Ben dan Narendra masih terdiam di ruangan itu saat Naira sudah keluar dari ruangannya. Ben menarik kursinya mendekati Narendra yang terlihat benar-benar tidak baik. Pria itu masih terbalut perban di bagian kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ben membuat Narendra tersenyum.
"Sudah lebih baik." Ben menggeleng pelan.
"Aku rasa tidak, kau terlihat tidak baik-baik saja, kau lemah." Narendra memejamkan matanya tersenyum.
"Kali ini mungkin kamu bisa mengalahkan ku." Ben menghela napasnya menatap Narendra sedih tapi bibirnya tersenyum.
"Bagaimana hubunganmu dengan istrimu? Terakhir yang aku dengar kamu dan dia sudah lama tidak akur." Narendra terdiam berpikir menatap Ben.
"Kapan aku mengatakan itu?" Ben menaikkan alisnya menatap Narendra.
"Kamu tidak ingat?" Narendra tersenyum menunjuk perban yang membalut kepalanya.
"Oh ya, kamu terluka." jawab Ben cepat.
"Ada beberapa hal yang mungkin aku lupakan." Ben mengangguk mengerti.
"Jadi kenapa kamu menyuruh seorang suster menghubungiku?" Narendra terdiam menatap Ben di hadapannya. Ia menggeleng pelan ia juga tidak mengerti.
"Aku membutuhkanmu!" Ben tersenyum sombong.
"Kenapa harus seorang suster yg menghubungiku, kamu tidak mempercayai orang lain?" Narendra menghela napasnya tersenyum.
"Hanya dia yang ada saat itu." Ben menghela napasnya kasar.
"Kamu bicara padanya karena tidak ada orang lain?" Narendra mengangguk.
"Kenapa tidak istrimu?" Narendra menatap Ben kesal.
"Aku tidak yakin padanya." Ben tersenyum menautkan kedua tangannya lalu bertengger di pinggir ranjang.
"Lalu apa yang ingin kamu mau aku lakukan, aku tahu kamu memanggilku datang pasti ada sesuatu?" Narendra mengangguk pelan.
"Seseorang berusaha membunuhku." Ben membelalak terkejut menatap kearah Narendra.
"Kamu yakin?"
"Ya." Ben mengerutkan dahinya menatap Narendra dengan tatapan tak percaya.
"Kamu punya musuh?" Narendra terdiam memikirkan kemungkinan yang terjadi. Tapi kepalanya sakit ketika ia mulai berpikir keras.
"Entahlah aku tidak pernah punya masalah dengan seseorang." Ben menautkan alisnya berpikir.
"Lalu kenapa mereka mencoba membunuhmu? Pembunuhan tidak bisa asal begitu saja, mereka memiliki alasan untuk melakukannya." Narendra mengerti tapi ia tidak menemukan apa penyebabnya mereka mencoba membunuhnya.
"Aku juga bingung." Ben menghela napasnya panjang.
"Begini saja, kamu harus istirahat dengan tenang, pulihkan tubuhmu secepat mungkin. Aku akan bantu kamu menemukan teka-teki ini. Kamu punya gambaran tentang siapa yang mencoba melukaimu?" Narendra terdiam berpikir.
"Aku mengingat keduanya, saat kecelakaan dan di rumah sakit. Mereka orang yang berbeda." Ben menatap Narendra terkejut kembali, ia tidak menyangka pembunuhan ini bahkan di rumah sakit.
"Di rumah sakit?"
"Ya."
"Wah gila, kamu harus memiliki keamanan disini, bagaimna bisa kamu hanya sendiri disini tanpa ada yang menjagamu." Narendra menghela napasnya.
"Ya kamu benar, tapi aku belum membicarakan ini pada Naira." Ben menghela napasnya kasar mendengar semua ini.
"Bagaimana tanggapan istrimu saat seseorang berusaha melukaimu di rumah sakit?" Narendra menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu, saat itu aku baru sadar dan menemukan seseorang mencoba melukaiku, tapi setelahnya aku kembali tidak sadarkan diri." Ben berdecak kesal.
"Kamu belum bicara padanya setelah sadar?" Narendra terdiam cukup lama, ia membayangkan hubungannya tidak sedekat itu, Naira terkesan tidak perduli selama ini. Meski Narendra lupa tapi ia ingat sisi dimana ia dan Naira memiliki jarak sebagai suami istri dan merasa tidak nyaman meski Naira terlihat menunjukkan sikap baik padanya.
"Kami jarang berbicara." Ben menghela napasnya mengerti.
"Bagaimana putramu? Dia pasti sudah tinggi sepertimu?" Narendra tersenyum membayangkan putra semata wayangnya.
"Dia tampan seperti ..." ucapannya menggantung dan Narendra memegang kepalanya membuat Ben berdiri mendekati Narendra.
"Ada apa? Kamu kesakitan?" Narendra memejamkan matanya memegang kepalanya yang terus berdenyut nyeri.
"B-bisa panggilkan suster." Ben langsung bergerak menekan tombol di ruangan itu dan beberapa menit kemudian suster masuk ke dalam ruangan Narendra.
