Suasana di ruangan Narendra begitu tegang karena Laura benar-benar takut jika akhirnya Naira tahu apa yang sedang mereka lakukan disana.
"Kenapa kalian diam?" Naira kembali bertanya membuat Laura menyentuh pundak Rian agar berbicara.
"Barang yang tertinggal di lokasi kecelakaan, itu .." Naira mengerutkan dahinya menatap Rian.
"Itu apa?"
"N-nairaa." Narendra memanggil istrinya membuat Naira menatap Rendra dan mendekatinya.
"Sayang, kamu butuh sesuatu?" Naira mengusap wajah suaminya menatapnya penuh sayang.
"Mi-minum." Naira mengangguk dan mengambil gelas membantu Narendra minum. Laura dan Rian berbicara lewat mata, mereka rasa ini bukan waktu yang tepat. Tapi saat keduanya hendak pergi ponsel yang Rian pegang berdering. Rian dan Laura seketika membeku dan saling menatap satu sama lain. Naira yang sedang memperhatikan suaminya menatap kearah dua orang itu.
"Kenapa kalian saling menatap, angkat ponselnya." Rian terkejut dan langsung mengangkat ponsel itu menatap panggilan masuk dari kontak Ben. Ternyata panggilan mereka tadi membuat pria bernama Ben itu memanggil kembali. Rian menatap Narendra lalu menatap ponsel itu kembali.
"Rian, kenapa ponselmu terus berdering?" Naira mendekati Rian yang hanya diam memegang ponselnya.
"I-ini ..." Naira mengerutkan dahinya mendekati Rian mencoba menatap ponsel di tangan Rian tapi dengan cepat Laura mengambilnya dari tangan Rian.
"I-ini ponsel saya." jawab Laura cepat menggenggam ponsel Narendra dengan wajah gugup.
"Cepat angkat panggilan itu, mengganggu pasien saja!" kali ini wajah Naira benar-benar kesal karena mengetahui jika itu ponsel Laura. Laura menatap Rian membuat Rian mengusirnya cepat. Laura mengangkat panggilan itu dan keluar dari ruangan Narendra.
"Mengapa ada seorang suster seperti itu, Rian, lain kali tegur jika pekerjaan mereka tidak baik. Mereka bisa membahayakan pasien jika bermain ponsel terus." Rian tersenyum kaku mengangguk cepat.
Laura berhenti di tangga lalu mendengarkan panggilan yang masih tersambung tersebut.
"Hallo."
"Hallo..."
"Apa ini benar, Pak Ben?"
"Siapa ini?" Suara dari seberang telepon dengan nada berat dan maskulin terdengar jelas di telinga Laura.
"Maaf, Pak, tapi saya hanya ingin menyampaikan jika Pak Narendra menyuruh saya menghubungi Pak Ben." Hening, dan tidak ada jawaban. Pria di seberang sana sepertinya diam dan tidak menjawab.
"Narendra?"
"Ya, pasien kami Narendra."
"Pasien?" Laura mengangguk tanpa sadar.
"Ya, dia sedang di rawat di rumah sakit saat ini." pria itu tidak menjawab lagi dan hanya diam mencerna apa yang Laura katakan.
"Baiklah...." Seseorang menarik ponsel dari telinga Laura membuat Laura terkejut dan berbalik menatap seseorang yang mengambil ponselnya. Panggilan itu terputus karena Naira mematikannya. Laura terkejut saat mengetahui jika Naira berdiri di belakangnya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Laura jabarkan.
"Berikan ponsel saya?" Naira tertawa sinis menatap Laura.
"Ponsel saya!" Naira melipat kedua lengannya di d**a menatap Laura.
"Tentu saja, itu milikku!" ucap Laura dengan nada setenang mungkin.
"Ayolah, aku mendengar semuanya!" Laura terdiam menatap Naira takut. Ia mengerjabkan matanya mencoba untuk tenang.
"Apa yang kamu tahu?" Naira mendesis kesal pada Laura.
"Lancang sekali!"
"Maaf tapi aku tidak mudah percaya pada siapapun." Naira tersenyum menatap Laura, Laura berusaha tidak takut pada Naira.
"Kau! Bekerjalah dengan baik, apa kamu sudah bosan bekerja di rumah sakit ini?" Laura mengerjabkan matanya menatap Naira, mengapa wanita ini bisa ada bersamanya.
"Kenapa saya harus bosan, saya mencintai pekerjaan ini!" Naira menghentakkan kedua tangannya geram. Ia mengangkat tangannya menunjuk wajah Laura.
