Naira duduk tenang menatap Narendra yang sudah terlelap. Ia melirik jam di tangannya sudah hampir larut malam. Naira mendekati Narendra dengan senyum sinis melipat kedua tangannya di d**a.
"Kamu tidak benar-benar lupa ingatan!" gumam Naira nyaris tidak terdengar sedikitpun sembari menatap Narendra. Naira mengangkat tangannya mengusap wajah Narendra dan membungkuk berbisik.
"Sayang, aku pulang sekarang ya, Andra tidak ada temannya, aku harus kembali segera." Naira menegakkan punggungnya menatap Narendra yang sudah terlelap. Wanita itu tersenyum lalu keluar dari ruangan tersebut. Narendra perlahan membuka matanya menoleh kearah pintu. Narendra menoleh menatap langit-langit rumah sakit, mengingat kejadian yang membuatnya ada di rumah sakit ini. Kilasan kecelakaan itu jelas sekali tapi mengapa ia seakan melupakan sesuatu. Narendra diam membisu seperti merasakan ada yang kurang dan Naira, ia tidak nyaman dengan istrinya. Karena Narendra ingat hubungannya dengan Naira tidak semesra dulu.
Ketukan hak menimbulkan suara di tengah lorong sepi. Langkah kaki Naira berhenti di tempat suster yang berjaga. Naira berdiri di sana membuat salah satu suster mendekatinya.
"Maaf Bu, ada yang bisa kami bantu?" Naira memainkan jemarinya dan tersenyum.
"Aku mau mencatat daftar hitam dalam kunjungan suamiku!" Dua orang suster disana saling menatap satu sama lain.
"Baik, Bu. Anda bisa beritahu kami siapa orangnya, kami akan membantu untuk menolaknya." Naira mengangguk senang lalu mendekati suster tersebut.
"Yang pertama saya melarang salah satu suster masuk ke ruangan suami saya." Suster disana mengerutkan dahinya bingung.
"Suster? Maksudnya?"
"Saya tidak tahu pasti namanya, tapi saya bisa membacanya disana bernama Laura. Tolong bantu saya untuk melarangnya masuk ke dalam ruangan suami saya!" kedua suster itu saling menatap bingung tapi tetap mengangguk.
"Baiklah Bu, kami akan melakukan yang terbaik untuk kenyamanan pasien." Naira mengangguk senang mendengarnya.
"Baiklah, dan satu lagi, jika ada pria bernama Ben berkunjung kesini, tolong segera hubungi saya!" dua suster itu mengangguk cepat.
"Baik Bu, ada lagi?" Naira terdiam sejenak lalu menggeleng.
"Sudah itu saja, tolong segera kabari saya jika terjadi sesuatu pada suami saya." Suster jaga langsung mengangguk cepat.
"Pasti, Bu!" Naira berlalu meninggalkan Narendra di rumah sakit. Naira melangkah keluar meninggalkan rumah sakit tersebut. Ia tidak akan biarkan siapapun merusak rencananya kali ini.
*
Laura menunduk membenamkan kepalanya di kedua tangannya merasa benar-benar mengantuk. Nara menggoyang tubuh Laura yang tertidur di atas meja.
"Laura, kamu tidur?" Laura hanya bergerak singkat membuat Nara menghela napasnya.
"Laura."
"Hemmmm."
"Tidur?" Laura mengangkat kepalanya benar-benar lelah.
"Entah kenapa aku ngantuk banget!"
"Mau kopi? Biar aku pesenin?" Laura menatap Nara dan tersenyum.
"Boleh dong." jawab Laura cepat.
"Sebentar ya, aku pesan dulu." Nara mengambil ponselnya memesan pada kedai terdekat rumah sakit, memesan secara online. Nara meletakkan ponselnya menatap Laura yang kembali membenamkan wajahnya di meja.
"Laura!" Nara menggoyang Laura yang kembali tidur.
"Hemmm!"
"Aku mau tanya sesuatu, kamu bisa bangun gak?" Laura tidak merespon dan terus membenamkan wajahnya membuat Nara menghela napasnya.
"Lau..."
"Iya, kenapa?" Laura mengangkat kepalanya menatap Nara. Nara menghela napasnya panjang menatap Laura yang sudah bersandar di kursi.
"Kamu kenapa sering menemui pasien Vip, kamu sedang mendekati pria itu?" Laura seketika menegakkan punggungnya mendnegar pertanyaan Nara.
"Apa kamu bilang?" Nara mendesis kesal menatap wajah segar Laura.
"Pasien Vip, asisten Pak Narendra, kamu gak tahu kalau suster jaga di sana sudah bergosip tentang kalian." Laura menutup mulutnya tak percaya karena mereka berpikir begitu.
"T-Tapi aku tidak dekat dengannya." jawab Laura cepat membuatnya tidak mengantuk lagi.
"Tapi kamu selalu ke ruangannya, bahkan membawanya ke ruangan Pak Narendra, padahal disana juga ada susternya, kenapa kamu yang selalu membantunya?" Laura terdiam, ia mengerjabkan matanya menatap Nara.
"Ya ... Karena, aku.."
"Apa?"
"Karena ... Dia memang membutuhkanku!" Nara mengerutkan dahinya menatap Laura aneh.
"Semua itu ada alasannya, Laura. Kamu sembunyikan sesuatu dari aku?" Laura menunduk menopang kepalanya bingung harus menjelaskan apa pada Nara.
"Kamu tahu kan aku tidak suka berbohong?" Nara mengangguk cepat.
"Ya, aku tahu, sebenarnya juga kalau kamu dekat dengan pasien itu tidak ada masalah, tapi jangan di rumah sakit, aku gak mau kamu kena tegur senior." Laura menunduk mengangguk cepat.
"Ya aku tahu, tapi ini tidak seperti yang mereka katakan, aku hanya membantu!" Nara memegang tangan Laura mengerti.
"Aku percaya sama kamu, gak semua orang mengenalmu, tapi untuk membungkam semua mulut yang ada disini, kamu harus hati-hati setiap bersikap, kamu tahu kan ini tempat umum, meskipun ini rumah sakit tapi setiap mata dan telinga memperhatikan kita." Laura mengangguk mengerti.
"Ya, aku tahu, kalau waktunya tepat aku akan bicara padamu!" Nara menghela napasnya panjang menatap Laura.
"Aku sebenarnya senang mendengar hal ini, kamu sudah mulai membuka hati?" Laura mengangkat kepalanya menatap Nara.
"Enggak, bukan begitu." Nara tersenyum menatap Laura, menggoda dari matanya.
"Kenapa sih, kalau iya juga gak apa-apa, pria itu juga terlihat tampan dan memiliki pekerjaan yang bagus, aku dukung kamu, tapi tidak di rumah sakit juga." Laura menghela napasnya lelah menatap Nara. Terserah mereka berpikir apa, kenyataannya Laura dan Rian tidak memiliki hubungan apapun. Laura menatap Nara dengan perasaan bimbang, pikirannya kembali memikirkan Narendra. Istri Narendra tidak melakukan apapun untuknya membuatnya benar-benar takut. Laura merasa wanita itu bukan tipe wanita yang mudah memaafkan.
"Laura, kopimu." Laura yang sedang melamun seketika menatap kearah Nara yang sudah membawa cup kopi di tangannya.
"Ahh, terima kasih, kamu memang yang paling mengerti!" Nara mengedipkan matanya menatap Laura.
"Tentu dong, Oh ya, kamar tujuh belas baru selesai operasi, sepertinya kita akan tetap On sampai pagi hari." Laura tersenyum membalas tatapan Nara.
"Sungguh melelahkan."
"Tapi beruntung kita tidak masuk ke UGD, di sana benar-benar melelahkan." Laura menyesap kopinya mengangguk.
"Aku mau keliling dulu, kamu jangan ketiduran ya." Laura mengangguk menatap Nara berlalu meninggalkan ya disana. Laura menatap komputer di hadapannya, melamun menatap layar datar disana.
"Laura." Laura tersentak saat suara seseorang memanggilnya.
"Hah, ya." Laura mencari siapa yang memanggilnya dan ternyata suster Nita berdiri di depan mejanya.
"Ya, Suster." Laura seketika berdiri menyambut suster Nita di hadapannya. Wanita itu tampak Sudan menggunakan jaketnya dan sepertinya shifnya telah berganti.
"Kemarilah." Laura mengerutkan dahinya menatap Suster Nita yang memanggilnya.
"Ada apa Sus?" Suster Nita menghela napasnya menatap Laura.
"Kamu sering ke ruangan VVIP?" Laura tertegun bingung mendapat pertanyaan itu.
"Ehhm, kenapa suster bertanya begitu?"
"Jawab saja pertanyaan saya, Laura." Laura menggigit bibir dalamnya, mengerjabkan matanya berkali-kali.
"Sebenarnya,"
"Apa?"
"Aku ingin melihat-lihat saja Suster!" Suster Nita menghela napasnya menatap Laura.
"Dengarkan aku baik-baik, jangan ulangi lagi hal ini, aku tidak bisa menjamin kamu lagi, ini peringatan, kamu sudah masuk daftar hitam dalam kunjungan, itu benar-benar mengganggu Laura, kita seorang perawat yang merawat pasien, tapi mereka melarang kita untuk datang. Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Jangan lakukan apapun, kamu mengerti?" Laura terdiam masih mencerna apa yang suster Nita katakan.
"Tunggu Sus, aku masuk dalam daftar hitam?" Suster Nita mengangguk yakin.
"Ya!"
"Bagaimana bisa?" Suster Nita menatap Laura sedih.
"Itu atas permintaan keluarga langsung, untuk melarangmu masuk, lagian itu bukan area kerja kamu, saya ingatkan lagi, jangan pernah masuk ke sana jika kamu masih ingin bekerja, kamu mengerti?" Laura mengerjabkan matanya menatap Suster Nita.
"Y-Ya, baiklah!"
"Saya pergi dulu, lakukan pekerjaanmu dengan benar, Laura!" Suster Nita menepuk pundak Laura lalu berjalan meninggalkan gadis itu disana. Laura meremas jemarinya ternyata wanita itu langsung menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya.