43 Kantor mendadak sepi ketika mobil yang kukenal sebagai milik Om Bayu itu berhenti di depan undakan teras. Kala para penumpangnya turun, aku mendadak tegang. Merasa takut bila kemiripan wajahku dan Papi akan terpampang nyata saat kami berdekatan. Kala melihat direktur operasional yang bernama Fauzan itu jalan berdampingan dengan Papi, aku menarik napas lega. Berdoa dalam hati agar beliau bisa diajak kerjasama berlakon sebagai ayah dan anak agar tidak menimbulkan pertanyaan yang lainnya. Aku menyenggol lengan Arman yang langsung menoleh, kemudian menggerakkan dagu ke arah Pak Wisnu, direktur keuangan pusat yang tengah berbincang dengan Pak Rahman yang bertugas sebagai penyambut tamu. "Jangan sampai salah orang," bisikku. "Yang kutakutkan itu justru papimu dan papaku yang lupa ber

