48 Tepat seusai salat Asar, kami berangkat menuju rumah kebun milik Pak Yogi. Bi Nyai dan Mamang Idim melepas kami dengan doa-doa panjang, supaya rencana pengintaian pertama ini akan berlangsung lancar. Kali ini aku menumpang di mobil Heru. Duduk di kursi paling belakang sambil menyandarkan tubuh ke depan. Meniup leher Isna berulang kali, tak peduli dia akan menggerutu bahkan menjewer telingaku dengan gemas. Aku pun tidak menghiraukan tatapan tajam yang diarahkan Heru padaku melalui pantulan kaca kecil di bagian atas. Biarkan saja dia cemburu, siapa suruh bersaing denganku yang jelas lebih keren darinya. Ya, 'kan? Kala kami tiba di tempat tujuan, tampak beberapa orang pria tengah duduk di teras depan rumah bercat hijau muda itu. Mereka langsung berdiri kala Heru turun dan jalan meny

