Jangan Panggil Pak!

1854 Kata
Laura tersentak dengan bunyi alarm ponselnya. Ia mengambil ponselnya dan terkejut saat alarmnya sudah lewat beberapa kali dari waktu yang ia sematkan. Laura langsung terduduk memegang kepalanya benar-benar lelah karena kurang tidur membuatnya langsung tak sadar saat Nara keluar dari kamarnya. "Haisss, sudah hampir jam tiga sore lagi!" Laura mengambil handuk dan berlari kecil ke kamar mandi dan menggosok giginya lalu mencuci mukanya. Sepertinya tidak sempat jika ia harus mandi lagi. Laura keluar dari kamar mandi dan berjalan cepat masuk ke kamar menyiapkan bawaannya, ia memasukkan seragam susternya, barang-barang pribadinya dan dompet, lalu mengambil jaketnya bersiap untuk pergi. Laura berhenti di depan pintu Nara mengangkat tangannya menggantung. Ia menautkan alisnya berpikir. "Pasti nih anak lagi tidur, ahh tinggalin aja lah waktu gue mepet banget." bisik Laura dan berjalan pelan melewati kamar Nara. Ia menutup pintu dengan pelan dan langsung menghidupkan motornya meninggalkan pekarangan rumah. Laura tiba di rumah sakit dan langsung memarkirkan motornya. Ia melirik jam dan waktunya lumayan cukup. Laura langsung berlalu menuju ruangan Rian setelah menyimpan barang-barang bawaannya. Laura mengetuk pintu ruangan Rian lalu masuk ke dalam. Rian tersenyum menyambutnya sudah ada disana. "Sudah datang?" Laura mengangguk cepat. "Kamu sendiri?" "Ibu lagi ambil obat." Laura mengangguk mengerti. "Kita mau nunggu ibu kamu?" tanya Laura membuat Rian menggeleng. "Ayo, kita pergi sekarang saja, aku tadi sudah pamit Ibu kalau mau pergi melihat Pak Narendra." Laura mengangguk lega karena ia juga tidak bisa lama-lama. "Oh baiklah, ayo." ajak Laura kembali membuka pintu ruangan Rian. Mereka berjalan keluar menuju lift ke lantai VVIP. "Kamu masuk jam berapa?" Laura menoleh kearah Rian yang bertanya padanya. "Aku? Oh ya pergantian shif jam lima sore." jawab Laura cepat. Rian tersenyum mendengarnya dan kembali menatap lift yang terus bergerak naik. Keduanya tiba di lantai VVIP dan berjalan mendekati ruangan Narendra. Saat keduanya melewati stand jaga salah satu suster melihat kearah mereka dan berdiri memanggil Laura. "Suster Laura!" Laura yang sejak tadi sudah gugup berada di sana seketika berhenti dan berbalik arah. "Ya!" jawab Laura cepat dan satu suster mendekati mereka. Rian ikut berhenti menatap Laura. "Suster Laura kan?" tanya Suster tersebut memastikan karena Laura tidak menggunakan baju seragamnya. "I-iya." Suster itu melirik kearah Rian lalu melirik Laura kembali. "Bisa bicara sebentar Sus," Laura melirik Rian membuat Rian tersenyum. "Pergilah, aku tunggu di ruangan Pak Narendra." Laura menghela napasnya berat karena Rian tidak mengerti arti tatapannya. Rian berjalan meninggalkan Laura sementara Laura menatapnya nelangsa. Laura berjalan mengikuti suster tersebut dan berhenti di stand perawat menatap dua perawat jaga disana. "Kamu mau ke ruangan Pak Narendra?" Laura membasahi bibirnya menatap keduanya. "Suster, saya mohon maaf, sebenarnya pasien itu, ehmm... Asisten Pak Narendra yang mengajak saya kesini, saya tahu saya tidak boleh ada disini, tapi dia ..." "Suster Laura, tolong mengerti keadaan kami yang bekerja disini, kalau Suster terus begini kami bisa kena tegur, karena pihak keluarga sendiri