Punya Sugar Daddy

1089 Kata
Laura melangkah mendekati suster senior, menarik napasnya dalam lalu berjalan mendekati seniornya. "Suster Nita." Suster tersebut menoleh menatap Laura di hadapannya lalu menghela napasnya. "Laura, kamu dari mana saja, kenapa pekerjaanmu berantakan? Pasienmu tidak di tangani." Laura membungkuk pada suster Nita memohon maaf. "Maaf Sus, saya akui saya salah, saya lalai dalam bekerja." Suster Nita menghela napasnya menatap Laura. "Untung saja shifku belum selesai, jangan di ulangi lagi, cepat lanjutkan pekerjaanmu, jangan sampai senior lainnya menegurmu, kamu harus bisa menjadi perawat tetap di sini, apa kamu mau begini-begini terus?" Laura tersenyum dan menggeleng cepat. "Tidak Sus." "Ya sudah, jangan lalai lagi, cepat lanjutkan pekerjaanmu." Laura mengangguk dan tersenyum lega. Suster Nita berjalan menjauhi Laura tapi ia ingat sesuatu. "Sus, Suster Nita, tunggu!" Suster Nita menoleh kembali menatap Laura. "Ya, kenapa?" Laura membasahi bibirnya tampak ragu ingin bertanya. "Ehmm, mau tanya, pasien VVIP atas nama Pak Narendra, apa diagnosisnya dari dokter?" Suster Nita mengerutkan dahinya menatap Laura. "Kenapa kamu tanya itu?" "Cuma tanya aja Sus, penasaran." Suster Nita menatap Laura cukup lama membuat Laura gugup meremas ujung bajunya. "Penasaran?" "Hehe, iya, ingin belajar juga, soalnya kondisi pasien pertama kali cukup parah jadi pingin tahu!" Suster Nita menghela napasnya tersenyum. "Kondisinya lumayan prihatin tapi sepertinya sudah melewati masa kritis. Hanya saja, luka di bagian kepala terutama bagian otak belakang, itu mengenai area ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Dokter masih terus berusaha menganalisis keadaanya, untuk sementara dia di nyatakan lupa ingatan jangka pendek." Laura mengerutkan dahinya bingung. "Lupa ingatan jangka pendek?" Suster Nita tersenyum menatap Laura. "Biasanya pasien dengan lupa ingatan jangka pendek cenderung lupa dengan ingatan yang baru di terima, mungkin ingatan-ingatan saat sebelum dia mengalami kecelakaan, tapi dia masih mengingat dirinya dan keluarganya, hanya ingatan baru yang ia terima yang bisa hilang, tapi apapun itu, ini hanya analisa dokter, kita hanya bisa percaya setelah melihat keadaan pasien. Mungkin bisa saja tidak terjadi." Laura mengangguk mengerti. "Oh begitu, maaf mengganggu waktu kerja anda Suster, saya pamit undur diri, terima kasih sudah mau menjawab pertanyaan saya." Suster Nita mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya begitu juga Laura. Laura menghela napasnya menatap kearah suster Nita. Ia kembali melanjutkan langkahnya mengurus pasien-pasiennya yang terbengkalai. * Seorang pria melangkah santai berjalan di bandara menggeret kopernya dengan satu tangan sibuk menatap ponselnya. Pria itu adalah Ben, pria berkepala empat dengan pesona wajah tampan dengan gaya style anak muda tidak ada yang percaya jika usianya sudah menginjak kepala empat. Ben pria yang memiliki kehidupan bebas, tidak ingin terkekang dan selalu berkelana kemanapun ia mau. Kali ini ia harus terbang ke Indonesia karena panggilan dari sahabatnya. Ben duduk di kursi menunggu giliran sebelum keberangkatannya. Hari ini bandara cukup padat karena mendekati akhir tahun. Ben mengangkat kepalanya saat asistennya memberikan berkas yang harus di periksa sebelum masuk ke dalam pesawat. Asistennya membawa koper Ben dan pria itu membawa berkas miliknya hingga berhenti di depan petugas cantik. Setelah menyelesaikan serangkaian keberangkatan, kini Ben sudah duduk tenang di kelas bisnis dan tampak menyesap kopi pesanannya. "Kamu sudah memeriksanya?" Ben bertanya pada asistennya yang terlihat sibuk menatap laptop. "Ya, Sir." "Apa yang terjadi, apakah itu memang Narendra?" pria dengan rambut putih itu mengangguk. "Ya, Sir, Sir Narendra memang mengalami kecelakaan, saat ini sedang berada di rumah sakit dan sedang dalam