Kunti Yang Manis

1349 Kata

56 Malam kian larut. Suara dengkuran teman-teman serumah sudah terdengar sejak beberapa belas menit lalu. Aku membalikkan tubuh dan memastikan Arman telah terlelap sebelum bangkit dan merapikan rambut. Aku berdiri dan jalan pelan, membuka pintu dengan hati-hati dan menutupnya nyaris tanpa suara agar pria berkumis tipis itu tidak terbangun. Sampai di depan kamar depan, aku mengetuk pintu beberapa kali sambil bergumam lagu balonku. Kala benda besar bercat cokelat itu terbuka, Ujang meletakkan jemari telunjuk ke bibirnya yang penuh, kemudian menunjuk ke luar rumah. Aku jalan terlebih dahulu, Ujang mengikuti. Tak berselang lama Husni pun keluar dan kami bertiga jongkok di depan pintu garasi, tempat paling jauh dari jendela kamar depan agar pembicaraan tidak terdengar Jaka dan Indra, walau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN