64 Pagi menyapa dengan suara obrolan beberapa orang di dekat ranjang. Aku membuka mata dan melihat seorang perawat tengah mengecek infus dan menanyakan kondisiku pada Teh Arina. Dokter pribadi yang tengah hamil besar itu sekali-sekali mengusap pinggang dan membuatku kasihan, mungkin dia kecapaian membawa drum band ke mana-mana. Tanpa sadar aku tersenyum ketika membayangkan bagaimana wajah keponakan pertama sekaligus cucu pertama dari dua keluarga besar. Kendatipun Teh Arina adalah anak kedua, tetapi karena dia satu-satunya anak perempuan yang sudah menikah, jadinya kedua orang tuanya pun sangat antusias menyambut sang cucu. "Senyum-senyum, girang banget kayaknya," ucap Teh Arina, sesaat setelah perawat pergi. "Badanmu mau dibersihkan nggak? Sekalian ganti baju," tawarnya yang seketika

