Langkah seorang pria tampak cepat keluar dari bandara, menggeret kopernya dengan cepat dan berhenti di depan pintu mobil. Asistennya mengambil alih kopernya dan memasukkan koper tersebut ke dalam bagasi.
"Kita mampir ke rumah orang tua Narendra dulu!" asisten Ben tampak menoleh ke belakang saat Ben sudah ada di dalam mobil.
"Sir, anda perlu istirahat dulu. Saya sudah menyuruh asisten rumah tangga membersihkan apartemen Sir Ben." Ben mengangkat tangannya menolak.
"Kita ke rumah orang tua Narendra, lakukan sekarang!" pria bule itu menghela napasnya lalu bicara pada supir yang ada di sebelahnya.
"Kita pergi ke alamat ini." asisten Ben menunjukkan Ipad-nya lalu mobil melaju meninggalkan bandara. Ben menatap jalanan dengan wajah tersenyum. Ia benar-benar lupa kapan terakhir kali kembali ke tanah air. Ia terlalu lama hidup di luar negeri selama ini. Mobil Ben melaju membelah kota Jakarta menuju kediaman Adiaksa ayah Narendra. Cukup lama berkendara mereka tiba di kediaman ayah Narendra. Ben langsung keluar dari mobilnya menatap rumah yang tidak pernah berubah tersebut. Ben tersenyum lalu meninggalkan mobilnya melangkah mendekati rumah tersebut. Ben menekan bel rumahnya menunggu beberapa saat dan seorang wanita paruh baya membuka pintu tersebut.
"Selamat Pagi, apakah Tuan Adi ada di rumah?" wanita tersebut mengerutkan dahinya menatap Ben.
"Maaf, tapi ada keperluan apa Tuan mencari Tuan Adikasa?" Ben tersenyum ramah menatap wanita tersebut.
"Bisakah saya menemuinya?" wanita itu tampak membuka pintu lebih lebar berdiri di depan Ben.
"Tapi Tuan Adi tidak bisa pergi dari kamarnya, saya akan tanya beliau dulu. Dengan siapa saya bicara?" Ben menghela napasnya menatap wanita tersebut.
"Katakan saja sahabat putranya, Ben." wanita itu mengangguk dan menyuruh Ben untuk menunggu di ruang tamu. Ben masuk ke dalam rumah tersebut dan menatap rumah yang masih terlihat seperti dulu. Ben duduk di sana menunggu asisten tersebut menemuinya. Tidak butuh waktu lama asisten tersebut kembali menemui Ben dan membawanya ke kamar ayah Narendra. Ben masuk ke dalam kamar ayah Narendra dan melihat Adiaksa sedang beristirahat di ranjangnya. Ben mendekati pria itu dengan tatapan terkejut, terakhir kali ia bertemu ayah Narendra belum seperti ini.
"Om Adi." pria berusia delapan puluhan itu tampak berusaha bersandar di ranjang menyambut Ben.
"Ben, wah kamu masih terlihat sangat muda." Ben tersenyum lalu mendekati Adi dan duduk di samping ranjang.
"Om Adi, sepertinya waktu banyak berubah." Adiaksa tersenyum memegang lengan Ben.
"Ya, sudah dua tahun belakangan ini kesehatan saya menurun, seberapa banyak pun uang yang kita miliki tidak akan bisa membeli waktu dan masa muda." Ben menunduk tersenyum.
"Ya, anda benar." Pria tua itu menatap Ben berkaca-kaca.
"Kamu kesini karena Narendra?" Ben menatap ayah Narendra dengan tatapan sedih.
"Seseorang menghubungiku!" Adiaksa bersandar menghela napasnya yang tampak berat.
"Aku tidak bisa menemaninya, aku merasa bersalah, mereka mengatakan dia mengalami kecelakaan parah. Saat itu aku rasa aku akan mati, tapi aku berakhir disini." Ben tersenyum memegang tangan yang sudah keriput dan terlihat urat-uratnya dengan jelas.
"Bagaimana keadaannya?"
"Asisten saya mengatakan dia sudah melewati masa kritisnya, aku berdoa kepada Tuhan agar dia bisa memiliki kesempatan sekali lagi." Ben menatap pria tua tersebut tampak menyimpan kesedihan di matanya.
"Dimana putri anda?" Adiaksa menghela napasnya berat menatap Ben.
"Dia belum kembali, saya sudah menghubunginya tapi dia belum bisa kembali, saya tidak bisa berharap banyak padanya." Ben mengangguk mengerti. Narendra memiliki dua saudara kandung. Keduanya adalah wanita, satu berada di Amerika dan satu lagi telah meninggal dunia. Narendra adalah anak terakhir dan pewaris tunggal satu-satunya di keluarga Adiaksa. Ibunya telah lama meninggal dan kini hanya tinggal sang ayah yang sudah tua.
"Siapa yang menemani Narendra di rumah sakit?" Adiaksa menggeleng sedih.
"Entahlah, mungkin istrinya, terakhir asisten saya melaporkan istrinya juga mulai sibuk di perusahaan." Ben menautkan alisnya mengangguk.
"Anda mempercayainya?" pria tua itu tampak menatap keluar jendela dan terdiam cukup lama.