yang meminta agar suster Laura tidak mengunjungi ruangan suaminya." Laura menunduk menghela napasnya lesu. "Iya, maaf Suster." "Kalau sampai istrinya tahu Suster Laura akan masuk kami harus bagaimana? Kami tidak mau mereka mengadu kepada pihak manajemen kalau kami bekerja tidak baik disini." Laura menghela napasnya lelah. "Maaf." "Kami tidak ingin bicara keras pada Suster, tapi kami mohon suster mengerti keadaan kami." Laura mengangguk paham. "Ya, baiklah." jawab Laura pelan. "Sekarang, kembalilah." ucap salah satu suster disana menyuruh Laura kembali. "Tapi Sus.." "Suster Laura tolong mengerti kami, jika tidak ada keperluan penting lebih baik Suster Laura pergi saja." Laura menatap keduanya dan menghela napasnya berat. "Baiklah." Laura tersenyum dan berbalik arah menatap lorong kearah Rian pergi. "Kamu mau kemana?" Laura menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang bertanya. Laura mengangkat wajahnya dan terdiam mengerutkan dahinya menatap pria dengan sekantong kresek di tangannya. Tersenyum kearahnya. "Kamu suster Laura?" Laura mengerjabkan matanya menatap pria tersebut. "Aku?" "Ya kamu." Laura menatap sekelilingnya dan dua suster itu juga menatapnya. "Ahh iya, saya suster Laura." Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Perkenalkan saya, Ben!" Laura menutup mulutnya terkejut menatap kearah Ben. Pria yang ia telepon beberapa hari yang lalu. "Pak Ben?" Ben tersenyum melirik tangannya yang pegal. Laura langsung menyambut uluran tangan Ben. "Ah ya, saya Laura Pak." Ben berdecak mendengar Laura bicara begitu. "Jangan panggil Pak, apa aku setua itu harus di panggil Pak?" Laura mengerjabkan matanya bingung. "Ehmm, jadi harus sebut apa?" Ben mengedipkan matanya menatap Laura. "Terserah, Ben saja juga tidak masalah." Laura menutup mulutnya menatap Ben. "Tapi .." "Ayo ikut saya." Laura memutar tubuhnya menatap Ben yang berjalan melewatinya. "T-Tapi, saya." Laura tidak mengikutinya membuat Ben berhenti dan berbalik menatapnya kembali. "Kenapa?" Laura melirik dia perawat di sana membuat Ben mengangguk mengerti. "Biarkan dia masuk, aku yang akan bicara pada istri Narendra." ucap Ben pada dua perawat disana. Laura mengerjabkan matanya tersenyum canggung pada dua perawat disana. Ia langsung melangkah mengikuti Ben yang bisa di bilang lebih muda dari yang Laura bayangkan. Ben berdiri di depan pintu ruangan Narendra lalu menatap Laura. "Narendra baru saja mengalami syok dan mungkin dokter melarang kita masuk terlalu banyak, kamu tunggu disini dulu ya." Laura mengangguk dan Ben masuk ke dalam ruangan itu. Rian menatap Ben yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Naira menatap malas kearah Ben dan langsung mendekati suaminya. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Ben sembari meletakkan bawaannya di atas meja. "Dia perlu banyak istirahat dan kurangi pengunjung." Ben mengangguk mengerti. "Siapa dia?" Ben bertanya keberadaan Rian yang ada disana. "Dia asistenku!" Ben mengerutkan dahinya menatap Rian. Rian tersenyum dan menunduk menyapa. "Oh, begitu." "Saya Rian, Pak." Ben memicingkan matanya mendengar panggilan itu lagi. "Apa aku setua itu? Panggil Sir saja." ucap Ben membuat Narendra yang sudah berbaring menahan senyumnya. "Dia temanku, Ben." Ucap Narendra pelan pada Rian. Rian langsung menatap kearah pria yang menggunakan setelan santai seperti pria dewasa pada umumnya. "Oh ini Pak Ben, eh maksud saya Sir Ben." Ben mengangguk tersenyum. "Ya, Rian, apakah suster diluar datang bersamamu?" Rian langsung berdiri terkejut mengingat Laura belum juga masuk. "Oh ya, suster Laura, dia memang bersamaku." Ben mengangguk anggukkan kepalanya. "Bisakah kamu tinggalkan kami berdua?" Rian menatap Ben dan Narendra. Narendra menatap Rian mengangguk mengiyakan ucapan Ben. "Oh baiklah." Rian langsung menggeret tiang infusnya berjalan keluar. Naira tampak masih disana membuat Ben menghela napasnya kesal. "Berdua!" ucap Ben lagi membuat Rian yang hendak membuka pintu menatap kearah Naira. "Kamu tidak berhak mengusirku!" Ben berdiri dari duduknya menatap Naira. "Jangan mendebatku, kamu bilang Narendra harus banyak istirahat, bisakah berikan dia waktu?" Naira menatap kesal kearah Ben lalu menatap Narendra. "Pergilah." mengambil tasnya setelah Narendra menyuruhnya pergi. Rian yang masih disana tampak terkejut melihat suasana antara Ben dan istri bosnya. "Rian, suruh suster itu masuk." ucap Ben sebelum Rian keluar. "Baik, Sir." Naira langsung berhenti di depan Ben menatapnya marah. "Kenapa kamu membawa Suster itu lagi?" Ben menatap Naira santai. "Narendra yang menyuruhnya, kenapa kamu marah padaku." Naira terkejut mendengarnya lalu menatap Narendra. Naira mengepalkan tangannya dan berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Naira berhenti saat Laura berdiri di luar ruangan tersebut. "Dasar jalang murahan!" desis Naira lalu menubruk pundak Laura berjalan cepat meninggalkan Laura disana. Rian segera mendekati Laura dan memegang gadis tersebut. "Kamu gak apa-apa?" Laura menggeleng pelan. "Kenapa dengan Ibu Naira?" Laura menatap Rian dengan tatapan kesal. "Kenapa kamu jadi pria terlalu polos, dia marah padaku karena aku menghubungi Pak Ben, dia bahkan melarangku menemui Pak Narendra. Kamu juga tidak paham dengan situasi ini? Dia tidak suka dengan Pak Ben, dia juga tidak begitu perduli pada suaminya. Bagaimana kamu bisa menjadi asisten Pak Narendra." Rian mengerjabkan matanya menatap Laura yang terlihat marah. "A-aku ..." Laura menyingkirkan Rian lalu masuk ke dalam ruangan Narendra. Rian berdiri mematung disana, sepertinya dia memang terlalu positif menilai semua orang sampai tidak memahami keadaan ini. Laura masuk dengan wajah kesal dan menatap dua pria dewasa dengan berbeda versi. Satu versi matang dan kalem dan yang satu versi sexy. "P-Pak, anda memanggil saya?" Ben menatap Laura lalu melirik Narendra. Narendra hanya diam sementara Ben duduk di sofa sedang menikmati makanan yang ia bawa tadi. Ben menggerakkan kepalanya kearah Narendra dengan tatapan kearah Laura. Laura mengerti maksud Ben dan langsung mendekati Narendra. "Ada yang bisa saya bantu Pak, Rian bilang Bapak ingin menemui saya." Narendra menatap Laura cukup lama tanpa bersuara membuat Laura canggung berada di sana. "Pak." "Terima kasih, sudah membantu saya." Laura menghela napasnya tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih, Pak. Saya ikhlas membantu Bapak karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya." Narendra mengangguk tersenyum. "Saya berhutang banyak padamu." Laura tersenyum menggeleng. "Tidak Pak, saya tidak melakukan apapun. Jangan menganggap berhutang pada saya, saya hanya bekerja disini." Ben bangkit dari duduknya mendekati Narendra. "Begini saja, kamu kasih cek saja ke dia. dari pada kamu merasa punya hutang, lebih baik di lunasi saja. Suster, katakan berapa harus kami bayar?" Laura mengerjabkan matanya menatap Ben yang berdiri di hadapannya. "Enggak, enggak perlu bayar apapun. Kalau Bapak hanya ingin berterima kasih, saya tidak masalah, saya terima ucapan terimah kasihnya, tidak perlu membayar saya." Ben menatap Narendra lalu Narendra menatap kearah Ben. Laura melihat ekspresi kedua pria tersebut dan membuatnya bingung. "Baiklah kalau begitu, karena sudah menjaga teman saya, sebelum saya tiba, saya akan beri kamu cukup uang sebagai tanda terima kasih." Laura mengerjabkan matanya menggerakkan tangannya cepat kearah Narendra. "Pak, tapi .." "Terima saja." ucap Narendra pelan, Laura menghela napasnya lalu teringat tujuan dia kesana untuk membahas kancing yang ia temukan. "Oh iya, ada yang ingin saya tunjukkan." Ben dan Narendra seketika menatap Laura bersamaan. "Ada apa?" Laura merogoh sakunya dan mengeluarkan kancing yang ia bawa bersama Rian tadi. "Pak, saya menemukan ini saat Bapak pertama kali tiba di IGD!" Ben mendekati Laura dan mengambil kancing itu. Ben mendekatkan kancing itu pada Narendra. "Dimana kamu menemukan ini?" Laura menatap kedua pria itu. "Dalam genggaman Bapak." Narendra menatap Laura terkejut begitu juga Ben. "Dalam genggaman?" tanya Ben terkejut. "Ya." "Ini milikmu?" Narendra menatap kancing besar dengan motif di bagian atasnya. "Tidak, kancing apa sebesar ini?" jawab Narendra bingung. Ben mengambilnya dan menatap kancing tersebut dengan seksama. "Ini bukan kancing baju." ucap Ben menatap kancing tersebut. "Bapak tahu itu kancing apa?" Ben menatap Laura kesal karena panggilannya. Laura menutup mulutnya karena keceplosan. "Sepertinya kancing blazer atau mantel." ucap Ben membuat Laura mengangguk, Rian juga mengatakan itu. "Sepertinya ya, Rian juga mengatakan itu kancing mantel." Ben mendekati Narendra dan bertanya. "Kamu ingat sesuatu?" Narendra menatap kancing itu dan mencoba mengingat sesuatu. Ia ingat sekali saat itu ada seorang pria memukulnya di bagian kepala tapi ia tidak bisa mengingat wajahnya. Laura menatap Narendra yang tampak memejamkan matanya. Narendra memegang kepalanya yang kembali nyeri. "Pak, jangan di paksa, sudah biarkan anda pilih dulu." Ben langsung mengantongi kancing itu dan mendekati Narendra. "Hey, sudahlah jangan diingat lagi, kamu harus sehat dulu, biarkan ini jadi urusanku." Laura berdiri dan membungkuk di samping Narendra tanpa sadar memegang lengan Narendra mencoba mengontrol keadaan pria itu. "Pak atur napas pelan, tarik napasnya keluarkan perlahan, buang semua pikiran itu, sekarang buka matanya lihatlah kami pelan, jangan pikirkan apapun saat ini." Narendra mencoba membuka matanya mengatur napasnya yang terengah dan menatap wajah Laura dan Ben disana. "Sudah? Istirahatlah." Ben menjauhi Narendra karena merasa kuatir dengan kesehatan temannya. Narendra menatap kearah Laura. Laura masih membungkuk di sampingnya dan tersadar saat Narendra menggerakkan tangannya. Laura langsung berdiri melepas sentuhannya dengan wajah gugup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN