55 "Is," panggilku. "Hmm," jawab gadis di seberang telepon. "Masih marah?" "Kenapa harus marah?" "Kamu cemburu, 'kan?" "Siapa bilang? Ge er pisan!" "Mulutmu memang tidak menyuarakan itu, tetapi tatapan matamu menusuk hingga relung hatiku." Suara tawa Arman terdengar dari belakang. Pria berkumis tipis itu terus saja tertawa, padahal aku sudah melemparkan pulpen ke arahnya. Menyebalkan! "Is, masih dengar 'kan?" tanyaku lagi karena sejak tadi dia hanya diam. "Is? Ngomong atuh," pintaku. "Ini udah ngomong." "Maksudnya bercanda lagi gitu, kayak biasa." "Aku capek, Kang. Mau tidur, ngantuk." "Ehh, bentar dulu. Ada yang mau kuomongin." "Ehm?" "Love you, Sweetheart." Tut, tut, tut. Bunyi khas sambungan telepon diputus secara sepihak terdengar nyaring di telinga kiri. Se