"Maaf Pak, bisa keluar sebentar." Narendra terlihat memejamkan matanya sejak tadi membuat Ben mengerti dan menuruti apa yang suster itu katakan. Ben keluar dari ruangan Narendra lalu berdiri di depan pintu tersebut. Naira sedikit berlari mendekat ke ruangan Narendra.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Ben menoleh saat Naira bicara padanya.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi pada suamimu?" Naira mengerutkan dahinya menatap Ben.
"Tentu saja, kenapa kamu bertanya begitu?" Ben tersenyum menatap Naira.
"Bagaimana dia bisa kecelakaan?" Naira membasahi bibirnya menatap Ben.
"Itu takdir, bagaimana mungkin aku tahu dia akan kecelakaan di perjalanannya. Pertanyaan kamu aneh." Ben menatap Naira serius membuat Naira memalingkan wajahnya.
"Kamu tahu ada yang mencoba membunuhnya?"
"A-apa?"
"Kamu tidak tahu?" tanya Ben menuntut.
"T-tentu saja aku tahu, pihak rumah sakit sudah bicara padaku." jawab Naira sedikit gugup.
"Tapi pembunuhan itu terjadi tidak hanya di rumah sakit!" Naira mengerjabkan matanya menatap Ben.
"Apa yang kamu katakan!"
"Seseorang berusaha membunuhnya! Apa itu kurang jelas?" Naira menghela napasnya kasar menatap Ben.
"Ya, aku tahu!"
"Kalau kamu tahu kenapa kamu tidak memberikan penjagaan khusus untuknya? Kamu mau pembunuh itu datang lagi?" Naira menatap kesal kearah Ben.
"Maksud kamu?"
"Kamu membiarkan pembunuh itu begitu saja, Narendra selalu sendiri di ruangannya, aku khawatir pembunuh itu akan datang lagi." Naira menghela napasnya kasar melipat kedua lengannya di d**a.
"Kenapa kamu suka sekali ikut campur?" Ben tersenyum mendekati Naira.
"Kamu pikir kenapa aku disini?" Naira mendesis kesal.
"Kamu pikir kamu bisa melakukan apapun sesuka kamu." Ben tersenyum miring.
"Kita lihat saja nanti, aku akan keluar sebentar, kamu jangan tinggalkan Narendra disini sendiri!" Ben berjalan meninggalkan Naira disana. Ben hanya ingin mencari udara segar saat ini. Ia harus memikirkan kedepannya bagaimana keadaan Narendra seharusnya. Naira menatap marah kearah Ben yang bertingkah sesukanya.
"Kamu pikir kamu bisa sesukamu, tidak akan aku biarkan." gumam Naira menatap Ben yang menjauhinya.
*
Laura memarkirkan motornya di teras rumah lalu membuka helmnya. Ia duduk disana beristirahat sejenak. Memikirkan ucapan Rian tadi membuat pikirannya kemana-mana.
"Kamu sudah kembali, gimana?" Laura menoleh menatap Nara yang berdiri di depan pintu.
"Sudah, panas banget." Nara mengangguk dan ikut duduk di samping Laura.
"Gimana sama barang pasien itu, suster Nita marah?" Laura menatap Nara cukup lama lalu menggeleng.
"Aku gak jadi ketemu suster Nita." Nara mengerutkan dahinya menatap Laura.
"Terus, gimana sama barang itu?" Laura bangkit membuat Nara tampak melongo karena diabaikan begitu saja.
"Laura!"
"Aku mau tidur ngantuk!" ucap Laura berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Nara.
"Laura ih, kenapa kamu gak jumpa sama Suster Nita? Ada apa?" Laura berbalik di depan pintu kamarnya.
"Ada hal yang lebih penting!" Nara mengerutkan dahinya menatap Laura bingung.
"Apa?"
"Nanti aku cerita kalau udah waktunya." Nara menatap kesal kearah Laura dan mengikuti Laura hingga ke kamarnya.
"Kenapa sih? Kamu bikin aku penasaran tau gak!" Laura melepas jaketnya lalu membanting tubuhnya di ranjang.
"Barangnya mau di kembalikan langsung sama pasien." Nara yang sudah ikut duduk di sana menaikkan alisnya berpikir.
"Oh gitu, tinggal bilang aja susah banget, bikin penasaran aja!" Laura melirik Nara yang tampak santai seketika.
"Nanti aku pergi dulu ya, kamu naik ojek aja." Nara menatap cepat kearah Laura.
"Kenapa?"
"Aku ada keperluan dan harus pergi cepat." Nara mendesis kesal kearah Laura.
"Ya udah aku ikut cepat juga gak apa-apa." Laura menggeleng cepat.
"Enggak-enggak, kamu lama, nanti aku keburu gak sempat." Nara menaikkan sudut bibirnya kesal.
"Ya udah sih, aku bisa kok cepet, aku sama kamu aja." Laura memejamkan matanya tidak mendengarkan.
"Udah sana, aku mau tidur, ngantuk!" usir Laura membuat Nara berdiri dan menatapnya sinis.
"Awas aja kalau aku di tinggalin." ancam Nara sebelum keluar dari kamar Laura. Laura menatap Nara yang keluar dari kamarnya dengan kaki di hentak-hentakkan.