47 Pagi gerimis menjadi permulaan hari yang tidak terlalu bagus. Arman berulang kali menguap saat tengah memanaskan mesin mobil, hingga akhirnya Husni mendorongnya ke bagian penumpang dan memasuki bagian pengemudi. Mengambil alih tugas sopir, mungkin supaya kami tetap selamat dalam perjalanan dan tiba di tempat tujuan tanpa lecet sedikit pun. Aku sengaja duduk di kursi belakang agar bisa lebih santai. Bersama Isan, aku melakukan gaya yang sama yaitu manggut-manggut menahan kantuk sebelum akhirnya sukma bisa terlena. Kebiasaan anehku kembali datang, yaitu tidur tetapi tidak pulas. Mata menutup, tetapi telinga masih mendengar suara-suara di sekitar. Kala tubuh berguncang, aku membuka mata dan memandangi sekitar. Senyumanku melebar karena menyaksikan pemandangan alam yang indah dan masih

