65 Sudut bibirku terangkat ketika melihat sosok perempuan yang melangkah memasuki ruangan bersama dengan Rahma. Isna menghampiri kedua orang tuanya terlebih dahulu, sebelum menyalami Mami dan Teh Arina, kemudian berpindah ke Pak Yogi dan Kak Eza. Senyumanku melebar kala Kak Eza mengusap kepala Isna saat gadis itu membungkuk, gerakan khas kakakku itu bila telah menyukai seseorang. Setelah obrolan basa basi bersama para orang tua, barulah Isna dan Rahma mendatangiku. Aku dan Isna bersalaman serta saling mengulum senyum, tak peduli Rahma melengos sambil bergumam tidak jelas. "Kalian kok cuma berdua?" tanyaku saat kedua gadis itu duduk di kursi tanpa sandaran di samping kiri. "Para cowok lagi lembur, sesuai permintaan Pak Rahim," jelas Isna. "Aisyah nanti nyusul barengan Pak Rahim, hab