"Kamu, berhati-hatilah dengan sikapmu, aku peringatkan kali ini. Perhatikan pekerjaanmu!" Laura menarik ponsel yang ada di tangan Naira tapi Naira menahannya.
"Berikan!" pinta Laura pada Naira.
"Tidak akan!" Laura menarik ponsel yang sudah dalam genggaman Naira.
"Berikan padaku!" teriak Laura dengan emosi di matanya.
"Ini handphone suami saya!" Laura mengerjabkan matanya mendengar itu.
"Anda salah paham!" ucap Laura mencoba menyembunyikannya.
"Aku paham betul ini handphone siapa, ini milik suamiku!" Laura mengerjabkan matanya, gugup, bibirnya keluh untuk menjawab. Alasan apa lagi yang harus ia pakai.
"T-tapi hand...!" Naira langsung berjalan menjauhi Laura yang berdiri menatap kearah Naira. Laura mengepalkan tangannya setidaknya ia sudah bicara pada pria bernama Ben tersebut. Laura memejamkan matanya menghela napasnya panjang. Jantungnya berdebar kencang, mungkinkah ia akan di pecat setelah kejadian ini. Laura berjalan lemas kearah ruangan Narendra. Ia tidak akan meninggalkan Rian disana, ia memiliki tanggung jawab membawa Rian kembali ke ruangannya. Laura masuk ke dalam ruangan Narendra dan wanita itu terlihat biasa saja seeprti tidak terjadi apapun. Naira tersenyum, bahkan kepada dirinya. Benar-benar ular bermuka dua, Laura menarik kursi roda Rian membungkuk sopan lalu keluar dari ruangan itu. Laura berjalan terus mendorong kursi hingga tiba di depan lift. Hanya menunggu sebentar lift terbuka dan Laura langsung mendorong masuk kursi roda Rian.
"Suster Laura!" Laura menunduk mendengar Rian memanggil Laura.
"Ya, ada apa?"
"Bagaimana? Kamu bisa bicara dengannya?" Laura menengadahkan kepalanya menatap langit-langit lift.
"Kenapa istri Pak Narendra ada disana?" Rian mengerutkan dahinya menatap Laura.
"Dimana?"
"Disana, bersamaku!" Rian terkejut mendengar apa yang Laura katakan.
"Bersamamu? Bagaimana bisa?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu, kenapa dia bisa ada bersamaku, bukankah ia bersamamu saat aku keluar?" Rian mengerutkan dahinya menatap Laura.
"Ahh ya, dia memang keluar sebentar setelah kamu keluar. Aku tidak tahu kemana tapi dia langsung kembali tidak lama." Laura menghela napasnya menatap Rian.
"Dia menemuiku!" Rian menunduk tak percaya.
"Apa yang dia katakan?"
"Dia mengingatkanku agar bekerja lebih baik, dan ya, ponsel Pak Narendra saat ini ada bersamanya!" Rian menghela napasnya kasar.
"Biarlah, sepertinya dia bukan masalah!" Laura mendesis tak percaya.
"Aku lebih tidak percaya padanya, sepertinya dia tidak menyukai pria bernama Ben itu!" Rian menggeleng bingung ia tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Pria bernama Ben pun ia tidak mengenalnya, dan Naira, selama ini ia hanya menghormati wanita itu sebagai bosnya.
"Entahlah, aku masih tidak mengerti, tapi kamu sudah bicara pada pria bernama Ben itu, kan?" Laura mengangguk, meski ia ketahuan, entah mengapa ia merasa lega sudah bicara pada pria bernama Ben tersebut. Ia bahkan tidak mengkhawatirkan pekerjaannya. Laura kembali ke stand nya dengan langkah lelah. Nara menatapnya dari kejauhan dan mempercepat langkahnya.
"Laura!" Laura mengangkat wajahnya menatap Nara yang memanggilnya.
"Kamu dari mana aja sih, di cariin sama suster Nita!" Laura mengerutkan dahinya menatap Nara.
"Kenapa dia mencariku?" Nara menghela napasnya panjang.
"Dasar kamu, kamu kemana aja, kamu ngilang dari sejam yang lalu, kamu sakit apa gimana sih?" Laura menatap Nara terkejut lalu melirik jam di tangannya dan benar saja ia sudah bersama Rian sejak sejam yang lalu dan ia lupa dengan pekerjaannya. Laura berlari kecil meninggalkan Nara di sana berusaha cepat sampai di ruang perawat.