Laura berhenti di tempat parkir khusus karyawan rumah sakit. Ia melepas helmnya sedikit merapikan rambutnya dari spion motor. Ia melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan pakaian biasa karena bukan jam tugasnya. Laura masuk ke dalam lift menuju lantai VIP. Suster Nita pasti ada di sana. Laura keluar dari lift dan berpasan dengan Rian yang baru saja dari ruangan Narendra.
"Eh, Laura." Laura menghentikan langkahnya saat Rian menegurnya.
"Oh hai, kamu sudah lebih baik?" Laura menatap Rian dari atas hingga ke bawah karena sudah berjalan tanpa kursi roda.
"Alhamdulillah, besok sudah bisa pulang." Laura tersenyum mengangguk.
"Syukurlah, kamu harus banyak istirahat." Rian mengangguk dan menatap Laura yang terlihat tanpa seragamnya.
"Kamu ... Mau kemana?" Laura tersadar jika ia kesana ada keperluan mendesak.
"Ah iya, saya mau bertemu suster disini." Rian menganggukkan kepalanya mengerti.
"Buru-buru?" Laura menautkan alisnya berpikir.
"Ya bisa di bilang begitu."
"Ehmm, bicara sebentar bisa?" Laura mengerutkan dahinya menatap Rian.
"Gak lama?" Rian menggeleng cepat.
"Enggak, sebentar aja, ayo kesana." ajak Rian kearah ruangan terbuka di lantai tersebut dan ada kursi disana. Laura mengikuti Rian yang mengajaknya duduk di sana.
"Mau bicara apa?"
"Begini, aku tadi baru saja kembali dari ruangan Pak Narendra, dia bilang sama aku kalau ingin bertemu denganmu." Laura sedikit terkejut mendengar kabar itu.
"Ada perlu apa?"
"Aku juga gak tahu, tapi katanya ada yang ingin di bicarakan." Laura terdiam merenung, ia teringat ucapan suster Nita yang melarangnya ke ruangan Narendra.
"T-tapi, kayanya aku gak bisa menemuinya." Rian sedikit terkejut menatap Laura.
"Benarkah? Kamu sedang bekerja?" Laura menghela napasnya panjang menatap Rian.
"Bukan, Bukan gitu maksudnya, sebenarnya saya tidak bisa kesana." Rian mengerutkan dahinya menatap Laura.
"Maksudnya!" Laura membasahi bibirnya bingung harus bicara apa lagi.
"Saya di larang suster senior masuk ke area VVIP!" Rian menatap Laura berpikir lalu mengangguk paham.
"Oh begitu, tapi kalau yang minta Pak Narendra langsung itu kan hak pasien." Laura mengangguk tak yakin.
"Ahh, ya, mungkin bisa." ucap Laura menggaruk kepalanya bingung. Ia sengaja menutupi semua yang Naira lakukan padanya.
"Ya sudah, nanti kamu kesana bersamaku saja, aku yang bantu kamu kesana sebelum balik." Laura mengerjabkan matanya menatap Rian.
"Ah iya, sekarang kamu perlu istirahat, jangan sering kena angin kamu belum sembuh total." Rian tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih sudah perhatian kepadaku." Laura mengangguk kaku merasa kikuk. Dari kejauhan dokter Reynan kebetulan baru saja selesai memeriksa pasiennya. Ia menatap Laura yang ada di rumah sakit di saat bukan jam kerjanya. Ia tersenyum pada pasien muda tersebut. Reynan mendengkus melihatnya.
"Apa gosip itu benar?" gumam Rey pelan saat menatap kearah Laura.
"Kenapa Dok?" Sarah yang berdiri di sampingnya menatap kearah Reynan karena mendengar dokter tersebut bicara.
"Tidak." jawab Reynan cepat membuat Sarah bingung lalu mengikuti tatapan Rey kearah Laura dan pasien muda di sana. Sarah tersenyum miring menatapnya lalu mengejar rombongan suster lainnya yang mengikuti Reynan berjalan.
Laura dan Rian masih terdiam karena Laura terdengar perhatian.
"Oh iya, katanya kamu mau menemui Suster disini?" Laura memejamkan matanya teringat tujuannya ke rumah sakit.
"Oh iya, kamu benar, aku mau kesana dulu." Laura tampak gugup berdiri sedikit menunduk permisi.
"Ah iya." Laura berbalik dan berjalan menggelengkan kepalanya mengingat gosip yang beredar. Ia menatap sekelilingnya dan benar saja para suster disana tampak memperhatikannya.
"Akkh, yang benar saja." gumam Laura tapi ia berhenti sejenak berpikir. Ia mengambil kancing yang ia bawa lalu menatap kearah Rian. Ia memutar arah dan kembali mendekati Rian. Rian menautkan alisnya menatap Laura kembali kearahnya.
"Ada apa?" tanya Rian saat Laura kembali padanya. Laura kembali duduk di samping Rian.
"Kamu tahu ini apa?" Rian menatap kancing berbentuk bulat besar di telapak tangan Laura.
"Itu kancing." Laura mengangguk cepat.
"Kamu tahu ini milik siapa?" Rian menggeleng cepat.
"Tidak, itu punya siapa?" tanya Rian dengan tatapan bingung.
"Kamu tidak tahu?" Rian menatap Laura aneh.
"Tentu saja tidak!" Laura memalingkan wajahnya berpikir.
"Bukankah ini punya atasan kamu, Pak Narendra?" Rian menatap Laura bingung.
"Kenapa kamu bisa bilang itu punya Pak Narendra?" Laura menarik napasnya dalam menatap Rian.
"Ini aku temukan di dalam genggaman Pak Narendra saat kami menolongnya di ruangan UGD!" Rian mengerutkan dahinya lalu mengambil kancing yang memiliki motif di bagian atasnya.
"Di genggaman Pak Narendra?" tanya Rian lagi memastikan.
"Iya, untuk apa aku berbohong, karena kancing ini terbawa aku, aku kesini mau kasih kancing ini dengan suster senior di sini, mungkin aku termasuk pegawai yang teledor. Maaf!" ucap Laura tampak murung.
"Tunggu dulu, aku belum mengerti dengan semua ini." Laura menatap Rian bingung.
"Kenapa belum mengerti?"
"Ini kamu temukan di dalam genggaman Pak Narendra?" Laura mengangguk perlahan.
"Iya!"
"Bagaimana bisa?" Laura mengerutkan dahinya bingung.
"Aku tidak tahu, kami hanya membersihkan pasien yang baru saja tiba, kalau soal itu saya tidak tahu." Rian terdiam berpikir.
"Coba lihat, menurutmu kancing pakaian apa yang bisa sebesar ini?" Laura mengerutkan dahinya berpikir.
"Kancing celana jeans?" Rian menggeleng cepat.
"Tapi Pak Narendra tidak menggunakan jeans saat kecelakaan." Laura mengangguk paham.
"Ah iya, benar juga."
"Sepertinya juga bukan kancing baju, ini bukan milik Pak Narendra." Laura menautkan alisnya menatap Rian.
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?"
"Pak Narendra menggunakan kemeja dan jas kerja saat kembali dari luar kota." Laura mengangguk cepat menyadari hal itu. Ia juga ingat saat Narendra tiba di rumah sakit.
"Ah iya, kamu benar!" Laura ikut berpikir di sana.
"Apa ada orang lain saat kami disana." gumam Rian berpikir mencoba mengingat kejadian kecelakaan itu.
"Bisa jadi!" jawab Laura membuat Rian mendesah lelah.
"Aku tidak ingat apapun, aku sudah pingsan saat mobil berguling di sana." ucap Rian tampak kesal.
"Sudahlah itu bukan kesalahanmu!" ucap Laura membuat Rian menatapnya.
"Ya, kamu benar." Rian mengeluarkan ponsel di sakunya lalu memotret kancing itu beberapa kali dari berbagai sisi.
"Simpanlah, besok kita tunjukkan pada Pak Narendra." Laura mengerjabkan matanya bingung.
"Maksudnya?"
"Simpan saja padamu, besok kita bertemu lagi, mungkin Pak Narendra mengingat sesuatu jika melihat kancing itu." Laura mengerutkan dahinya lalu mengangguk pelan.
"Oh ya, benar juga, dia butuh sesuatu untuk mengingat hal yang ia lupakan." Rian mengangguk tersenyum.
"Kembalilah, kamu tidak bekerja hari ini kan?" Rian berdiri menatap Laura.
"Oh, iya, hari ini memang aku belum masuk shifku." Rian mengangguk paham.
"Ya sudah, kamu kembali saja, bagaimana jika kita temui Pak Narendra saat kamu masuk shif nanti." Laura tampak berpikir.
"Apa kamu tidak merasa lelah?"
"Aku sudah sehat, aku juga tidak enak kalau harus berbaring saja di kasur. Bagaimana?" Laura menarik napasnya panjang.
"Baiklah, terserah kamu saja, aku akan tiba lebih awal agar tidak terburu-buru saat jam pergantian." Rian mengangguk mengerti.
"Oke, kamu bisa temui aku nanti." Laura mengangguk dan ikut berdiri.
"Baiklah." Rian berjalan menjauhi Laura yang masih berdiri disana. Laura menatap kancing di telapak tangannya lalu kembali memasukkannya ke dalam tasnya. Ia melangkah kembali keluar dari rumah sakit, sepertinya Rian ada benarnya. Kancing ini bisa membantu Narendra mengingat sesuatu.