"Sejujurnya saya tidak mempercayainya, tapi tidak ada orang lain yang bisa menggantikan Narendra." Ben menghela napasnya panjang mengangguk membenarkan.
"Apa anda tahu saat kecelakaan itu terjadi?" ayah Narendra menoleh menatap Ben.
"Saya hanya mendengar dari asisten saya. Sebelum kecelakaan itu terjadi, Narendra sempat berkunjung kesini tanpa membawa putranya dan istrinya. Saya belum selemah ini. Saya melihat dari sorot matanya jika dia kesepian. Saya merasa benar-benar tidak tenang jika meninggalkannya." Ben menggenggam erat tangan Adiaksa yang terlihat meneteskan air matanya.
"Apa yang Narendra bicarakan pada anda?" Adiaksa tampak menerawang mengingat saat itu.
"Dia mengatakan akan pergi ke luar kota, tapi aku melihat wajahnya tampak sedih. Itu menggangguku sampai saat ini, dan saat dia kembali dari luar kota, mobilnya mengalami kecelakaan tunggal." Ben menghela napasnya mengusap tangan keriput tersebut.
"Dia tidak mengatakan apapun selain berpamitan akan pergi keluar kota?" Adiaksa menatap Ben cukup lama lalu teringat sesuatu.
"Ada, dia meminta maaf padaku, dan bicara jika dia gagal menjadi putraku." Ben mengerutkan dahinya mendengar hal itu.
"Kenapa dia bicara begitu?"
"Aku tidak tahu, hanya itu yang dia katakan. Tapi aku menjawab dengan bangga, dia sudah melakukan banyak hal untuk keluarga ini, saya sangat bangga padanya, saya mengatakan semua itu bukan hanya untuk menghiburnya, tapi saya memang bangga memiliki putra yang baik dalam segala hal." Ben menghela napasnya panjang dan tersenyum.
"Narendra memang pria yang baik, dia tidak pernah melakukan hal yang merugikan orang lain bahkan dirinya. Aku juga tidak menyangka ada seorang pria seperti dirinya." Adiaksa tampak melamun menatap kearah jendela.
"Tapi sepertinya Tuhan selalu punya cara untuk membuat sebuah masalah di dalam hidupnya." Ben tersenyum menatap Adiaksa mencoba untuk menguatkan pria tua tersebut.
"Baiklah, istirahat saja yang cukup, sekarang aku ada disini, Om tidak perlu khawatir, aku akan mengawasi perusahaan dan mengontrol kesehatan Narendra." Adiaksa mengangguk tersenyum.
"Saya benar-benar bersyukur kamu masih mau kembali dan menemui kami." Ben menggeleng cepat.
"Jangan katakan itu, kita adalah keluarga." Adiaksa mengangguk memejamkan matanya sedikit lega.
"Tolong kabari aku selalu tentang perkembangan putraku." Ben mengangguk mengerti.
"Aku pasti akan selalu mengabari anda." Adiaksa tampak tenang menatap Ben, setidaknya ada seseorang yang ia percaya saat ini.
*
Laura keluar dari kamar mandi merasakan tubuhnya lebih segar. Ia berjalan mendekati kamarnya dan melirik Nara tampak cekikikan di dalam kamarnya sembari menatap ponselnya. Laura mendesis menatap Nara yang sedang dekat dengan teman kerja dan satu profesi. Laura masuk ke dalam kamarnya menggunakan lotion dan skincare lainnya sebagai ritual selesai mandi. Ia bangkit dan kembali keluar setelah menyelesaikan segala rutinitas untuk mempercantik diri. Nara sudah terlihat duduk di depan televisi memegang ponselnya.
"Mandi sana." ucap Laura dan ikut duduk di sana bersama Nara.
"Sebentar lagi, gue mau nyuci baju dulu, udah banyak banget, besok udah mulai masuk pagi lagi." desah Nara yang tampak lelah.
"Ya udah buruan, nanti-nanti malah kamu gak bisa istirahat." Nara melirik Laura yang sudah santai menggunakan kaos dan celana pendek rumahan.
"Kamu sudah selesai cuci baju?" Laura melirik Nara dan mengangguk.
"Tinggal jemur aja, buruan mandi, aku mau jemur baju dulu." Laura bangkit dan mendekati kamar mandi mengambil baju yang sudah ia cuci bersih. Ia berjalan ke bagian belakang rumah menarik jemuran yang nempel di dinding lalu mulai menjemur bajunya dengan hanger. Laura menyelesaikan satu persatu dan berhenti saat merasa ada yang aneh di dalam saku baju perawatnya. Laura mengerutkan dahinya menatap hal itu lalu merogoh saku baju kerjanya dan melihat ada kancing besar di sana. Laura terkejut mendapati benda itu ada disana.
"Haissh, sial! kenapa ini ada di saku ku, bukannya saat itu udah aku simpan." Laura mengingat kejadian saat di UGD ia memang menemukan satu kancing di genggaman Narendra. Tapi ia lupa memberikannya pada pihak rumah sakit.
"Aduhh bodoh banget, kenapa bisa aku masukkan ke saku. Kayanya kasih sama suster Nita aja kali ya, bisa-bisa kena marah kalau tahu selama ini barang ini ada sama aku!" Laura mendesis kesal karena merasa dirinya ceroboh. Ia mempercepat pekerjaannya lalu berjalan masuk ke dalam rumah.