. Laura menatap wajah Narendra lalu menghela napasnya kasar. Narendra terlihat bergerak membuat Laura memukul pundak Rian cepat.
"Hei, lihatlah!" ucap Laura tampak senang.
"Dia sepertinya akan bangun." Laura mengangguk dan benar saja Narendra membuka matanya. Mengerjabkan matanya berkali-kali lalu menoleh melihat Laura dan Rian ada di dekatnya.
"Sore, Pak." Rian menyapa dengan senang hati.
"Pak kami kesini membawa ponsel Bapak." Narendra melirik Laura lalu menatap Rian.
"Hubungi, d-dia!" ucap Narendra pelan sekali.
"Baiklah, yang mana kontaknya?" Rian mengeluarkan ponselnya dari plastik tersebut dan menunjukkan ponsel Narendra pada pria itu.
"Tekan Dua!" ucap Narendra pelan .
"Tekan Dua?" tanya Laura saat membungkuk di depan Narendra.
"Berapa?" tanya Rian.
"Katanya tekan tombol dua." Rian mengangguk mengerti lalu membuka panggilan dan menekan angka dua disana. Saat panggilan baru tersambung, Laura terkejut mendengar pintu kamar di tutup. Laura menoleh diikuti Rian melihat Naira ada disana mendekati suaminya.
"Wah, kalian disini juga?" tanya Naira membuat Rian dan semua orang di sana membeku. Rian langsung mematikan panggilan itu karena ada Naira di sana.
"Apa kalian sudah lama? Kamu harus banyak istirahat, Rian?" Naira menatap Rian dan Laura bergantian.
"Saya kesini hanya memenuhi perintah Pak Narendra, Bu!" Laura terkejut mendengar jawaban Rian. Naira tampak mencium suaminya dan merapikan selimutnya.
"Permintaan? Apa?" Rian dan Laura saling menatap satu sama lain.
"Hanya meminta bawakan barangnya." Naira mengerutkan dahinya menatap Rian. Laura menunduk menghela napasnya mengapa Rian terlalu polos dan jujur.
"Ya,"
"Barang apa? Kenapa tidak minta padaku saja?" Naira menatap Narendra dengan alis terangkat sebelah. Laura menunduk diam tidak ingin bicara apapun meski Naira bertanya padanya.