62 Bunyi berbagai alat penunjang kehidupan menjadi satu-satunya yang terdengar di ruangan ini. Aku masih berdiri di tempat semula ketika satu per satu sahabat keluar dan meninggalkan keluargaku yang masih tampak sangat terpukul. Isna, Rahma dan Aisyah masih duduk di sofa panjang. Ketiga gadis itu juga sekali-sekali mengusap mata dan hidung. Aku perhatikan wajah mereka yang tampak sedih, seperti halnya keluargaku. Tiba-tiba Papi berdiri dan jalan mendekati sofa. Beliau duduk di kursi tunggal yang berada di samping kanan sofa, tepat di sebelah Isna. Alisku terangkat ketika Papi terlihat mengajak Isna berbincang-bincang. Terdorong rasa penasaran aku mendekati mereka, nyaris tidak menyadari bila kakiku masih menapak di lantai dan bukan melayang. "Terima kasih telah membantu anak saya sel

