Suster Laura...

1073 Kata
Narendra menoleh kearah pintu menatap seorang suster masuk mengecek keadaannya. Narendra memperhatikan semua pekerjaan suster tersebut lalu menatap kearah pintu lagi. Menanti seseorang yang tidak pernah datang melihatnya lagi. Pagi ini Naira belum terlihat menemani Narendra di sana wanita itu sepertinya akan datang sore hari. Suster wanita lainnya masuk ke dalam ruangan itu membuat Narendra menoleh cepat kearah pintu. Ternyata bukan wanita yang Narendra cari. "Pak, mau saya bantu sarapannya?" suster yang baru masuk membawa troli berisi menu sarapan Narendra itu bertanya. "T-Tidak, bantu saya naikkan ranjang ini." ucap Narendra meminta untuk menaikkan ranjangnya agar dia bisa sedikit duduk. Suster itu membantu Narendra mencari posisi nyaman untuknya. "Terima-kasih." ucap Narendra pelan, ia berangsur pulih dan mulai lancar berbicara. Narendra meminta remot televisi melirik suster yang meletakkan makanannya di samping ranjang. "Kalau anda butuh sesuatu, tekan saja tombol di dekat meja ini, kami akan segera menemui anda." Narendra mengangguk mengerti. Ia menatap televisi dan suster membungkuk sopan undur diri. "Tunggu!" Narendra memanggil suster yang terakhir keluar membuat suster tersebut kembali menatap Narendra. "Anda butuh sesuatu?" Narendra menatap cukup lama suster tersebut, lalu membuka suara. "Kemana suster yang biasa disini?" suster itu terdiam berpikir, ia menatap Narendra dan tersenyum. "Kalau boleh saya tahu siapa namanya?" Narendra mengerutkan dahinya dia tidak tahu nama suster yang selalu membantunya. "Saya tidak tahu namanya." ucap Narendra pelan. Suster itu tampak tersenyum menghela napasnya. "Baiklah, kalau begitu nanti saya panggil semua suster yang biasa merawat anda, mungkin Bapak mencari salah satunya." Narendra mengerjabkan matanya dan mengangguk. Suster itu kembali pamit dan benar-benar pergi meninggalkan Narendra di sana. Pria itu menekan remot tv berganti-ganti karena merasa bosan. Ia melirik menu sarapannya dan mengambil buah lalu memakannya dan menatap televisi di hadapannya. Pintu ruangannya kembali terbuka membuat Narendra menoleh dan tersenyum tipis saat Rian masuk ke dalam ruangannya. Pria muda itu mendorong tiang infusnya mendekati Narendra. Rian terlihat lebih baik dan tampak sangat sehat. Narendra senang melihatnya. "Selamat pagi, Pak." Narendra mengangguk tersenyum. "Bapak belum sarapan?" tanya Rian saat menatap menu sarapan Narendra masih utuh. "Saya baru mulai." Rian mengangguk tersenyum. "Oh begitu, Bapak tidak masalah kalau saya disini menemani Bapak sarapan?" Narendra mengangguk lagi. "Tidak." Rian menarik kursi di samping ranjang dan duduk di sana. "Pak, besok saya sudah di perbolehkan pulang." Narendra menatap Rian sembari mengunyah buahnya. "Alhamdulillah." gumam Narendra pelan. Rian tersenyum mendengarnya. "Tapi bagaimana pekerjaan saya, Pak? Apakah saya cuti sampai Bapak kembali bekerja?" Narendra terdiam cukup lama tidak menjawab apapun. Narendra tampak berpikir menatap lurus kearah televisi di hadapannya. "Pak ..." "Nanti, saya beritahu!" Rian mengangguk mengerti. "Baik, Pak." "R-Rian." Rian menatap Narendra cepat. "Ya, kenapa Pak?" "Dimana, Suster itu?" Rian mengerutkan dahinya berpikir. "Oh, Suster Laura?" Narendra mengerutkan dahinya tidak tahu. "Saya tidak tahu siapa namanya." "Maksud Bapak suster yang membantu saya menghubungi Pak Ben?" Narendra mengangguk cepat. "Ya." "Dia ada, tapi tugasnya tidak di ruangan VVIP." Narendra menatap Rian bingung. "Lalu?" "Saya juga tidak paham, Pak. Tapi suster-suster itu juga punya tingkatan seperti bekerja pada umumnya. Dan Suster Laura itu bertugas untuk pasien di ruangan umum." Narendra menautkan alisnya tanpa bersuara. "Oh, begitu." Rian mengangguk menatap Narendra. "Iya, ada apa Pak? Apa anda perlu sesuatu?" Narendra tampak menggeleng. "Tidak, apa kalian bisa menghubungi, Ben?" Rian mengangguk cepat. "Laura bilang dia sudah bicara pada pria bernama Ben itu, tapi.." Rian menatap Narendra terdiam tidak melanjutkan ucapannya. Narendra bertanya dari tatapannya. "Tapi, apa?" "Tapi sebelum Laura selesai bicara, ponsel Bapak di ambil istri Bapak, ibu Naira." Narendra menatap lurus ke depan. Rian menatap wajah bosnya yang hanya diam dan tampak berpikir. "Pak ..." "Ya." "Apa tidak masalah ponsel Bapak dengan istri Bapak?" Narendra menghela napasnya tersenyum tipis. "Tidak masalah." Rian mengangguk lega. "Pak, sebaiknya Bapak istirahat saja, tidak perlu memikirkan hal kecil yang belum tentu penting untuk kita. Kesehatan Bapak yang terpenting." Narendra menghela napasnya panjang. "Rian." "Ya, ada apa, Pak?" "Apakah sebelum kecelakaan, S-saya ada bicara hal serius padamu?" Rian terdiam memikirkan apa yang Narendra ucapkan sebelum kecelakaan itu terjadi. Rian menggaruk kepalanya tidak mengingat apapun. "Bapak tidak bicara apapun, kita menuju kediaman Bapak, itu saja." Narendra terdiam, ia seperti melupakan sesuatu, tapi ia tidak tahu apa yang ia lupakan. "Apa menurutmu ada yang salah?" Rian mengerutkan dahinya menatap Narendra. "Entahlah, Ahh iya, saya ingat sesuatu Bapak menyuruh Pak Gusti menemui Bapak di kediaman Bapak sendiri." Narendra mengerutkan dahinya mendengar hal itu. "Apa yang ingin saya bicarakan?" Rian mengerutkan dahinya menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, Pak. Bapak hanya menyuruh saya menjadwalkan pertemuan Bapak dan Pak Gusti. Tapi tentang apa masalahnya Bapak tidak bicara pada saya." Narendra menghela napasnya kasar memegang kepalanya yang berdenyut nyeri setiap ia berpikir keras. "Saya tidak mengingatnya!" Rian menatap sedih kearah Narendra. "Jangan terlalu di pikirkan, Pak. Santai saja. Kesehatan Bapak jauh lebih penting saat ini. Sebaiknya Bapak istirahat saja. Jangan terlalu banyak berpikir. Ingatan itu pasti akan kembali dengan sendirinya nanti." Narendra menghela napasnya pelan menatap Rian. "Terima kasih." Rian tersenyum. "Saya hanya ingin Bapak segera pulih." Narendra mengangguk mengerti. "Baiklah, Pak, saya kembali sekarang. Bapak istirahat saja, sepertinya saya lama-lama disini akan mengganggu kesehatan Bapak." Rian berdiri menatap Narendra. "Saya akan sering-sering mampir menjenguk Bapak." Narendra mengangguk pelan. "Jangan di paksakan, kamu perlu istirahat juga." Rian tersenyum mendengarnya. "Baiklah, saya kembali Pak, Bapak istirahatlah, maaf sudah mengganggu waktu pagi anda." Rian menunduk sopan lalu berjalan menjauhi Narendra. Narendra menatapnya berat dan kembali memanggil Rian. "Rian!" Rian yang hampir mendekati pintu berhenti dan menatap kearah Narendra. "Bapak memanggilku?" Narendra mengangguk membuat Rian kembali mendekati Narendra. "Ada apa, Pak?" Narendra menarik napasnya dalam menatap Rian. "Jika kamu bertemu suster Laura, katakan padanya saya ingin bertemu dan bicara." Rian mengangguk mengerti. "Baiklah, saya akan katakan padanya Pak, secepatnya suster Laura akan menemui Bapak." Narendra mengangguk pelan. "Saya permisi Pak, apa ada lagi?" Narendra menggeleng cukup. Rian langsung berjalan keluar menjauhi Narendra dan meninggalkannya di sana. Narendra menatap lurus ke depan memikirkan apa yang terjadi. Ia memegang kepalanya nyeri terasa berat saat ia berusaha berpikir keras. Narendra memejamkan matanya dan bayangan itu kembali datang. Dua orang berbeda mencoba membunuhnya. Satu saat ia berada di area kecelakaan dan satu lagi saat ia berada di rumah sakit. Mengapa ada orang yang ingin melukainya, bahkan membunuhnya. Apa yang ia lupakan, apa yang mereka cari. Narendra benar-benar tidak memiliki musuh. Apa yang ia lewatkan, mengapa orang-orang itu terus mengejarnya. Dan apa yang ingin ia bahas dengan Gusti. Mengapa ia tidak mengingatnya, apakah ia menulisnya di jurnalnya, atau di Ipad-nya. Narendra memejamkan matanya kepalanya benar-benar sakit saat diajak berpikir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN