Bab 21 : Kebetulan yang Sialan

1607 Kata

Blazzer semakin aku eratkan di tubuh demi bisa mengusir dingin. Revan berkendara kian jauh dari keramaian penduduk, yang semakin lama semakin sepi. "Kita mau ke mana sebenarnya, Van?" Aku berujar malas. Sembari menaikkan jendela mobil agar menghalangi udara masuk. Lalu mengecek ponsel guna melirik jam. "Udah hampir tiga jam-an ini. Mau ke luar kota, kamu?" Namun, pria ini seperti tuli. Atau mungkin kehabisan tenaga setelah berkendara beberapa jam, sehingga ia hanya bisa berada dalam mode bisu. Aku sendiri, karena diabaikan, memilih mengabaikan Revan juga dengan mengalihkan pandangan ke luar jendela. Seharusnya aku sibuk bermanja santui di kamar malam ini. Sambilin belajar make up, atau menonton tutorial memasak. Syukur-syukur bisa lanjut cerita yang sedang buntu. Namun, lagi ... pria

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN