Entah terhitung sudah berapa kali, aku mencoba memberitahu Revan apa yang aku dengar malam itu. Namun, aku lebih sering diinterupsi oleh Revan yang menelepon Adelia, atau kesibukan pria itu sendiri. Memancingku dengan mudah untuk merasa suntuk, kemudian melupakan niatan baik tadi. Seolah Tuhan melarangku untuk memberitahu pria ini, sebagai karma atas sikapnya padaku. Namun, di sisi lain, aku juga akan merasa menang jika melihat mereka bertengkar. Bwahaha! Jahat memang. Aku langsung membekap mulut, ketika tatapan Revan beralih padaku, karena sudah kelepasan tersenyum lebar. Sikap segera aku perbaiki, ketika menyadari bahwa ada kerutan bingung di kening Revan. Aku menunjuk tugasnya, sebagai isyarat agar pria itu tidak perlu memedulikanku yang terlalu santai duduk di kursi kerjanya, deng

