44 Ucapan Papi tadi itu masih terngiang-ngiang di telinga dan membuatku sulit untuk memejamkan mata. Sudah berapa kali aku mengubah posisi tubuh, dari telentang, miring kiri, tengkurap hingga menungging. Bukan kantuk yang menyapa, melainkan angin lembut beraroma busuk yang keluar dari lubang khusus, dan itu ikhlas kupersembahkan buat Arman yang tidur di samping kanan. Aku tidak tahu sudah berapa lama mencoba untuk tidur, tetapi karena gagal, akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan menonton film aksi Hollywood. Sengaja mengeraskan volume hingga akhirnya Arman terbangun dan menggerutu. "Fai, kecilin!" desis Arman. "Hmm?" tanyaku, makin berniat untuk mengerjainya. "Volumenya, kecilin. Aku mau tidur!" "Nggak seru kalau volumenya kecil." "Ngantuk yeuh!" "Udah, bangun aja. Temenin