pengobatan." Ben mengusap dagunya berpikir. "Jadi kabar itu benar, tapi kenapa bisa wanita itu yang bicara padaku. Kemana istri Narendra." gumam Ben berpikir keras. "Apakah hubungan Narendra dan istrinya baik?" asisten Ben mengangguk cepat. "Mereka masih menjadi suami istri, tidak ada kabar buruk dari keduanya." Ben mengangguk mengerti. "Bagaimana kecelakaannya?" Pria itu menyodorkan Ipad-nya di hadapan Ben. "Disini polisi merilis jika itu kecelakaan tunggal karena rem mobil yang mengalami kerusakan." Ben mengerutkan dahinya menatap Ipad-nya membaca dengan seksama dari kasus kecelakaan Narendra. "Baiklah, simpan saja semuanya nanti aku lihat kembali setelah kita tiba di Indonesia." Asisten Ben mengangguk mengerti dan kembali fokus pada pekerjaannya. * Di rumah sakit Laura kembali duduk setelah berkeliling memeriksa pasien. Ia menatap layar komputer di hadapannya dengan pikiran kosong. Nara kembali dari pekerjaannya menatap Laura dengan dahi berkerut. "Hei, kenapa melamun?" Laura terkejut dan langsung menatap kearah Nara. "Ehmm, enggak kok!" "Enggak-enggak, kenyataannya kamu melamun tahu, mikirin apa sih?" Laura tersenyum dan menggeleng pelan. Ia kepikiran ucapan Naira, wanita itu, apakah ia akan melakukan hal seperti di drama kebanyakan. Memecatnya karena pekerjaannya yang mengganggu rencana nya. "Menurutmu mungkin gak aku bekerja di tempat lain?" Nara menaikkan bibirnya sebelah menatap Laura aneh. "Kamu mau berhenti?" "Enggak, cuma tanya aja." "Ya kalau kamu ada niatan mau berhenti, apapun itu pasti mungkin!" Laura menghela napasnya lalu menopang kepalanya menatap komputer. Nara mengerutkan dahinya dalam menatap Laura dengan wajah lesu. "Kamu kenapa? Ada masalah? Kalau lagi ada masalah cerita dong, biar aku bantu kasih solusi." Nara menggeret kursi mendekati Laura yang hanya diam saja. "Sebenernya gak ada masalah sih!" "Jangan gitu lah, gak ada masalah tapi kamu keliatan punya masalah, kamu gitu sama aku? Kamu main rahasia-rahasiaan!" Laura menghela napasnya panjang menatap Nara. "Tapi ini gak penting juga, sudahlah gak usah di bahas, aku mau tanya kamu satu hal, kamu dengar Dokter Rey dan Sarah pacaran gak dari anak-anak yang lain?" Nara menatap Laura dengan tatapan aneh. "Pacaran? Kamu dengar dari siapa?" Laura menatap Nara bingung. "Sarah langsung yang bicara sama aku, emang gak ada gosip mereka di rumah sakit?" bisik Laura membuat Nara menggeleng. "Aku malah tahu dari kamu, kamu yakin Sarah bicara begitu?" Laura mengangguk pelan. "Yakinlah, dia bicara langsung di hadapan aku kalau mereka sudah jadian, jadi jangan dekati Dokter Rey lagi, kurang lebih begitu maksud dari ucapannya." Nara tertawa mendengar ucapan Laura. "Memangnya kamu mau deketin Rey lagi?" Laura nyengir seketika menggeleng. "Enak aja, ya enggaklah, aku langsung ngucapin selamat sama itu anak, selamat atas hari jadiannya." Nara mendekati Laura karena percakapan ini lebih asik. "Bagaimana reaksi wajahnya saat kamu ucapin selamat?" Laura mengerutkan dahinya mengingat kembali. "ehhm, gimana ya, seperti orang tidak suka, tapi kenapa tidak suka ya!" ucap Laura saat menyadari ekspresi Sarah bicara padanya. "Ya itu, mungkin dia bohong sama kamu, supaya kamu cemburu, tapi nyatanya kamu tidak perduli dengan hubungannya dengan Dokter Rey!" Laura mendesis kesal membayangkan Rey. "Gabut banget cemburu sama orang kaya dia, cemburu sama sugar Daddy aja kali ya. Lebih menguntungkan." Nara menatap Laura aneh, lalu menepuk pundak Laura. "Kamu beneran niat punya sugar Daddy?" Laura menatap Nara yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Kayanya asik ya." "Hah! Seorang Laura." Laura terkekeh melihat ekspresi Nara yang tampak Shok. Tapi memang di pikiran Laura hanya ada Narendra, pria empat puluh lima tahun itu membuatnya terus memikirkan Narendra karena istri Narendra, Naira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN