Naira keluar dari mobilnya menatap satu mobil yang terparkir di garasi rumahnya. Ia mengerutkan dahinya dan menatap kearah rumah. Naira langsung melangkah cepat memasuki rumah. Ia masuk di sambut asisten rumah tangganya.
"Nyonya, ada tamu!" Naira mengangguk memberikan tasnya pada asistennya lalu menyuruh wanita itu pergi. Naira melangkah menemui pria yang asistennya katakan tapi tidak ada di manapun. Naira melangkah ke dapur menemui asistennya.
"Bik, dimana dia?" tanya Naira saat tidak menemukan tamunya.
"Ada di atas, Nyonya." Naira meremas bajunya dan mengangguk. Ia menaiki anak tangga dan tujuannya langsung tertuju pada kamar putranya. Naira membuka pintu kamar Andra dan benar saja pria itu ada disana. Naira masuk dan menutup pintu kamar Andra pelan agar tidak membangunkan putranya.
"Kamu sedang apa disini?" pria itu menoleh menatap Naira yang baru saja tiba di rumahnya.
"Aku sedang melihat putraku!" Naira memejamkan matanya memegang dahinya pusing.
"Kenapa kamu masih ada di rumahku selarut ini, kalau kamu mau bertemu lakukan di tempat biasa!" Naira tampak kesal menatap prianya.
"Aku ingin melihatnya, apa aku salah? Dia selalu menghabiskan waktunya untuk sekolah, aku tidak punya waktu, hanya malam hari dia ada di rumah, dan kebetulan Narendra tidak ada, apa aku salah?" Naira berjalan kesana kemari bertolak pinggang menatap kesal kearah pria di hadapannya.
"Tentu saja salah! Narendra sedang di rumah sakit, kamu jangan sering-sering terlihat kesini, aku tidak mau mereka bicara aneh tentang kita!" pria itu mendekati Naira yang tidak berhenti bergerak.
"Kamu takut?" Naira menghela napasnya kasar menatap kekasihnya.
"Lebih tepatnya berhati-hati, kenapa kamu sulit sekali di ajak bekerja sama!" pria itu terkekeh menatap Naira, mengangkat tangannya mengusap wajah Naira, memegang pipinya lembut.
"Kenapa harus berhati-hati? Saat-saat seperti ini sangat bagus untuk menyingkirkan Narendra, aku akan mengurusnya, kali ini dia akan tamat!" Naira memejamkan matanya lelah.
"Tidak perlu, sudah terlambat, kita sudah gagal kali ini, kita akan lakukan rencana lain kali lagi!" pria itu menatap terkejut kearah Naira.
"Apa? Maksud kamu kita berhenti disini?" Naira menatap kekasihnya dan mengangguk.
"Tapi kenapa? Aku tidak ingin menunggu lagi, sudah cukup, Naira!" Naira menghela napasnya kasar dan merogoh sakunya menunjukkan ponsel Narendra.
"Kamu tahu ini apa?" pria itu menatap ponsel di tangan Naira dengan kerutan di dahi.
"Ponsel?"
"Ya, ini milik Narendra, dia mendapatkannya tanpa sepengetahuanku, di bantu seorang suster, apa kamu pikir Narendra selemah itu meski dia koma!" pria itu terdiam sesaat mematung menatap Naira.
"Kamu yakin?"
"Tentu saja, aku bahkan melihat sendiri suster itu bicara pada Ben!" pria itu memicingkan matanya menatap Naira.
"Ben? Pria yang kita bahas itu?" Naira mengangguk lelah.
"Ya, sepertinya pria itu sudah melakukan perjalanan kesini!"
"Lalu kenapa kita harus takut? Aku sudah membersihkan semua bukti, kamu tidak perlu takut sayang. Oke begini saja, kita bahas lagi besok. Jangan pikirkan yang membuatmu takut, Kamu pasti lelah, kita bertemu lagi besok!" Naira menatap kekasihnya mengangguk. Pria itu tersenyum dan mengangkat wajah Naira mengecup bibirnya singkat.
"Kali ini jangan datang tanpa memberi kabar!" ucap Naira membuat pria itu mengangguk.
"Oke baiklah!"
"Kamu pahamkan! Aku tidak mau waktu sepuluh tahun yang kita rencanakan akan sia-sia hanya karena kamu tidak sabar untuk bersama kami!" pria itu kembali mengangguk mengusap kepala Naira.
"Baiklah sayang, kali ini aku akan selalu menurutimu!" Naira menghela napasnya lega. Pria itu kembali mengecup bibir Naira dengan durasi yang lebih lama. Naira dan kekasihnya keluar dari kamar putranya langsung turun dan keluar dari rumah. Naira menatap kepergian pria itu dari teras rumah dan kembali masuk ke dalam rumah dengan napas berat. Benar-benar pria yang sudah untuk diajak bekerja sama. Asisten rumah tangga Naira tampak mendekatinya yang berdiri di pintu masuk.
"Nyonya, apakah mau makan malam?" Naira menoleh menatap asistennya dan menggeleng pelan.
"Tidak, aku mau langsung istirahat saja. Kamu istirahat saja." wanita yang lebih tua dari Naira itu mengangguk dan berlalu meninggalkan Naira. Naira mengusap lehernya lelah berjalan menuju kamarnya.
*
Laura menatap layar komputer dengan tatapan kosong. Bukankah melarangnya menemui Narendra adalah hal yang biasa. Apalagi di bagian itu bukan area kerja Laura. Seharusnya Laura baik-baik saja tapi mengapa ia merasa sedih. Setelah suster Nita meninggalkannya ia hanya terdiam di stand jaga menatap komputer di hadapannya. Laura merasa sedikit terganggu tapi bukankah ini yang ia mau. Ia selalu mengatakan jika ia bis menghubungi Ben ia akan berhenti dan tidak lagi membantu Narendra. Dan mengapa ia malah merasa tidak suka Naira melakukan ini. Laura menunduk memegang kepalanya merasakan gejolak di hatinya, kesal, marah, dan tidak bisa ia jabarkan.
"Laura!" Laura mengangkat kepalanya cepat dan Nara sudah kembali.
"Sudah selesai?"
"Mereka pada tidur, kayanya kita bisa sedikit lebih santai." Laura mengangguk dan menopang kepalanya.
"Tentang pasien di Vip, apa saja yang kamu dengar dari anak-anak?" Nara menoleh menatap Laura.
"Tidak banyak, cuma mereka mengatakan jika kamu dekat dengan pria muda itu!" Laura mengangguk tersenyum tipis. Setidaknya bukan gosip tentang ia dan Naira.
"Weekend kita nonton bioskop yuk?" Nara mengangkat wajahnya menatap Laura.
"Ihh mauuu, nonton apa?" Laura tersenyum.
"Terserah kamu deh!"
"Tumben ngajakin nonton, kenapa?" Laura mengerutkan dahinya menatap Nara.
"Emang harus kenapa-kenapa ya kalau aku ngajak nonton?" Nara terkekeh mendengarnya.
"Ya enggak sih, cuma gak biasa aja! Eh, ngomong-ngomong pria itu sudah boleh pulang dalam beberapa hari ini." Laura mengerutkan dahinya menatap Nara.
"Pria mana?"
"Pasien Vip! Mana lagi?" Nara menatap Laura dengan kerutan di dahinya.
"Oh, dia ... Kamu tahu dari mana?" Nara menghentikan tulisannya lalu fokus menatap Laura.
"Anak-anak pada bilang begitu, tinggal nunggu keputusan dokter aja, siapa sih namanya?" Laura menautkan alisnya gugup.
"Siapa?"
"CK, kamu gak usah sok gak tahu gitu deh, yang sedang kita bicarakan lah!" Laura tersenyum tipis.
"Rian."
"Cie, bisa-bisanya dia tau yang bukan pasiennya!" goda Nara membuat Laura memutar bola matanya jengah.
"Aku gak ada apa-apa sama Rian, cuma ada beberapa keperluan aja yang mengharuskan menemui dia." Nara mengerutkan dahinya menatap Laura.
"Keperluan? Apa?" Laura mengerjabkan matanya bingung karena bicaranya menjadi mengarah pada Narendra.
"Ya soal pasien dan suster!" Nara menaikkan sudut bibirnya nyengir.
"Tapi kan dia bukan pasien kamu, Laura!" ucap Nara kesal menatap Laura.
"Ya maksudnya itu!"
"Apa?" Nara memicingkan matanya menatap Laura.
"Ehmm, sekedar membantu!"
"Suka rela? Terus pasien kamu terbengkalai?" Laura menunduk menutup matanya bingung dengan ucapannya sendiri.
"Bukan begitu?" Nara menatap curiga kearah Laura yang aneh akhir-akhir ini.
"Oh!" Nara menutup mulutnya menatap Laura horor.
"Apa?" tanya Laura saat melihat wajah panik Nara.
"Jangan bilang kamu sedang mendekati sugar Daddy melalui Rian itu!" Laura mengerjabkan matanya menatap Nara.
"Gila kamu!"
"Jujur sama gue! Soalnya kamu akhir-akhir ini bicara sugar Daddy mulu!" Laura menggelengkan kepalanya menatap Nara lucu.
"Gila aja, ya enggak lah!" ucap Laura sembari terkekeh.
"Atau jangan-jangan yang kamu incar Pak Narendra, kayanya dia lebih cocok di bilang sugar Daddy!" Laura melotot mendengar narasi Nara dengan pikirannya sendiri.
"Nara! Bisa diem gak? Kalau ada yang dengar gimana?" Nara menatap Laura terkejut menutup mulutnya.
"Jadi beneran?"
"Hah! YA ENGGAK LAH!" teriak Laura cukup kuat membuat keduanya reflek menutup mulut menatap sekeliling rumah sakit.