Kehadiran Ben!

1270 Kata
Mobil Ben berhenti di depan rumah sakit, setelah mengunjungi ayah Narendra ia bertolak langsung ke rumah sakit. Sepertinya ia akan benar-benar sibuk karena Narendra. Asisten Ben keluar dari mobil lalu membuka pintu untuk Ben. Pria empat puluhan itu keluar dengan kaca mata hitam dan menatap rumah sakit besar tersebut. Ben berjalan masuk diikuti asistennya. Asisten Ben mengurus semuanya dan pria itu tampak duduk menunggu di sana. Ben menurunkan kaca matanya menatap beberapa orang berlalu lalang di rumah sakit tersebut. "Sir, ayo." Ben mengangguk dan bangkit dari duduknya. Mereka memasuki lift dan naik menuju ruangan VVIP setelah bertanya pada admin di pintu masuk rumah sakit. Ben dan asistennya keluar dari lift lalu berjalan menyusuri lorong dan melewati beberapa ruangan pasien lain. "Dimana ruangannya?" tanya Ben sembari berjalan di depan asistennya. "Sebentar, Sir." pria bule itu melangkah lebih dulu lalu berhenti di depan stand jaga perawat di sana. Ben menaikkan alisnya menatap para perawat di sana. "Permisi, kami ingin mengunjungi pasien bernama Narendra, dimana ruangannya?" tanya asisten Ben pada suster disana. "Kalau boleh tahu, dengan siapa?" asisten Ben melirik bosnya begitu juga Ben. Ben membuka kaca mata hitamnya lalu menatap suster tersebut. "Saya Ben!" Suster itu tersenyum menatap kearah Ben. "Sebentar ya Pak, duduk dulu." ucap Suster tersebut membuat Ben menatapnya aneh. Ben memilih duduk di kursi tunggu diikuti asistennya. Sementara para suster menghubungi Naira lebih dulu sebelum memberi ijin pada Ben masuk ke dalam ruangan Narendra. Di rumah Naira, wanita itu tampak keluar dari kamar mandi lalu mendekati ponselnya yang berdering. Naira masih terlihat menggunakan handuk bajunya karena baru selesai mandi. Naira menatap nomor rumah sakit dan langsung mengangkat panggilan tersebut. "Selamat Pagi, apakah ini dengan Ibu Naira?" Naira mengerutkan dahinya. "Ya saya sendiri." "Maaf, Ibu, ada pengunjung yang ingin bertemu dengan Pak Narendra, pria bernama Ben seperti yang Ibu katakan." Naira terkejut saat mendengar Ben sudah ada di rumah sakit. "A-apa? Lalu dimana dia?" "Kami masih menyuruhnya menunggu." Naira berjalan masuk ke walk in closed membuka lemarinya mencari bajunya dengan cepat. "Jangan beri dia masuk sebelum saya tiba disana." Suster itu mengangguk mengerti. "Baik, Bu." panggilan itu langsung terputus dan Naira langsung menggunakan pakaiannya dengan cepat. "Kenapa dia secepat ini sampai Indonesia. Aku gak sangka pria itu benar-benar datang." Naira duduk di meja riasnya dan dengan cepat bersiap. * Di rumah Laura tampak keluar dari kamar dengan setelan rapi membuat Nara yang masih bermalasan di depan televisi menatapnya dengan kerutan di d**a. "Kamu mau pergi?" Laura mengangguk dan menggunakan jaketnya. "Kemana?" "Rumah sakit." Nara menegakkan punggungnya menatap Laura aneh. "Mau ngapain?" "Aku ada keperluan sebentar, kamu buruan mandi." Nara berdiri mendekati Laura yang bersiap pergi dan menenteng helm di tangannya. "Ada keperluan apa sih, barang kamu ketinggalan? Entar siang kan kita sudah masuk, kenapa buru-buru banget." Laura berdiri di depan pintu bersama Nara yang sudah mengikutinya. "Kayanya aku harus pergi sekarang takut nanti-nanti lupa, aku mau menemui Suster Nita." Nara semakin penasaran menatap Laura. "Ada perlu apa sama Suster Nita, kamu minta pindah tugas?" Laura menggeleng cepat sembari menggunakan sepatunya. "Bukan, ini soal barang pasien." Nara ikut duduk di samping Laura yang sibuk menggunakan sepatunya. "Barang pasien?" "Iya, terbawa sama aku." Nara tampak terkejut mendengarnya. "Ya ampun Laura kok bisa, gimana sih kamu." Nara bertolak pinggang menatap Laura. "Aku juga baru tahu kalau barangnya ada di saku aku." ucap Laura tampak lesu menatap Nara. "Udah buruan, bilang aja sama Suster Nita kalau kamu lupa dan gak sengaja kebawa." Laura mengangguk cepat lalu bersiap menggunakan motornya. "Aku pergi dulu ya." Nara mengangguk menatap Laura pergi. Laura dengan cepat mengendarai motornya meninggalkan Nara yang masih menatapnya pergi. ** Di rumah sakit Ben tampak kesal karena sejak tadi mereka hanya di biarkan duduk menunggu di sana. Mengapa ingin menemui pasien harus menunggu seperti ini. Ben menggoyangkan kakinya bosan. Ia bangkit dari duduknya mendekati meja perawat yang berjaga disana. "Maaf Suster, harus berapa lama kami menunggu disini?" perawat itu berdiri dan tersenyum menatap Ben di hadapannya. "Maaf Pak, pasien memang masih dalam masa pemulihan, kami akan kabari Bapak setelah dokter mengijinkan pengunjung untuk melihatnya." Ben mengerutkan dahinya menatap suster tersebut. "Saya mau bertemu dengan suster yang biasa merawat Narendra!" dua orang suster di sana saling menatap satu sama lain. "Kalau boleh tahu suster siapa namanya, Pak?" Ben terdiam sesaat mengingat nama suster yang menghubunginya. Ben tidak ingat, sepertinya mereka tidak berkenalan saat itu. "Ituu, siapa ya ..." Ben terdiam bingung karena tidak mengetahui perawat yang menghubunginya. Suster di hadapannya menatap Ben bingung yang hanya diam di sana. "Pak..." "Saya tidak ingat siapa namanya, apakah dia biasa menangani Narendra?" dua suster itu saling menatap satu sama lain. "Semua perawat yang ada di sini ikut membantu merawat Pak Narendra, kalau anda tahu siapa namanya kami bisa bantu menemuinya." Ben menggeleng pelan tidak tahu siapa wanita itu. "Sudahlah, kapan aku bisa masuk menemui Narendra?" Suster itu menghela napasnya tersenyum. "Nanti kami beritahu, Pak." Ben mengerutkan dahinya kesal. "Kapan? Saya sudah menunggu hampir satu jam disini, kalian mempermainkan saya?" Suster tersebut menggeleng cepat menatap Ben. "Tidak, Pak, kami tidak berani melakukan itu. Sebentar lagi kami akan memberitahu Bapak kapan Bapak boleh menemui Pak Narendra." Ben menghela napasnya mengepalkan tangannya marah. Naira berjalan mendekati mereka, wanita itu sudah tiba di sana setelah buru-buru datang ke rumah sakit. "Kamu ingin menemui, Mas Rendra?" Ben menoleh saat mendengar suara seseorang dari arah belakang. Ben menaikkan alisnya menatap Naira di hadapannya. "Oh, ternyata itu kamu." Naira melipat kedua lengannya di d**a melirik suster tersebut lalu berjalan melewati Ben. Ben menatap kedua suster itu lalu ikut jalan mengikuti Naira ke ruangan Narendra. Naira membuka pintu ruangan Narendra dan langsung di sambut oleh tatapan Narendra yang sedang sibuk menatap televisi di hadapannya. Ben ikut masuk membuat Narendra tersenyum menatap sahabat lamanya tersebut. "Hei," Ben mendekati Narendra dan memeluk temannya itu menguatkan. "Bagaimana keadaanmu?" Narendra mengangguk tersenyum menatap Ben ada di hadapannya. "Belum sehat sepenuhnya." Ben mengangguk mengerti, pria itu menggeret kursi lalu duduk di samping Narendra. Naira meletakkan tasnya dan mendekati Narendra menatap makanan Narendra yang masih utuh tanpa tersentuh. "Kamu belum makan sayang?" Narendra menatap Naira lalu melirik makanannya. "Ahh iya, aku tidak selera." Naira menghela napasnya menatap makanan itu. "Seharusnya kamu nikmati selagi panas, Sayang. Kenapa tidak makan sarapanmu, kamu harus sembuh." Ben menautkan alisnya mendengar nada perhatian Naira pada suaminya. "Berikan padaku, akan aku bantu dia sarapan, bahkan habis tak tersisa." Naira menatap Ben yang meminta makanan dari Naira. "Tidak perlu, Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh, tidak usah repot-repot." Ben tersenyum lebar menatap Naira. "Untuk Narendra saya suka di repotkan, pergilah biar ini menjadi urusanku." Naira menatap tajam Ben karena tidak suka. "Tidak perlu, biar aku siapkan saja pada suamiku." Ben kembali mengambil meja makan itu dari tangan Naira lalu menatap Ben. "Ben, bukankah makan dan membahas masa lalu akan semakin nikmat, bagaimana menurutmu?" Narendra tersenyum mengangguk senang. "Itu pilihan tepat." Ben mengambil alih meja makan itu membuat Naira mengepalkan tangannya. "Naira, bisa tinggalkan kami dulu, aku ingin bicara banyak hal dengan Ben." Naira meremas bajunya menatap Narendra. Percuma saja dia melarang Ben masuk tanpanya jika ia harus keluar juga dari ruangan ini. "Tapi kamu belum makan makananmu sayang." Ben tersenyum miring mendnegar kekhawatiran Naira. "Aku akan membereskannya, kamu tidak perlu khawatir." Ben menatap Naira dengan tatapan kemenangan. "O-Oke, aku keluar bentar, nanti aku balik lagi." Narendra mengangguk pelan menyetujui. Naira mengambil tasnya dengan kesal menatap Ben yang tersenyum picik padanya. Naira menutup pintu ruangan dengan kesal. Ia tidak tenang dan ingin tahu apa yang mereka bahas, tujuannya menghalangi Ben karena ingin tahu apa yang Narendra bicarakan pada Ben, tapi Ben dengan mudahnya mengusirnya secara halus. Naira memejamkan matanya mengepalkan tangannya marah. "Ben sialan!" umpat Naira lalu menjauhi ruangan Narendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN